Pilot Bravo tak ada duanya
Senin, 01 Oktober 2012 - 00:25 WIB
Pilot Bravo tak ada duanya
A
A
A
Sindonews.com - Pilot senior dari Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Jabar, Dodi Atmadja, tampak terpukul dengan meninggalnya Marsma TNI AU (Purn) dr Norman T Lubis.
Norman dan Letkol TNI AU (Purn) Toni Nugroho meninggal dalam kecelakaan pesawat Bravo AS 202 dengan nomor register LM 2003 saat aerobatic di acara Bandung Air Show, bersama Letkol TNI AU (Purn) Toni Nugroho.
Dodi bercerita, siang itu dirinya juga melakukan aerobatik dengan pesawat Galatik 033 warna biru putih buatan Polandia, bersamaan dengan pesawat Bravo AS 202 berwarna merah putih yang dinaiki Norman dan Toni. Dalam terbang bersama itu, pesawat Galatik Dodi dan Bravo sempat membentuk formasi break di atas langit Lanud Husen Satranegara Bandung.
Formasi break adalah terbang bareng lalu berpisah di udara. Pesawat yang dikendalikan Dodi sempat melakukan manuver, di antaranya belok tajam dan tactical landing.
Setelah itu, pesawat Galatik Dodi lebih dulu mendarat dengan mulus. Sehingga di langit tinggal menyisakan satu pesawat, yakni Bravo yang masih melakukan aerobatik dengan sejumlah manuver.
Tetapi tidak lama setelah si Galatik mendarat, terjadilah peristiwa naas itu. Asap mengepul sekira satu kilometer dari tempat pameran dinamic pesawat. Pesawat Bravo jatuh di Kantor Dinas Litbang TNI AU Bandung.
"Kemarin saya bareng ke atasnya. Saya duluan masuk (mendarat) ke arena pameran.
Saat saya turun harusnya dia juga masuk (mendarat)," ujar Dodi, dengan suara berat, saat ditemui usai pemakaman almarhum Norman, di TPU Sirnaraga, Bandung, Minggu (30/9/2012).
Sambung Dodi, detik-detik sebelum mengudara dirinya sempat mewanti-wanti supaya hanya melakukan manuver belok tajam dan tactical landing saja.
Malah pada pukul 11.00 WIB ketika dirinya, Norman dan Toni masih berada di darat, ada perasaan tidak enak hati. "Sikapnya (Norman dan Toni) biasa saja, hanya hati saya merasa akan terjadi sesuatu tapi enggak menyangka ke Pak Norman," tuturnya.
Dia menduga, jatuhnya pesawat Bravo ketika tengah melakukan manuver rolling, yakni berputarnya tubuh pesawat di udara. Kata dia, manuver rolling memang penuh resiko.
Dodi mengaku, sejak tahun 60-an sudah bersahabat dengan Norman. Menurutnya, Norman merupakan purnawirawan TNI AU yang hobinya terbang.
"Dia tidak ada duanya. Saya hampir seminggu dua kali terbang bersama, temasuk ke luar negeri," ujarnya.
Menurutnya, sudah lama Norman merawat pesawat latih Bravo. "Dia sudah satu jiwa dengan Bravo," katanya.
Baginya, kejadian itu merupakan musibah kehilangan besar yang tidak diharapkan siapa pun. Norman pun pernah bercita-cita ingin terus membangun FASI Jabar dengan modalnya sendiri.
"Fasi Jabar jangan sampai padam," kata Doni, menirukan ucapan Norman.
Dia berharap, dengan tragedi ini diharapkan tidak menyurutkan semangat khususnya bagi FASI Jabar.
Mengenai Letkol TNI AU (Purn) Toni Nugroho, menurutnya juga termasuk pilot pesawat tempur senior. "Beliau sudah mengantongi ribuan jam terbang. Toni juga instruktur penerbangan di Bandung Pilot Academic," katanya.
Bahkan, Norman dan Toni pada pembukaan BAS yakni Jumat 27 September 2012 sebenarnya melakukan manuver yang sama dengan pesawat yang sama.
Norman dan Letkol TNI AU (Purn) Toni Nugroho meninggal dalam kecelakaan pesawat Bravo AS 202 dengan nomor register LM 2003 saat aerobatic di acara Bandung Air Show, bersama Letkol TNI AU (Purn) Toni Nugroho.
Dodi bercerita, siang itu dirinya juga melakukan aerobatik dengan pesawat Galatik 033 warna biru putih buatan Polandia, bersamaan dengan pesawat Bravo AS 202 berwarna merah putih yang dinaiki Norman dan Toni. Dalam terbang bersama itu, pesawat Galatik Dodi dan Bravo sempat membentuk formasi break di atas langit Lanud Husen Satranegara Bandung.
Formasi break adalah terbang bareng lalu berpisah di udara. Pesawat yang dikendalikan Dodi sempat melakukan manuver, di antaranya belok tajam dan tactical landing.
Setelah itu, pesawat Galatik Dodi lebih dulu mendarat dengan mulus. Sehingga di langit tinggal menyisakan satu pesawat, yakni Bravo yang masih melakukan aerobatik dengan sejumlah manuver.
Tetapi tidak lama setelah si Galatik mendarat, terjadilah peristiwa naas itu. Asap mengepul sekira satu kilometer dari tempat pameran dinamic pesawat. Pesawat Bravo jatuh di Kantor Dinas Litbang TNI AU Bandung.
"Kemarin saya bareng ke atasnya. Saya duluan masuk (mendarat) ke arena pameran.
Saat saya turun harusnya dia juga masuk (mendarat)," ujar Dodi, dengan suara berat, saat ditemui usai pemakaman almarhum Norman, di TPU Sirnaraga, Bandung, Minggu (30/9/2012).
Sambung Dodi, detik-detik sebelum mengudara dirinya sempat mewanti-wanti supaya hanya melakukan manuver belok tajam dan tactical landing saja.
Malah pada pukul 11.00 WIB ketika dirinya, Norman dan Toni masih berada di darat, ada perasaan tidak enak hati. "Sikapnya (Norman dan Toni) biasa saja, hanya hati saya merasa akan terjadi sesuatu tapi enggak menyangka ke Pak Norman," tuturnya.
Dia menduga, jatuhnya pesawat Bravo ketika tengah melakukan manuver rolling, yakni berputarnya tubuh pesawat di udara. Kata dia, manuver rolling memang penuh resiko.
Dodi mengaku, sejak tahun 60-an sudah bersahabat dengan Norman. Menurutnya, Norman merupakan purnawirawan TNI AU yang hobinya terbang.
"Dia tidak ada duanya. Saya hampir seminggu dua kali terbang bersama, temasuk ke luar negeri," ujarnya.
Menurutnya, sudah lama Norman merawat pesawat latih Bravo. "Dia sudah satu jiwa dengan Bravo," katanya.
Baginya, kejadian itu merupakan musibah kehilangan besar yang tidak diharapkan siapa pun. Norman pun pernah bercita-cita ingin terus membangun FASI Jabar dengan modalnya sendiri.
"Fasi Jabar jangan sampai padam," kata Doni, menirukan ucapan Norman.
Dia berharap, dengan tragedi ini diharapkan tidak menyurutkan semangat khususnya bagi FASI Jabar.
Mengenai Letkol TNI AU (Purn) Toni Nugroho, menurutnya juga termasuk pilot pesawat tempur senior. "Beliau sudah mengantongi ribuan jam terbang. Toni juga instruktur penerbangan di Bandung Pilot Academic," katanya.
Bahkan, Norman dan Toni pada pembukaan BAS yakni Jumat 27 September 2012 sebenarnya melakukan manuver yang sama dengan pesawat yang sama.
(mhd)