Cegah balas dendam, SMAN 6 diliburkan
Selasa, 25 September 2012 - 16:28 WIB
Cegah balas dendam, SMAN 6 diliburkan
A
A
A
Sindonews.com - Tewasnya pelajar SMAN 6 Alawy Yusianto Putra (15), telah menyulut emosi teman-teman korban. Pertengkaran kedua sekolah yang bertetangga ini pun semakin menjadi. Aksi balas dendam menuntut balas pun mulai disiapkan para pelajar SMAN 6 terhadap pelajar SMAN 70.
Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim mengatakan, pihaknya sudah melakukan langkah pencegahan dengan meliburkan SMAN 6 selama tiga hari.
"Ini untuk menghindari aksi balas dendam. Balas dendam yang sempat terjadi di Depok yang perlu dihindari dan tak perlu terulang. Diperlukan juga peran serta masyarakat untuk memberantas aksi tawuran," ujar Musliar di Kampus UI, Depok, Selasa (25/9/2012).
Tak hanya itu, pihaknya juga meminta kepada aparat kepolisian untuk menyelidiki apakah ada kemungkinan peristiwa ini diprovokasi oleh pihak luar. Apalagi para siswa diketahui membawa senjata tajam. "Kita berharap polisi mencari betul siapa dalangnya," terangnya.
Lebih lanjut, pihaknya melihat, tawuran antara SMAN 6 dan SMAN 70 yang berujung pada tewasnya seorang pelajar, tidak bisa dilihat dari kacamata sekolah saja, melainkan dilihat juga dari aspek lain.
"Mereka kan masih usia remaja, apa sanggup melakukan pembunuhan atau ada yang provokatif. Selain itu memang diperlukan pengawasan khusus dari orangtua dan guru. Jangan sampai membiarkan anak-anak berkumpul saat pulang sekolah," ungkapnya.
Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim mengatakan, pihaknya sudah melakukan langkah pencegahan dengan meliburkan SMAN 6 selama tiga hari.
"Ini untuk menghindari aksi balas dendam. Balas dendam yang sempat terjadi di Depok yang perlu dihindari dan tak perlu terulang. Diperlukan juga peran serta masyarakat untuk memberantas aksi tawuran," ujar Musliar di Kampus UI, Depok, Selasa (25/9/2012).
Tak hanya itu, pihaknya juga meminta kepada aparat kepolisian untuk menyelidiki apakah ada kemungkinan peristiwa ini diprovokasi oleh pihak luar. Apalagi para siswa diketahui membawa senjata tajam. "Kita berharap polisi mencari betul siapa dalangnya," terangnya.
Lebih lanjut, pihaknya melihat, tawuran antara SMAN 6 dan SMAN 70 yang berujung pada tewasnya seorang pelajar, tidak bisa dilihat dari kacamata sekolah saja, melainkan dilihat juga dari aspek lain.
"Mereka kan masih usia remaja, apa sanggup melakukan pembunuhan atau ada yang provokatif. Selain itu memang diperlukan pengawasan khusus dari orangtua dan guru. Jangan sampai membiarkan anak-anak berkumpul saat pulang sekolah," ungkapnya.
(san)