Mahfud & Hasyim mendesak pemerintah mengubah sistem pendidikan
Minggu, 30 September 2012 - 22:38 WIB
Mahfud & Hasyim mendesak pemerintah mengubah sistem pendidikan
A
A
A
Sindonews.com - Maraknya tawuran antar pelajar hingga menimbulkan korban jiwa, mengundang keprihatinan mendalam dari sejumlah tokoh di tanah air.
Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menilai, aksi tawuran pelajar tersebut merupakan bentuk dari kegagalan sistem pendidikan di Indonesia.
"Pemerintah harus memperbaiki sistem pendidikan yang ada, agar aksi-aksi tawuran yang marak di Jakarta belakangan ini tidak menular dan merembet ke daerah-daerah lain," kata Mahfud saat menghadiri acara diskusi peringatan 1.000 hari wafatnya Gus Dur di Pondok Pesantren Tebu Ireng Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Minggu (30/9/2012).
Senada dengan Mahfud, mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi mengatakan, adanya kesalahan dalam sistem pendidikan yang ada saat ini.
"Menunjukkan bahwa apa yang diajarkan dalam sistem pendidikan di Indonesia masih ada yang salah. Antara intelektualisme dengan moralitas tidak seimbang." tandasnya.
Menurutnya, seharusnya pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) jangan hanya mengedepankan ilmu pengetahuan semata, melainkan akhlah anak didik yang harus dibangun.
"Selama ini, sekolah-sekolah hanya mengejar dan mengajarkan ilmu pengetahuan dan bukan kepribadian atau pembentukan karakter," tandasnya.
Agar aksi tawuran pelajat tersebut tidak terulang lagi, Hasyim meminta, agar pemerintah segera merevisi sistem pendidikan yang ada sekarang ini. Agar aksi tawuran itu tidak menyebar ke daerah-daerah lain.
"Pemerintah segera mengubah sistem pendidikan yang ada dengan menyeimbangkan antara pendidikan intelektual dengan kepribadian," terangnya.
Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menilai, aksi tawuran pelajar tersebut merupakan bentuk dari kegagalan sistem pendidikan di Indonesia.
"Pemerintah harus memperbaiki sistem pendidikan yang ada, agar aksi-aksi tawuran yang marak di Jakarta belakangan ini tidak menular dan merembet ke daerah-daerah lain," kata Mahfud saat menghadiri acara diskusi peringatan 1.000 hari wafatnya Gus Dur di Pondok Pesantren Tebu Ireng Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Minggu (30/9/2012).
Senada dengan Mahfud, mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi mengatakan, adanya kesalahan dalam sistem pendidikan yang ada saat ini.
"Menunjukkan bahwa apa yang diajarkan dalam sistem pendidikan di Indonesia masih ada yang salah. Antara intelektualisme dengan moralitas tidak seimbang." tandasnya.
Menurutnya, seharusnya pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) jangan hanya mengedepankan ilmu pengetahuan semata, melainkan akhlah anak didik yang harus dibangun.
"Selama ini, sekolah-sekolah hanya mengejar dan mengajarkan ilmu pengetahuan dan bukan kepribadian atau pembentukan karakter," tandasnya.
Agar aksi tawuran pelajat tersebut tidak terulang lagi, Hasyim meminta, agar pemerintah segera merevisi sistem pendidikan yang ada sekarang ini. Agar aksi tawuran itu tidak menyebar ke daerah-daerah lain.
"Pemerintah segera mengubah sistem pendidikan yang ada dengan menyeimbangkan antara pendidikan intelektual dengan kepribadian," terangnya.
(mhd)