Terbelit kemiskinan, 4.092 anak putus sekolah
Minggu, 28 Oktober 2012 - 17:21 WIB
Terbelit kemiskinan, 4.092 anak putus sekolah
A
A
A
Sindonews.com - Karena terbelit kemiskinan, sekira 4.092 anak di Kabupaten Polewali Mandar (Polman) terpaksa putus sekolah. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Polman sendiri sedang berupaya agar mereka bisa kembali duduk di sekolah.
Kepala Bidang Pendidikan Luar Sekolah Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Kabid PLS Disdikpora) Polman, Yohanes Piterson mengungkapkan, pihaknya sedang menangani ribuan anak yang putus sekolah ini dalam program transisi.
Dikatakan Piterson, dari 4.092 anak putus sekolah di bangku SD dan SMP sebagian besar disebabkan karena faktor biaya. “Ini tentu sangat disayangkan. Karena itu, kita berusaha mencari jalan keluar agar mereka kembali bisa sekolah,” ujar Yohanes ketika dihubungi, Minggu (28/10/2012).
Diuraikan Yohanes, jumlah tersebut tersebar di seluruh kecamatan yang ada. Paling banyak jumlah anak putus sekolah ada di Kecamatan Campalagian yang berjumlah 784 anak, Balanipa (399), Wonomulyo (332), Luyo (243), Tinambung (240), Alu (230), Limboro (204).
Selanjutnya, dari Kecamatan Matakali (154), Polewali (153), Tutar (311), Luyo (243), Limboro (204), Tapango (156), Bulo (130), Anreapi (123), dan Matangga (103).
Sementara dua kecamatan lain yakni dari Mapilli dan Binuang berjumlah 530 anak yang terjaring pada tahun 2011 sudah kembali disekolahkan sebanyak 270 anak.
Menurut Yohanes, anak-anak yang terjaring tersebut dalam waktu dekat akan segera disekolahkan. Hanya saja, pihaknya menyelesaikan dulu rangkaian proses pendataan yang dilakukan.
“Kita sudah lakukan pendataan dan penjaringan anak-anak tersebut untuk kembali disekolahkan. Hanya saja belum rampung. Kalau sudah, selesai, secara serentak mereka akan dikembalikan kepada sekolah,” jelas Yohanes.
Disampaikan Yohanes, selama proses pendataan sudah ada seribu lebih anak yang bersedia untuk sekolah baik paket normal maupun paket B.
Kepala Bidang Pendidikan Luar Sekolah Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Kabid PLS Disdikpora) Polman, Yohanes Piterson mengungkapkan, pihaknya sedang menangani ribuan anak yang putus sekolah ini dalam program transisi.
Dikatakan Piterson, dari 4.092 anak putus sekolah di bangku SD dan SMP sebagian besar disebabkan karena faktor biaya. “Ini tentu sangat disayangkan. Karena itu, kita berusaha mencari jalan keluar agar mereka kembali bisa sekolah,” ujar Yohanes ketika dihubungi, Minggu (28/10/2012).
Diuraikan Yohanes, jumlah tersebut tersebar di seluruh kecamatan yang ada. Paling banyak jumlah anak putus sekolah ada di Kecamatan Campalagian yang berjumlah 784 anak, Balanipa (399), Wonomulyo (332), Luyo (243), Tinambung (240), Alu (230), Limboro (204).
Selanjutnya, dari Kecamatan Matakali (154), Polewali (153), Tutar (311), Luyo (243), Limboro (204), Tapango (156), Bulo (130), Anreapi (123), dan Matangga (103).
Sementara dua kecamatan lain yakni dari Mapilli dan Binuang berjumlah 530 anak yang terjaring pada tahun 2011 sudah kembali disekolahkan sebanyak 270 anak.
Menurut Yohanes, anak-anak yang terjaring tersebut dalam waktu dekat akan segera disekolahkan. Hanya saja, pihaknya menyelesaikan dulu rangkaian proses pendataan yang dilakukan.
“Kita sudah lakukan pendataan dan penjaringan anak-anak tersebut untuk kembali disekolahkan. Hanya saja belum rampung. Kalau sudah, selesai, secara serentak mereka akan dikembalikan kepada sekolah,” jelas Yohanes.
Disampaikan Yohanes, selama proses pendataan sudah ada seribu lebih anak yang bersedia untuk sekolah baik paket normal maupun paket B.
(ysw)