Empat desa jadi wilayah tangguh bencana
Selasa, 25 September 2012 - 15:36 WIB
Empat desa jadi wilayah tangguh bencana
A
A
A
Sindonews.com – Empat Desa di dua kecamatan di Kabupaten Majene yang berada di pesisir pantai ditetapkan menjadi desa tangguh bencana. Desa tersebut adalah Desa Bababulo, Desa Adolang di Kecamatan Pamboang dan dua desa lainnya adalah Desa Tubo dan Desa Tubo Poang di Kecamatan Tubo Sendana.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Majene, Mansyur T mengatakan empat desa tersebut ditetapkan sebagai wilayah tangguh bencana karena berada di pesisir pantai. Rencananya, desa yang sudah ditetapkan sebagai desa tangguh bencana tersebut akan diproyeksikan sebagai percontohan tanggap bencana.
Dikatakan, sebagai desa tangguh bencana, penduduk setempat diberikan pemahaman dan sosialisasi tentang bencana bencana yang bisa saja terjadi. Misalnya, terjadinya tsunami.
“Masyarakat setempat dibekali ilmu dan pemahaman bagaimana mengantisipasi dan tanggap jika bencana seperti itu itu terjadi. Dengan begitu, jika terjadi bencana kita tidak terlalu repot menangani karena mereka sudah ada bekal untuk tanggap menghadapi bencana seperti itu,” ungkap Mansyur menjelaskan kepada wartawan, (25/9/2012).
Disebutkan, pada tahun ini, awalnya hanya dua yang ditetapkan sebagai desa tangguh bencana, yakni Desa Bababulo Kecamatan Pamboang, dan Desa Tubo, Kecamatan Tubo Sendana. Namun, pada tahap kedua, ditambah lagi dua desa dari dua kecamatan itu yakni Desa Adolan Desa Tubo Poang.
Mansyur menuturkan, di empat desa tangguh bencana tersebut, BPBD telah menyusun tim relawan sebanyak 25 orang serta membentuk tim litigasi pengurangan potensi bencana. Sehingga, dengan pemahaman yang diberikan kepada tim tersebut, secara tidak langsung, mereka akan memberikan pendidikan kebencanaan kepada seluruh warga, tak terkecuali pada warga desa tetangga.
Mansyur menjelaskan, sebenarnya bukan hanya empat desa saja. Kedepan, seluruh desa yang ada di pesisir akan dijadikan sebagai desa tangguh bencana. Hanya saja, pelaksanaannya dilakukan secara bertahap.
Dalam buku aksi nasional, Majene merupakan salah satu kabupaten yang diprioritaskan untuk mengurangi bencana. Pada tahun 1969, pernah terjadi gempa bumi yang cukup besar dan menimbulkan gelombang tsunami.
“Karena itu, mulai dari sekarang masyarakat Majene kita berikan pemahaman dan sosialisasi tanggap bencana jika bencana seperti itu terjadi,” tutur Mansyur.
Karena itu, lanjut Mansyur, BPBD berharap kiranya tanggap bencana juga menjadi kebutuhan dari desa-desa. BPBD Majene akan siap untuk memfasilitasi memberikan pemahaman kepada masyarakatnya.
“Bencana itu bukan hanya tanggungjawab BPBD. Tapi juga diharapkan partisipasi seluruh elemen masyarakat, pemerintah, maupun pengusaha,” jelas Mansyur.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Majene, Mansyur T mengatakan empat desa tersebut ditetapkan sebagai wilayah tangguh bencana karena berada di pesisir pantai. Rencananya, desa yang sudah ditetapkan sebagai desa tangguh bencana tersebut akan diproyeksikan sebagai percontohan tanggap bencana.
Dikatakan, sebagai desa tangguh bencana, penduduk setempat diberikan pemahaman dan sosialisasi tentang bencana bencana yang bisa saja terjadi. Misalnya, terjadinya tsunami.
“Masyarakat setempat dibekali ilmu dan pemahaman bagaimana mengantisipasi dan tanggap jika bencana seperti itu itu terjadi. Dengan begitu, jika terjadi bencana kita tidak terlalu repot menangani karena mereka sudah ada bekal untuk tanggap menghadapi bencana seperti itu,” ungkap Mansyur menjelaskan kepada wartawan, (25/9/2012).
Disebutkan, pada tahun ini, awalnya hanya dua yang ditetapkan sebagai desa tangguh bencana, yakni Desa Bababulo Kecamatan Pamboang, dan Desa Tubo, Kecamatan Tubo Sendana. Namun, pada tahap kedua, ditambah lagi dua desa dari dua kecamatan itu yakni Desa Adolan Desa Tubo Poang.
Mansyur menuturkan, di empat desa tangguh bencana tersebut, BPBD telah menyusun tim relawan sebanyak 25 orang serta membentuk tim litigasi pengurangan potensi bencana. Sehingga, dengan pemahaman yang diberikan kepada tim tersebut, secara tidak langsung, mereka akan memberikan pendidikan kebencanaan kepada seluruh warga, tak terkecuali pada warga desa tetangga.
Mansyur menjelaskan, sebenarnya bukan hanya empat desa saja. Kedepan, seluruh desa yang ada di pesisir akan dijadikan sebagai desa tangguh bencana. Hanya saja, pelaksanaannya dilakukan secara bertahap.
Dalam buku aksi nasional, Majene merupakan salah satu kabupaten yang diprioritaskan untuk mengurangi bencana. Pada tahun 1969, pernah terjadi gempa bumi yang cukup besar dan menimbulkan gelombang tsunami.
“Karena itu, mulai dari sekarang masyarakat Majene kita berikan pemahaman dan sosialisasi tanggap bencana jika bencana seperti itu terjadi,” tutur Mansyur.
Karena itu, lanjut Mansyur, BPBD berharap kiranya tanggap bencana juga menjadi kebutuhan dari desa-desa. BPBD Majene akan siap untuk memfasilitasi memberikan pemahaman kepada masyarakatnya.
“Bencana itu bukan hanya tanggungjawab BPBD. Tapi juga diharapkan partisipasi seluruh elemen masyarakat, pemerintah, maupun pengusaha,” jelas Mansyur.
(azh)