Sering byar pet, warga boikot bayar listrik
Senin, 15 Oktober 2012 - 22:10 WIB
Sering byar pet, warga boikot bayar listrik
A
A
A
Sindonews.com - Gerah dengan seringnya pemadaman listrik bergilir di Kalimantan Selatan (Kalsel), warga berencana melakukan boikot pembayaran rekening listrik. Selain itu, warga juga berencana membuat pembangkit listrik independen dengan aksi mengumpulkan koin.
Pemadaman bergilir di Kalsel dinilai sungguh ironis mengingat Kalsel merupakan lumbung energi nasional dengan menyumbang batubara yang cukup besar.
"Ini (pemadaman bergilir) sudah berlangsung cukup lama, kalau dibiarkan tentu akan berlarut-larut dan makin membuat masyarakat gerah," kata pengurus Forum Peduli Banua Berry Nahdiyan, Senin (15/10/2012).
Berry menjelaskan, pelayanan PLN terbilang buruk. Untuk pemadaman bergilir, sering tanpa pemberitahuan resmi. Sering juga masyarakat harus diputus aliran listriknya hanya karena menunggak pembayaran sebulan.
"Kalsel ini termasuk lumbung energi, tapi kita kekurangan energi," kata Berry.
Tidak hanya itu, akibat seringnya pemadaman bergilir, banyak terjadi kebakaran di Kalsel. Sebab warga harus menggunakan lampu minyak atau lilin sebagai penerang.
"Tidak ada alasan Kalimantan keterbatasan daya, bahan baku SDA seperti batubara tersedia. Untuk itu, pengumpulan koin untuk pembangkit independen itu adalah tekad kami agar Kalsel terbebas dari krisis listrik," tambah Berry.
Selain pengumpulan koin, Forum Peduli Banua juga menggalang dukungan untuk boikot pembayaran tagihan listrik. Hal ini sebagai bentuk protes keras atas krisis listrik di Kalsel.
Pemadaman bergilir di Kalsel dinilai sungguh ironis mengingat Kalsel merupakan lumbung energi nasional dengan menyumbang batubara yang cukup besar.
"Ini (pemadaman bergilir) sudah berlangsung cukup lama, kalau dibiarkan tentu akan berlarut-larut dan makin membuat masyarakat gerah," kata pengurus Forum Peduli Banua Berry Nahdiyan, Senin (15/10/2012).
Berry menjelaskan, pelayanan PLN terbilang buruk. Untuk pemadaman bergilir, sering tanpa pemberitahuan resmi. Sering juga masyarakat harus diputus aliran listriknya hanya karena menunggak pembayaran sebulan.
"Kalsel ini termasuk lumbung energi, tapi kita kekurangan energi," kata Berry.
Tidak hanya itu, akibat seringnya pemadaman bergilir, banyak terjadi kebakaran di Kalsel. Sebab warga harus menggunakan lampu minyak atau lilin sebagai penerang.
"Tidak ada alasan Kalimantan keterbatasan daya, bahan baku SDA seperti batubara tersedia. Untuk itu, pengumpulan koin untuk pembangkit independen itu adalah tekad kami agar Kalsel terbebas dari krisis listrik," tambah Berry.
Selain pengumpulan koin, Forum Peduli Banua juga menggalang dukungan untuk boikot pembayaran tagihan listrik. Hal ini sebagai bentuk protes keras atas krisis listrik di Kalsel.
(ysw)