Polres Depok kumpulkan pelajar hobi tawuran
Kamis, 11 Oktober 2012 - 09:10 WIB
Polres Depok kumpulkan pelajar hobi tawuran
A
A
A
Sindonews.com - Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah tawuran pelajar di Depok. Hal itu menyusul tewasnya seorang pelajar SMK Panmas, Depok, Dedi Triyuda saat tawuran beberapa pekan lalu.
Polres Depok bersama Dinas Pendidikan akan menggelar pertemuan akbar bagi para pelajar yang langganan terlibat tawuran tersebut. Rencananya, 12-13 Oktober nanti kegiatan temu pelajar itu akan menelurkan sebuah ikrar untuk tak lagi terlibat tawuran.
"Pada Jumat-Sabtu ini, kami akan laksanakan temu pelajar 2012 se-Depok, ada 12 SMU-SMK yang ikut. Sifatnya Outbond, pembinaan mental, team building. Di Panti Asuhan Wisma Karya Bhakti Yayasan Otista, Jalan Curug Bojongsari, Sawangan Depok," ujar Kapolres Depok Kombes Pol Mulyadi Kaharni, Kamis (11/10/2012).
Mulyadi menambahkan kegiatan tersebut melibatkan Dinas Pendidikan dan sekolah yang bermasalah dengan target diikuti 200-300 pelajar yang sering tawuran.
"Jalin silaturahmi antar pelajar yang sering tawuran. Malam ada api unggun, renungan suci dan ikrar. Kami ajak SMK-SMA yang langganan tawuran, harus ada kerja sama. Bukan kerjaan diknas saja, ini tanggung jawab bersama," paparnya.
Acaranya, kata dia, berisi true story yang disampaikan alumni SMA 70, dan alumni SMA 1 Boedi Utomo Jakarta. Serta hadir pula orangtua Dedi Triyuda, siswa SMK Panmas korban yang meninggal tawuran beberapa waktu lalu.
"Kita harus punya data soal jumlah kasus kenakalan kriminalitas anak, di bawah Juli marak, di bulan September-Oktober turun, namun tiga hari lalu ada tawuran lagi, satu bonyok dilempar pakai batu, SMK Panmas vs SMK Baskara di Jalan Raya Sawangan. Karena itu kami akan gelar agenda temu pelajar ini," ungkapnya.
Anggota Komisi D DPRD Depok Bidang Pendidikan Tengku Farida menuturkan, tawuran menjadi catatan bagi sekolah, dimana siswa membutuhkan sarana prasarana untuk berekspresi yang selama ini terbatas. Namun, lanjutnya, keluarga juga mempunyai peran besar untuk mencegah tawuran yang sudah semakin sistemik.
"Sekolah harus ada ruang, tak semua sekolah ada lapangan, perpustakaan, sarana kreatifitas, akhirnya lari ke Facebook, tawuran. Keluarga juga punya peran. Terlalu naif kalau kita hanya salahkan pihak sekolah. Keluarga juga bertanggung jawab," tegas Farida.
Polres Depok bersama Dinas Pendidikan akan menggelar pertemuan akbar bagi para pelajar yang langganan terlibat tawuran tersebut. Rencananya, 12-13 Oktober nanti kegiatan temu pelajar itu akan menelurkan sebuah ikrar untuk tak lagi terlibat tawuran.
"Pada Jumat-Sabtu ini, kami akan laksanakan temu pelajar 2012 se-Depok, ada 12 SMU-SMK yang ikut. Sifatnya Outbond, pembinaan mental, team building. Di Panti Asuhan Wisma Karya Bhakti Yayasan Otista, Jalan Curug Bojongsari, Sawangan Depok," ujar Kapolres Depok Kombes Pol Mulyadi Kaharni, Kamis (11/10/2012).
Mulyadi menambahkan kegiatan tersebut melibatkan Dinas Pendidikan dan sekolah yang bermasalah dengan target diikuti 200-300 pelajar yang sering tawuran.
"Jalin silaturahmi antar pelajar yang sering tawuran. Malam ada api unggun, renungan suci dan ikrar. Kami ajak SMK-SMA yang langganan tawuran, harus ada kerja sama. Bukan kerjaan diknas saja, ini tanggung jawab bersama," paparnya.
Acaranya, kata dia, berisi true story yang disampaikan alumni SMA 70, dan alumni SMA 1 Boedi Utomo Jakarta. Serta hadir pula orangtua Dedi Triyuda, siswa SMK Panmas korban yang meninggal tawuran beberapa waktu lalu.
"Kita harus punya data soal jumlah kasus kenakalan kriminalitas anak, di bawah Juli marak, di bulan September-Oktober turun, namun tiga hari lalu ada tawuran lagi, satu bonyok dilempar pakai batu, SMK Panmas vs SMK Baskara di Jalan Raya Sawangan. Karena itu kami akan gelar agenda temu pelajar ini," ungkapnya.
Anggota Komisi D DPRD Depok Bidang Pendidikan Tengku Farida menuturkan, tawuran menjadi catatan bagi sekolah, dimana siswa membutuhkan sarana prasarana untuk berekspresi yang selama ini terbatas. Namun, lanjutnya, keluarga juga mempunyai peran besar untuk mencegah tawuran yang sudah semakin sistemik.
"Sekolah harus ada ruang, tak semua sekolah ada lapangan, perpustakaan, sarana kreatifitas, akhirnya lari ke Facebook, tawuran. Keluarga juga punya peran. Terlalu naif kalau kita hanya salahkan pihak sekolah. Keluarga juga bertanggung jawab," tegas Farida.
(mhd)