Ratusan ribu hektare lahan di Empatlawang kritis
Jum'at, 12 Oktober 2012 - 20:04 WIB
Ratusan ribu hektare lahan di Empatlawang kritis
A
A
A
Sindonews.com - Hingga kini jumlah lahan kritis di wilayah kabupaten Empatlawang mencapai ratusan ribu hektare. Jumlah tersebut tersebar di 10 kecamatan di Kabupaten Empatlawang
Data pada pihak Dinas Kehutanan Perkebunan dan Pertambangan Energi (Dishutbuntamben) Empatlawang lahan kritis di Empatlawang mencapai 138 ribu hektare. Dimana dari jumlah tersebut 40 ribu hektare diantarannya berstatus sangat kristis. Sehingga membutuhkan penanganan atau rehabilitasi. Jumlah tersebut menyebar di 10 kecamatan di Empatlawang.
“Jumlahnya menyebar dan tidak sama tiap kecamatan, namun yang terbanyak di wilayah kecamatan Ulu Musi yang berbatasan dengan propinsi Bengkulu,” ujar Kadishutbuntamben Empatlawang Susyanto Tunut, Jumat (12/10/2012).
Dia mengatakan untuk lahan yang berstatus sangat kritis tersebut menurutnya saat ini hanya ditumbuhi semak rerumputan bahkan padang ilalang. Kalaupun ada yang ditanami oleh petani, jenis tanamanya bukan tanaman keras. Untuk lokasi, lahan yang kritis tersebut ada yang berada didalam wilayah hutan kawasan.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut menurutnya perlu keterlibatan langsung masyarakat, khususnya untuk menangani masalah lahan kritis milik masyarakat. Salah satunya adalah dengan program sengonisasi. Dimana tanaman tersebut, sebagai salah satu upaya untuk merehabilitasi lahan, juga bisa menjadi tanaman produktif yang menghasilkan.
“Jadi polanya masyarakat menanam sambil menabung, daripada lahan yang mereka miliki dibiarkan tidak produktif,” ujarnya.
Sementara untuk melakukan kegiatan rehabilitasi lahan skala besar,kendala yang dihadapi adalah keterbatasan anggaran. Karena menurutnya, anggaran yang disediakan untuk merehabilitasi hutan atau lahan yang kritis per tahun hanya maksimal 1.000 hektare.
Sementara menurut Zakaria warga Tebing Tinggi mengatakan, salah satu pembuktian bahwa lahan dan hutan di Empatlawang banyak yang rusak khusunya di bagian hulu sungai Musi adalah debet sungai Musi. Dimana menurutnya, jika sudah kemarau agak lama sedikit otomatis penyusutan debit sungai Musi sangat nampak sekali. Kondisi tersebut menurutnya ketersediaan air tanah dibagian hulu sungai Musi sudah sangat susut.
“Itu cara mudah melihatnya, apalagi seluruh buangan air anak sungai di Empatlawang ini bermuara di sungai Musi,” jelasnya.
Dia menambahkan, volume air sungai Musi mulai mengalami atau kelihatan menyusut sekitar 15 tahun ke belakang. Pendangkalan di bagian hulu menurutnya menandakan lahan atau lahan di kawasan tersebut sudah gundul dan perlu rehabilitasi.
“Sederhana saja, kalau banyak lumpur yang hanyut berarti lahan di bagian hulu sudah gundul,” tandasnya.
Data pada pihak Dinas Kehutanan Perkebunan dan Pertambangan Energi (Dishutbuntamben) Empatlawang lahan kritis di Empatlawang mencapai 138 ribu hektare. Dimana dari jumlah tersebut 40 ribu hektare diantarannya berstatus sangat kristis. Sehingga membutuhkan penanganan atau rehabilitasi. Jumlah tersebut menyebar di 10 kecamatan di Empatlawang.
“Jumlahnya menyebar dan tidak sama tiap kecamatan, namun yang terbanyak di wilayah kecamatan Ulu Musi yang berbatasan dengan propinsi Bengkulu,” ujar Kadishutbuntamben Empatlawang Susyanto Tunut, Jumat (12/10/2012).
Dia mengatakan untuk lahan yang berstatus sangat kritis tersebut menurutnya saat ini hanya ditumbuhi semak rerumputan bahkan padang ilalang. Kalaupun ada yang ditanami oleh petani, jenis tanamanya bukan tanaman keras. Untuk lokasi, lahan yang kritis tersebut ada yang berada didalam wilayah hutan kawasan.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut menurutnya perlu keterlibatan langsung masyarakat, khususnya untuk menangani masalah lahan kritis milik masyarakat. Salah satunya adalah dengan program sengonisasi. Dimana tanaman tersebut, sebagai salah satu upaya untuk merehabilitasi lahan, juga bisa menjadi tanaman produktif yang menghasilkan.
“Jadi polanya masyarakat menanam sambil menabung, daripada lahan yang mereka miliki dibiarkan tidak produktif,” ujarnya.
Sementara untuk melakukan kegiatan rehabilitasi lahan skala besar,kendala yang dihadapi adalah keterbatasan anggaran. Karena menurutnya, anggaran yang disediakan untuk merehabilitasi hutan atau lahan yang kritis per tahun hanya maksimal 1.000 hektare.
Sementara menurut Zakaria warga Tebing Tinggi mengatakan, salah satu pembuktian bahwa lahan dan hutan di Empatlawang banyak yang rusak khusunya di bagian hulu sungai Musi adalah debet sungai Musi. Dimana menurutnya, jika sudah kemarau agak lama sedikit otomatis penyusutan debit sungai Musi sangat nampak sekali. Kondisi tersebut menurutnya ketersediaan air tanah dibagian hulu sungai Musi sudah sangat susut.
“Itu cara mudah melihatnya, apalagi seluruh buangan air anak sungai di Empatlawang ini bermuara di sungai Musi,” jelasnya.
Dia menambahkan, volume air sungai Musi mulai mengalami atau kelihatan menyusut sekitar 15 tahun ke belakang. Pendangkalan di bagian hulu menurutnya menandakan lahan atau lahan di kawasan tersebut sudah gundul dan perlu rehabilitasi.
“Sederhana saja, kalau banyak lumpur yang hanyut berarti lahan di bagian hulu sudah gundul,” tandasnya.
(azh)