Sungai Baiyon dangkal, perahu nelayan terancam kandas
Jum'at, 05 Oktober 2012 - 02:02 WIB
Sungai Baiyon dangkal, perahu nelayan terancam kandas
A
A
A
Sindonews.com - Banyaknya tumpukan sampah dan pasir di muara Sungai Baiyon, Sibolga, membuat puluhan perahu nelayan Sibolga yang biasa disebut kutuk-kutuk terancam kandas.
Untuk melaut, para nelayan terpaksa menunggu air laut pasang agar bisa melalui muara tersebut.
“Para nelayan sudah beberapa kali memperbaiki alur keluar-masuk di Muara Sungai Baiyon, tapi mereka masih saja terkendala,” tutur Ichwan nelayan setempat, Kamis (4/10/2012).
Menurut aktivis LSM Peduli Pengembangan Pembangunan Pantai Barat Sumatera Utara (P4BSU), Asrul Sani, kapal nelayan Sibolga yang biasa disebut kutuk–kutuk ini telah puluhan tahun bersandar di Muara Sungai Baiyon.
Jika kondisi ini dibiarkan, bisa jadi pencaharian masyarakat sekitar bisa hilang.
Mengenai pendangkalan tersebut, Asrul mengatakan, diakibatkan tumpukan sampah yang berada tepat di ujung Muara. Pengerukan juga tidak pernah dilakukan sementara pemecah ombak tidak sampai ke ujung Muara.
”Maka itu, kami sangat berharap Pemerintah dan DPRD Kota Sibolga agar dapat secepatnya mencari dan menyelesaikan solusi atas permasalahan nelayan tradisional ini,” tukas Asrul Sani.
Mendengar keluhan itu, Anggota DPRD Sibolga, Jamil Zeb Tumori berjanji akan menindaklanjuti permasalahan ini. Mengenai sambungan dek di Muara Sungai Baiyon, ia berjanji akan memasukannya dalam APBD tahun anggaran 2013.
Sementara Sekretaris Dinas Kebersihan, Penataan Ruang dan Pertamanan (KPRP), Badia berjanji akan melakukan pembersihan sampah di muara sungai tersebut.
“Kami juga meminta partisipasi dari masyarakat nelayan untuk dapat bersama–sama membersihkan sampah pada Senin mendatang,” tandas Badia.
Untuk melaut, para nelayan terpaksa menunggu air laut pasang agar bisa melalui muara tersebut.
“Para nelayan sudah beberapa kali memperbaiki alur keluar-masuk di Muara Sungai Baiyon, tapi mereka masih saja terkendala,” tutur Ichwan nelayan setempat, Kamis (4/10/2012).
Menurut aktivis LSM Peduli Pengembangan Pembangunan Pantai Barat Sumatera Utara (P4BSU), Asrul Sani, kapal nelayan Sibolga yang biasa disebut kutuk–kutuk ini telah puluhan tahun bersandar di Muara Sungai Baiyon.
Jika kondisi ini dibiarkan, bisa jadi pencaharian masyarakat sekitar bisa hilang.
Mengenai pendangkalan tersebut, Asrul mengatakan, diakibatkan tumpukan sampah yang berada tepat di ujung Muara. Pengerukan juga tidak pernah dilakukan sementara pemecah ombak tidak sampai ke ujung Muara.
”Maka itu, kami sangat berharap Pemerintah dan DPRD Kota Sibolga agar dapat secepatnya mencari dan menyelesaikan solusi atas permasalahan nelayan tradisional ini,” tukas Asrul Sani.
Mendengar keluhan itu, Anggota DPRD Sibolga, Jamil Zeb Tumori berjanji akan menindaklanjuti permasalahan ini. Mengenai sambungan dek di Muara Sungai Baiyon, ia berjanji akan memasukannya dalam APBD tahun anggaran 2013.
Sementara Sekretaris Dinas Kebersihan, Penataan Ruang dan Pertamanan (KPRP), Badia berjanji akan melakukan pembersihan sampah di muara sungai tersebut.
“Kami juga meminta partisipasi dari masyarakat nelayan untuk dapat bersama–sama membersihkan sampah pada Senin mendatang,” tandas Badia.
(ysw)