Waspada politik bagi kue di Pilgub DKI
Senin, 17 September 2012 - 07:15 WIB
Waspada politik bagi kue di Pilgub DKI
A
A
A
Sindonews.com - Jelang pemungutan suara putaran kedua Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2012, dua pasangan calon gubernur incumbent Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara) dan Joko Widodo (Jokowi)-Basuki T Purnama (Ahok), masing-masing menggalang suara untuk memenangkan pertarungan.
Diantara upaya yang coba ditempuh adalah dengan merangkul suara pasangan calon putaran pertama yang tidak lolos masuk putaran kedua, seperti Hidayat Nur Wahid (HNW), Faisal Basri, Alex Noerdin dan Hendardji. Kendati cukup kecil, suara mereka bisa menentukan kemenangan.
Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute Gun Gun Heryanto mengatakan, para kandidat harus waspada dengan politik bagi kue, karena sangat berbahaya bagi jalannya roda pemerintahan.
"Itu akan membahayakan proses demokrasi elektoral yang terbuka. Memang memungkinkan orang menang atau kalah dan kontestasi. Jangan paksakan orang masuk ke kekuasaan, padahal belum tentu satu visi. Misalnya Faisal, atau HNW kan mereka juga orientasi berbeda-beda soal pengelolaan DKI," ujar Gun Gun saat berbincang dengan Sindonews, Senin (17/9/2012).
Ditambahkan dia, merangkul dukungan pasangan yang kalah dalam putaran pertama dalam putaran kedua merupakan suatu yang wajar dan harus dilakukan. Namun tetap tidak bisa memaksakan diri, dengan melibatkan dalam satu kekuasaan.
"Jadi ini bukan soal distribusi dan alokasi SDM, tetapi soal menajemen pemerintahan yang harusnya lebih bagus," terangnya.
Seperti yang biasa terjadi dalam setiap pertarungan perebutan kekuasaan, pasangan yang kalah bertarung akan menjadi oposisi terhadap kandidat yang menang. Ditanya apakah, cagub DKI putaran pertama miliki potensi menjadi benalu bagi kekuasaan yang akan datang, Gun Gun dengan tegas menjawab tidak.
"Saya kira tidak, mereka yang kandidat-kandidat kemarin punya sejumlah aktivitas lain dalam kontribusi mereka pada bangsa ini. Faisal, HNW, Hendardji maupun Alex, sama-sama punya kesibukan di ranah mereka masing-masing, tidak justru menjadi benalu apalagi parasit kekuasaan," tukasnya.
Diantara upaya yang coba ditempuh adalah dengan merangkul suara pasangan calon putaran pertama yang tidak lolos masuk putaran kedua, seperti Hidayat Nur Wahid (HNW), Faisal Basri, Alex Noerdin dan Hendardji. Kendati cukup kecil, suara mereka bisa menentukan kemenangan.
Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute Gun Gun Heryanto mengatakan, para kandidat harus waspada dengan politik bagi kue, karena sangat berbahaya bagi jalannya roda pemerintahan.
"Itu akan membahayakan proses demokrasi elektoral yang terbuka. Memang memungkinkan orang menang atau kalah dan kontestasi. Jangan paksakan orang masuk ke kekuasaan, padahal belum tentu satu visi. Misalnya Faisal, atau HNW kan mereka juga orientasi berbeda-beda soal pengelolaan DKI," ujar Gun Gun saat berbincang dengan Sindonews, Senin (17/9/2012).
Ditambahkan dia, merangkul dukungan pasangan yang kalah dalam putaran pertama dalam putaran kedua merupakan suatu yang wajar dan harus dilakukan. Namun tetap tidak bisa memaksakan diri, dengan melibatkan dalam satu kekuasaan.
"Jadi ini bukan soal distribusi dan alokasi SDM, tetapi soal menajemen pemerintahan yang harusnya lebih bagus," terangnya.
Seperti yang biasa terjadi dalam setiap pertarungan perebutan kekuasaan, pasangan yang kalah bertarung akan menjadi oposisi terhadap kandidat yang menang. Ditanya apakah, cagub DKI putaran pertama miliki potensi menjadi benalu bagi kekuasaan yang akan datang, Gun Gun dengan tegas menjawab tidak.
"Saya kira tidak, mereka yang kandidat-kandidat kemarin punya sejumlah aktivitas lain dalam kontribusi mereka pada bangsa ini. Faisal, HNW, Hendardji maupun Alex, sama-sama punya kesibukan di ranah mereka masing-masing, tidak justru menjadi benalu apalagi parasit kekuasaan," tukasnya.
(san)