Beberapa karyawan disandera teroris
Rabu, 26 September 2012 - 15:37 WIB
Beberapa karyawan disandera teroris
A
A
A
Sindonews.com - Komando Daerah Militer IV/Diponegoro melakukan simulasi penangkapan teroris di Gedung Fashion Village Sritex, satu lokasi dengan Hotel Quality Yogyakarta. Dalam simulasi itu,
Teroris pimpinan Sayid Abu Jafar menyandra General Manager serta beberapa karyawan Fashion Village Sritex Yogyakarta. Kelompok teroris tersebut meminta uang tebusan sebesar Rp10 triliun kepada Gubernur DIY, sebagai syarat apabila sandera dibebaskan.
Tetapi, Gubernur DIY menolak bernegoisasi kepada teroris, sehingga harus dilakukan operasi penindakan dan pembebasan.
Gubernur segera melakukan koordinasi dengan aparat di wilayah Jawa Tengah untuk mengatasi aksi kekerasan tersebut, dan memutuskan, Panglima Komando Daerah Militer IV/Diponegoro yang mempunyai Pasukan penanggulangan teror segera memerintahkan kepada komandan Batalyon Infanter 400/Raider untuk melaksanakan operasi pendakan dan pembebasa tawanan.
Setelah menerima perintah, operasi dilakukan dengan perencanaan yang matang melihat situasi di lapangan. Pasukan khusus menyusupkan spinernya mengunakan mobil bok menuju gedung. Pasukan yang telah terlatih tersebut melumpuhkan tiga teroris yang berada di pos jaga.
Tak berselang lama, Helikopter datang dan menurunkan tim penanggulangan teror Batalyon Infanteri 400/Raider di atas Gedung Sritek tersebut. Terdengar tembakan dari spiner berhasil melumbuhkan teroris.
Tim melakukan taknik refling sebagai kelompok pengaman, dan satu personil Gultor siap memecahkan kaca gedung sebagai jalan menuju gedung.
Selanjutnya, dua kendaran BTR secara sporadik melakukan penindakan terhadap teroris yang jaga di depan pintu penjagaan. Orang pertama bergerak dengan teknik pertempuran jarak dekat dan berhasil melumpuhkan teroris yang berada di lantai dasar tersebut.
Ternyata, pimpinan teroris mengelabuhi dengan melarikan diri dan membawa sandera mengunakan bus keluar dari Gedung.
Tim melakuakn pengejaran dengan empat unit motor trail dan dua unit kendaraan PJD untuk membebaskan sandera dalam bus. Dengan teknik yang tinggi, dua unit kendaran PJD melakukan manuver menghentikan laju kendaraan bus di Jalan Solo, Km 8 Maguwo, Depok, Sleman, Yogyakarta tersebut.
Tim memecah kaca samping bus dan melumpuhkan teroris serta berhasil menyelamatkan Sandra. Tim berhasil menyelamatkan sandra dan berhasil melumpuhkan pimpinan teroris.
Dalam pelaksanaan serbuan di gedung itu ditemukan sebuah kotak yang dicurigai handak atau bom. Tim Jihandak Yon Zipur IV menangani ancaman bom segera mengevakuasi benda tersebut. Selanjutnya, korban tewas dan Koran yang terluka kemudian dilarikan ke RS (rumah sakit).
“Simulasi ini sebagai bentuk kesiap-siagaan personel jika sewaktu-waktu terjadi ancaman teroris. Dalam situasi apapun dan kondisi bagaimanapun, seluruh personel harus siap menghadapi segala bentuk ancaman terror,” kata Komandan Korem 072/Pamungkas Yogyakarta, Brigjen TNI AD Adi Widjaya, Rabu (26/9/2012).
Simulasi yang dilakukan itu bukan sebagai bentuk tandingan dengan Polri, tetapi lebih pada kesiapan personil. Sesuai dengan fungsinya, TNI punya kewajiban membantu jajaran Polri jika membutuhkan. “Koordinasi TNI Polri tetap berjalan, tidak kok terus jalan sendiri-sendiri,” jelasnya.
Teroris pimpinan Sayid Abu Jafar menyandra General Manager serta beberapa karyawan Fashion Village Sritex Yogyakarta. Kelompok teroris tersebut meminta uang tebusan sebesar Rp10 triliun kepada Gubernur DIY, sebagai syarat apabila sandera dibebaskan.
Tetapi, Gubernur DIY menolak bernegoisasi kepada teroris, sehingga harus dilakukan operasi penindakan dan pembebasan.
Gubernur segera melakukan koordinasi dengan aparat di wilayah Jawa Tengah untuk mengatasi aksi kekerasan tersebut, dan memutuskan, Panglima Komando Daerah Militer IV/Diponegoro yang mempunyai Pasukan penanggulangan teror segera memerintahkan kepada komandan Batalyon Infanter 400/Raider untuk melaksanakan operasi pendakan dan pembebasa tawanan.
Setelah menerima perintah, operasi dilakukan dengan perencanaan yang matang melihat situasi di lapangan. Pasukan khusus menyusupkan spinernya mengunakan mobil bok menuju gedung. Pasukan yang telah terlatih tersebut melumpuhkan tiga teroris yang berada di pos jaga.
Tak berselang lama, Helikopter datang dan menurunkan tim penanggulangan teror Batalyon Infanteri 400/Raider di atas Gedung Sritek tersebut. Terdengar tembakan dari spiner berhasil melumbuhkan teroris.
Tim melakukan taknik refling sebagai kelompok pengaman, dan satu personil Gultor siap memecahkan kaca gedung sebagai jalan menuju gedung.
Selanjutnya, dua kendaran BTR secara sporadik melakukan penindakan terhadap teroris yang jaga di depan pintu penjagaan. Orang pertama bergerak dengan teknik pertempuran jarak dekat dan berhasil melumpuhkan teroris yang berada di lantai dasar tersebut.
Ternyata, pimpinan teroris mengelabuhi dengan melarikan diri dan membawa sandera mengunakan bus keluar dari Gedung.
Tim melakuakn pengejaran dengan empat unit motor trail dan dua unit kendaraan PJD untuk membebaskan sandera dalam bus. Dengan teknik yang tinggi, dua unit kendaran PJD melakukan manuver menghentikan laju kendaraan bus di Jalan Solo, Km 8 Maguwo, Depok, Sleman, Yogyakarta tersebut.
Tim memecah kaca samping bus dan melumpuhkan teroris serta berhasil menyelamatkan Sandra. Tim berhasil menyelamatkan sandra dan berhasil melumpuhkan pimpinan teroris.
Dalam pelaksanaan serbuan di gedung itu ditemukan sebuah kotak yang dicurigai handak atau bom. Tim Jihandak Yon Zipur IV menangani ancaman bom segera mengevakuasi benda tersebut. Selanjutnya, korban tewas dan Koran yang terluka kemudian dilarikan ke RS (rumah sakit).
“Simulasi ini sebagai bentuk kesiap-siagaan personel jika sewaktu-waktu terjadi ancaman teroris. Dalam situasi apapun dan kondisi bagaimanapun, seluruh personel harus siap menghadapi segala bentuk ancaman terror,” kata Komandan Korem 072/Pamungkas Yogyakarta, Brigjen TNI AD Adi Widjaya, Rabu (26/9/2012).
Simulasi yang dilakukan itu bukan sebagai bentuk tandingan dengan Polri, tetapi lebih pada kesiapan personil. Sesuai dengan fungsinya, TNI punya kewajiban membantu jajaran Polri jika membutuhkan. “Koordinasi TNI Polri tetap berjalan, tidak kok terus jalan sendiri-sendiri,” jelasnya.
(mhd)