Hudoq Kawit jadi penutup Festival Mahakam
Senin, 05 November 2012 - 06:14 WIB
Hudoq Kawit jadi penutup Festival Mahakam
A
A
A
Sindonews.com - Rangkaian Festival Mahakam yang digagas oleh Pemerintah Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) berakhir. Sajian budaya terakhir yang disuguhkan adalah upacara ada Dayak yakni Hudoq Kawit. Tradisi ini biasa dilaksaakan untuk memulai prosesi penanaman padi agar hasil yang didapat sangat memuaskan. Tradisi ini rutin dilaksanakan untuk memanggil roh dari tempat para dewa agar mengisi setiap benih padi yang ditanam sehingga hasil panen mendatangkan kemakmuran.
Ratusan warga Dayak berkumpul di halaman Kantor Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Jalan Gajah Mada, Samarinda untuk melaksanakan ritual ini. Puluhan orang yang memerankan Hudoq, bertopeng dan menggunakan pakaian terbuat dari daun pisang, menjadi pusat dari ritual ini.
Tujuan utama dari ritual ini adalah memanggil roh agar mengisi padi yang ditanam. Benih yang diisi roh akan kuat dari serangan hama sehingga menghasilkan panen yang berlimpah. Dalam upacara ini, Hudoq menjadi simbol utama.
Diiringi tetabuhan musik khas Dayak, Hudoq menari di tengah dan dikelilingi ratusan warga yang juga ikut menari. Tariannya sederhana, memutar ke kiri dan kenan. Sambil mengelilingi Hudoq. Arah putaran tarian ini bermakna putaran ke kiri untuk membuang keburukan, sementara putaran ke kanan untuk memperoleh kebaikan
“Upacara ini dilaksanakan setelah menugal (menebar benih). Roh didatangkan dari Apaulagan, tempat para dewa kami. Tujuannya memohon berkat para dewa agar padi yang tanam menghasilkan padi yang berlipat-lipat,” kata Christian Imas, warga Dayak menjelaskan, Minggu 4 November 2012.
Seluruh prosesi ini memakan waktu satu hari dan berakhir pada malam hari. Warga yang mengelilingi tarian Hudoq juga mengenakan pakaian khas adat Dayak. Sesekali terdengar teriakan khas sebagai bentuk pemanggilan roh tersebut.
Suku Dayak memiliki beragam jenis seperti Dayak Benuaq, Bahaq, Modang, Kenyah dan lainnya. Warga Dayak yang datang di ritual kali ini tidak hanya dari Samarinda. Bahkan ada yang datang dari Kabupaten Malinau yakni Dayak Kenyah. Kabupaten Malinau terletak paling utara Kaltim dan berbatasan dengan Malaysia.
Upacara ini menjadi penting bagi warga Dayak untuk menandakan upaya memperoleh kehidupan yang lebih baik. Meski digerus arus modernisasi, upacara ini masih rutin dilaksanakan. Tidak hanya dalam rangka menanam padi, saat-saat tertentu juga sering dilaksanakan.
“Pada acara-acara tertentu rutin kita laksanakan tidak hanya saat menjelang masa tanam, namun juga pada perayaan-perayaan lainnya. Tarian ini juga disuguhkan dalam rangka menyambut tamu istimewa semisal kepala daerah,” kata salah satu tokoh adat Dayak, YH Tekwan Imang.
Saat prosesi, ada beberapa bulir benih padi yang dibawa dalam ritual ini. Usai bagian ritual tertentu, benih padi ini diambil oleh warga. Warga Dayak berharap dengan benih padi yang mereka ambil akan mendatangkan kemakmuran bagi keluarganya.
“Benih ini dari Hudoq tadi, agar kemakmuran datang untuk keluarga kami,” kata Christian Imas setelah menerima beberapa bulir padi dari warga lainnya.
Upacara Hudoq Kawit ini menjadi hiburan tersendiri bagi warga Kota Samarinda dan sekitarnya. Pengunjung tampak antusias menyaksikan upcara ini dari awal hingga selesai. Kawasan halaman kantor Gubernur Kaltim terlihat ramai dan banyak juga yang mengabadikan setiap moment dari ritual ini.
Pemkot Samarinda sukses melaksanakan Festival Mahakam yang dilaksanakan sejak Jumat 2 November lalu. Rangkaian Hudoq Ngawit menjadi penutup rangkaian budaya di festival ini. Sebelumnya beberapa olahrga tradisional menjadi sajian khasnya. Lomba renang menyeberang Sungai Mahakam juga menjadi penarik animo masyarakat untuk menyaksikan Festival Mahakam yang rutin dilaksanakan setiap tahun.
Ratusan warga Dayak berkumpul di halaman Kantor Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Jalan Gajah Mada, Samarinda untuk melaksanakan ritual ini. Puluhan orang yang memerankan Hudoq, bertopeng dan menggunakan pakaian terbuat dari daun pisang, menjadi pusat dari ritual ini.
Tujuan utama dari ritual ini adalah memanggil roh agar mengisi padi yang ditanam. Benih yang diisi roh akan kuat dari serangan hama sehingga menghasilkan panen yang berlimpah. Dalam upacara ini, Hudoq menjadi simbol utama.
Diiringi tetabuhan musik khas Dayak, Hudoq menari di tengah dan dikelilingi ratusan warga yang juga ikut menari. Tariannya sederhana, memutar ke kiri dan kenan. Sambil mengelilingi Hudoq. Arah putaran tarian ini bermakna putaran ke kiri untuk membuang keburukan, sementara putaran ke kanan untuk memperoleh kebaikan
“Upacara ini dilaksanakan setelah menugal (menebar benih). Roh didatangkan dari Apaulagan, tempat para dewa kami. Tujuannya memohon berkat para dewa agar padi yang tanam menghasilkan padi yang berlipat-lipat,” kata Christian Imas, warga Dayak menjelaskan, Minggu 4 November 2012.
Seluruh prosesi ini memakan waktu satu hari dan berakhir pada malam hari. Warga yang mengelilingi tarian Hudoq juga mengenakan pakaian khas adat Dayak. Sesekali terdengar teriakan khas sebagai bentuk pemanggilan roh tersebut.
Suku Dayak memiliki beragam jenis seperti Dayak Benuaq, Bahaq, Modang, Kenyah dan lainnya. Warga Dayak yang datang di ritual kali ini tidak hanya dari Samarinda. Bahkan ada yang datang dari Kabupaten Malinau yakni Dayak Kenyah. Kabupaten Malinau terletak paling utara Kaltim dan berbatasan dengan Malaysia.
Upacara ini menjadi penting bagi warga Dayak untuk menandakan upaya memperoleh kehidupan yang lebih baik. Meski digerus arus modernisasi, upacara ini masih rutin dilaksanakan. Tidak hanya dalam rangka menanam padi, saat-saat tertentu juga sering dilaksanakan.
“Pada acara-acara tertentu rutin kita laksanakan tidak hanya saat menjelang masa tanam, namun juga pada perayaan-perayaan lainnya. Tarian ini juga disuguhkan dalam rangka menyambut tamu istimewa semisal kepala daerah,” kata salah satu tokoh adat Dayak, YH Tekwan Imang.
Saat prosesi, ada beberapa bulir benih padi yang dibawa dalam ritual ini. Usai bagian ritual tertentu, benih padi ini diambil oleh warga. Warga Dayak berharap dengan benih padi yang mereka ambil akan mendatangkan kemakmuran bagi keluarganya.
“Benih ini dari Hudoq tadi, agar kemakmuran datang untuk keluarga kami,” kata Christian Imas setelah menerima beberapa bulir padi dari warga lainnya.
Upacara Hudoq Kawit ini menjadi hiburan tersendiri bagi warga Kota Samarinda dan sekitarnya. Pengunjung tampak antusias menyaksikan upcara ini dari awal hingga selesai. Kawasan halaman kantor Gubernur Kaltim terlihat ramai dan banyak juga yang mengabadikan setiap moment dari ritual ini.
Pemkot Samarinda sukses melaksanakan Festival Mahakam yang dilaksanakan sejak Jumat 2 November lalu. Rangkaian Hudoq Ngawit menjadi penutup rangkaian budaya di festival ini. Sebelumnya beberapa olahrga tradisional menjadi sajian khasnya. Lomba renang menyeberang Sungai Mahakam juga menjadi penarik animo masyarakat untuk menyaksikan Festival Mahakam yang rutin dilaksanakan setiap tahun.
(azh)