1.000 lebih anak difabel tidak sekolah
Jum'at, 09 November 2012 - 03:10 WIB
1.000 lebih anak difabel tidak sekolah
A
A
A
Sindonews.com – Forum Peduli Penyandang Cacat (FP2C) Ciamis mencatat lebih dari 1.000 anak penyandang cacat atau difabel yang tersebar di Kabupaten Ciamis tidak bisa mengenyam pendidikan formal atau putus sekolah.
Disamping itu, kondisi mereka dalam keadaan memprihatinkan karena tidak mendapatkan keterampilan khusus.
“Salah satu penyebabnya, karena keterbatasan jumlah sekolah dan tenaga pendidik,” terang Ketua FP2C Ciamis Kurs Laksanadikari di Ciamis, Kamis (08/11/2012).
Kurs mengharapkan, kondisi tersebut mendapatkan perhatian semua pihak termasuk pemerintah Kabupaten Ciamis. Pasalnya, akibat banyak anak difabel yang tidak pernah sekolah membuat kondisi mereka semakin terpuruk dan terasing dari lingkungan.
Kondisi lain, lanjut Kurs, selain akibat minimnya perhatian pemerintah, di lapangan masih ditemukan orang tua yang malu mempunyai anak difabel.
Sehingga, mereka lebih memilih menyembunyikan anaknya di dalam rumah daripada menyekolahkan di tempat yang layak.
“Orang tua harus diberi penyadaran, agar orang tua bukan menganggapnya aib,” tandas Kurs.
Kurs juga meminta, agar sekolah untuk anak difable atau Sekolah Luar Biasa (SLB) di Ciamis harus ditambah, berikut dengan jumlah pendidik dan sarana penunjangnya harus lebih diperhatikan.
Ketua Sumber Daya Manusia (SDM) Centra Indonesia Djauhari mengaku kaget dengan data yang disampaikan FP2C Ciamis.
“Jika kondisi ini dibiarkan, akan terjadi kesenjangan sosial antara kaum difable dengan masyarakat Ciamis secara umum,” tandas Djauhari.
Disamping itu, kondisi mereka dalam keadaan memprihatinkan karena tidak mendapatkan keterampilan khusus.
“Salah satu penyebabnya, karena keterbatasan jumlah sekolah dan tenaga pendidik,” terang Ketua FP2C Ciamis Kurs Laksanadikari di Ciamis, Kamis (08/11/2012).
Kurs mengharapkan, kondisi tersebut mendapatkan perhatian semua pihak termasuk pemerintah Kabupaten Ciamis. Pasalnya, akibat banyak anak difabel yang tidak pernah sekolah membuat kondisi mereka semakin terpuruk dan terasing dari lingkungan.
Kondisi lain, lanjut Kurs, selain akibat minimnya perhatian pemerintah, di lapangan masih ditemukan orang tua yang malu mempunyai anak difabel.
Sehingga, mereka lebih memilih menyembunyikan anaknya di dalam rumah daripada menyekolahkan di tempat yang layak.
“Orang tua harus diberi penyadaran, agar orang tua bukan menganggapnya aib,” tandas Kurs.
Kurs juga meminta, agar sekolah untuk anak difable atau Sekolah Luar Biasa (SLB) di Ciamis harus ditambah, berikut dengan jumlah pendidik dan sarana penunjangnya harus lebih diperhatikan.
Ketua Sumber Daya Manusia (SDM) Centra Indonesia Djauhari mengaku kaget dengan data yang disampaikan FP2C Ciamis.
“Jika kondisi ini dibiarkan, akan terjadi kesenjangan sosial antara kaum difable dengan masyarakat Ciamis secara umum,” tandas Djauhari.
(ysw)