Status RSBI SMAN 70 terancam dicabut
Selasa, 25 September 2012 - 14:11 WIB
Status RSBI SMAN 70 terancam dicabut
A
A
A
Sindonews.com - Status Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMAN 70 Jakarta terancam dicabut. Sebabnya, sekolah favorit di kawasan Jakarta Selatan ini, kerap memberikan contoh buruk dengan terlibat aksi tawuran.
Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Musliar Kasim mengaku prihatin dengan aksi tawuran yang dilakukan para siswa SMAN 70 Jakarta dengan pelajar SMAN 6 yang berujung pada tewasnya salah seorang siswa SMAN 6 Alawy Yusianto Putra (15).
"Kenapa sekolah-sekolah favorit justru yang akan menjadi contoh bagi yang lain terjadi tawuran. Pernah kita diskusikan, mungkin sekolah-sekolah itu akan kita berikan sanksi. Kalau yang tadinya RSBI, kita turunkan jadi non RSBI," ujarnya di Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Selasa (25/9/2012).
Ditambahkan dia, penurunan status dari RSBI menjadi non RSBI itu diharapkan, bisa memberikan rasa penyesalan kepada pihak sekolah yang membiarkan siswanya terlibat tawuran.
"Mesti ada penyesalan dari pihak sekolah, baik guru maupun siswanya. Kalau sekarang seolah-olah siswanya saja, tidak ada sanksi bagi sekolahnya, kalau ada sanksi bagi sekolah-sekolahnya, anak baik akan melarang orang-orang untuk berbuat jahat. Ada kemungkinan memang seperti itu," terangnya.
Selain itu, pihaknya juga telah memikirkan soal relokasi sekolah untuk menghindari tawuran. Namun kedua sekolah masih bertahan dengan egonya masing-masing. "Pihak SMAN 6 mereka bertanya, kenapa hanya kami? Begitu juga dengan SMAN 70. Mestinya dua-duanya direlokasi," tandasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, tawuran antar pelajar dua SMAN 6 dan SMAN 70 Bulungan, kembali pecah pada Senin 24 September 2012. Dalam tawuran itu, Alawy Yusianto Putra (15), siswa SMAN 6 tewas terkena tusukan senjata tajam di bagian dada.
Selain mengakibatkan korban tewas, dua pelajar SMAN 6 lainnya, yakni El Farouq Hassan (15) dan Dimas (15), menderita luka ringan. Tawuran antara SMAN 6 dan SMAN 70 sudah berlangsung lama. Kedua pelajar sekolah ini, selalu terlibat saling serang dan menghancurkan.
Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Musliar Kasim mengaku prihatin dengan aksi tawuran yang dilakukan para siswa SMAN 70 Jakarta dengan pelajar SMAN 6 yang berujung pada tewasnya salah seorang siswa SMAN 6 Alawy Yusianto Putra (15).
"Kenapa sekolah-sekolah favorit justru yang akan menjadi contoh bagi yang lain terjadi tawuran. Pernah kita diskusikan, mungkin sekolah-sekolah itu akan kita berikan sanksi. Kalau yang tadinya RSBI, kita turunkan jadi non RSBI," ujarnya di Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Selasa (25/9/2012).
Ditambahkan dia, penurunan status dari RSBI menjadi non RSBI itu diharapkan, bisa memberikan rasa penyesalan kepada pihak sekolah yang membiarkan siswanya terlibat tawuran.
"Mesti ada penyesalan dari pihak sekolah, baik guru maupun siswanya. Kalau sekarang seolah-olah siswanya saja, tidak ada sanksi bagi sekolahnya, kalau ada sanksi bagi sekolah-sekolahnya, anak baik akan melarang orang-orang untuk berbuat jahat. Ada kemungkinan memang seperti itu," terangnya.
Selain itu, pihaknya juga telah memikirkan soal relokasi sekolah untuk menghindari tawuran. Namun kedua sekolah masih bertahan dengan egonya masing-masing. "Pihak SMAN 6 mereka bertanya, kenapa hanya kami? Begitu juga dengan SMAN 70. Mestinya dua-duanya direlokasi," tandasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, tawuran antar pelajar dua SMAN 6 dan SMAN 70 Bulungan, kembali pecah pada Senin 24 September 2012. Dalam tawuran itu, Alawy Yusianto Putra (15), siswa SMAN 6 tewas terkena tusukan senjata tajam di bagian dada.
Selain mengakibatkan korban tewas, dua pelajar SMAN 6 lainnya, yakni El Farouq Hassan (15) dan Dimas (15), menderita luka ringan. Tawuran antara SMAN 6 dan SMAN 70 sudah berlangsung lama. Kedua pelajar sekolah ini, selalu terlibat saling serang dan menghancurkan.
(san)