Jadi pengedar sabu, IRT dibekuk polisi
Kamis, 11 Oktober 2012 - 21:43 WIB
Jadi pengedar sabu, IRT dibekuk polisi
A
A
A
Sindonews.com - Satuan Reserse Narkotika Kepolisian Resor Kota Samarinda meringkus seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) yang kedapatan menjadi pengedar sabu. Ia tertangkap tangan oleh petugas yang berpura-pura sebagai pembeli dan langsung meringkusnya.
Pengedar narkoba ini bernama Saudah (47) ditangkap di rumahnya di Jalan Otto Iskandar Dinata, Gang 12, RT 13 Kelurahan Sidodamai, Kecamatan Samarinda Ilir. Ia diamankan dengan barang bukti satu paket sabu seberat 0,26 gram yang ditaruhnya di dalam kotak rokok. Setelah digeledah, aparat kembali menemukan 13 poket sabu seberat 4,46 gram di dalam dompet hitam milik Saudah.
Kasat Reskoba Polresta Samarinda Kompol Feby Hutagalung menjelaskan, Saudah rupanya seorang residivis. Ia bahkan baru enam bulan ini baru menghirup udara bebas setelah sempat dipenjara dalam kasus yang sama.
"Iya, Saudah ini residivis yang belum lama bebas. Sudah dua kali tertangkap dengan kasus yang sama, ternyata setelah bebas dia kembali lagi ke menjual sabu," ungkap Feby menjelaskan kepada wartawan, Kamis (11/10/2012).
Ia menambahkan, penangkapan Saudah bermula dari kecurigaan petugas jika ia kembali menekuni profesi lamanya. Setelah diamati, aparat kemudian menyamar sebagai pembeli dan berhasil menangkap kembali Saudah.
"Pas keluar LP (Lembaga Pemasyarakatan) itu kita intai. Setelah yakin, kita menyamar sebagai pembeli, dan ternyata benar," tandas Feby.
Saat diintrogasi penyidik, Saudah mengaku hanya menjual sabu kepada orang-orang yang dikenalnya. Tapi kali ini ia lengah hingga berhasil ditangkap petugas. Ia pun mengaku tak mengerti sabu. Ia mendapatkan belasan paket sabu siap edar lengkap dengan banderol harganya dari pengedar.
"Itu lihat saja disitu. Kan sudah ada daftar harga- harganya. Jadi kalau ada yang nyari tinggal saya kasih lihat itu," ujar Saudah sambil menunjukkan potongan kertas bertuliskan variasi harga sabu berdasarkan beratnya.
Alasan himpitan ekonomi menjadi faktor Saudah nekat menjual sabu. Wanita yang tak lagi bersuami ini memiliki dua anak yang harus dihidupi. "Ya namanya perlu uang," ujarnya.
Saat ditanya siapa pemasoknya, Saudah mengaku dari seseorang yang jika ditelpon langsung mengantarkan barang haram tersebut. Ia diberi Handphone oleh sang bandar untuk berkomunikasi.
"Saya tidak tahu namanya dan tidak pernah ketemu, tahunya dia dipanggil SSS. Kalau mau beli saya tinggal telepon nanti barangnya ada yang mengantar," katanya.
Pengedar narkoba ini bernama Saudah (47) ditangkap di rumahnya di Jalan Otto Iskandar Dinata, Gang 12, RT 13 Kelurahan Sidodamai, Kecamatan Samarinda Ilir. Ia diamankan dengan barang bukti satu paket sabu seberat 0,26 gram yang ditaruhnya di dalam kotak rokok. Setelah digeledah, aparat kembali menemukan 13 poket sabu seberat 4,46 gram di dalam dompet hitam milik Saudah.
Kasat Reskoba Polresta Samarinda Kompol Feby Hutagalung menjelaskan, Saudah rupanya seorang residivis. Ia bahkan baru enam bulan ini baru menghirup udara bebas setelah sempat dipenjara dalam kasus yang sama.
"Iya, Saudah ini residivis yang belum lama bebas. Sudah dua kali tertangkap dengan kasus yang sama, ternyata setelah bebas dia kembali lagi ke menjual sabu," ungkap Feby menjelaskan kepada wartawan, Kamis (11/10/2012).
Ia menambahkan, penangkapan Saudah bermula dari kecurigaan petugas jika ia kembali menekuni profesi lamanya. Setelah diamati, aparat kemudian menyamar sebagai pembeli dan berhasil menangkap kembali Saudah.
"Pas keluar LP (Lembaga Pemasyarakatan) itu kita intai. Setelah yakin, kita menyamar sebagai pembeli, dan ternyata benar," tandas Feby.
Saat diintrogasi penyidik, Saudah mengaku hanya menjual sabu kepada orang-orang yang dikenalnya. Tapi kali ini ia lengah hingga berhasil ditangkap petugas. Ia pun mengaku tak mengerti sabu. Ia mendapatkan belasan paket sabu siap edar lengkap dengan banderol harganya dari pengedar.
"Itu lihat saja disitu. Kan sudah ada daftar harga- harganya. Jadi kalau ada yang nyari tinggal saya kasih lihat itu," ujar Saudah sambil menunjukkan potongan kertas bertuliskan variasi harga sabu berdasarkan beratnya.
Alasan himpitan ekonomi menjadi faktor Saudah nekat menjual sabu. Wanita yang tak lagi bersuami ini memiliki dua anak yang harus dihidupi. "Ya namanya perlu uang," ujarnya.
Saat ditanya siapa pemasoknya, Saudah mengaku dari seseorang yang jika ditelpon langsung mengantarkan barang haram tersebut. Ia diberi Handphone oleh sang bandar untuk berkomunikasi.
"Saya tidak tahu namanya dan tidak pernah ketemu, tahunya dia dipanggil SSS. Kalau mau beli saya tinggal telepon nanti barangnya ada yang mengantar," katanya.
(azh)