Tak bisa berobat, bocah dikandangkan
Sabtu, 15 September 2012 - 10:22 WIB
Tak bisa berobat, bocah dikandangkan
A
A
A
Sindonews.com - Kemiskinan seakan terus menjadi bantu sandungan warga negara ini untuk memperoleh pelayanan optimal dalam bidang kesehatan. Paling tidak fakta itu tergambar jelas pada Deljan Rea Wunu Hiwal, bocah lelaki berusia delapan tahun yang terpaksa harus di 'kandangkan' orang tuanya karena sakit yang tak kunjung sembuh.
Deljan, demikian nama yang diambil dari singkatan Delapan Januari, tanggal lahirnya delapan tahun silam itu, hingga kini terus mneghabisi harinya lebih banyak dalam kandang yang terbuat dari bambu. Kandang yang lazimnya dibuat untuk anak Balita agar lebih terkendali justru hinga kini menjadi sahabat Deljan.
Karena sakit yang dideritanya sejak berusia tiga bulan, buah cinta pasutri miskin, Domisianus Ndilu (44), dan Orpa Tonda Pendu (44), yang berdomisili di kelurahan Lambanapu, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, NTT, dengan berat hati harus di 'kandangkan' oleh orang tuanya. Ketiadaan biaya dan kemiskinan menjadi kendala Deljan, untuk dirawat serta diobati secara medis.
Ketika teman seusianya bersekolah dan bermain, bocah malang itu justru menghabiskan hari-harinya di dalam rumah. Dia tidak bisa bicara, berdiri dan berjalan layaknya teman seusianya.
"Waktu lahir dia normal saja, beratnya 3,5 kilogram. Namun saat usia tiga bulan badannya terus menyusut. Saya heran juga, lalu kami bawa dia kedokter dan sempat dirawat berkali–kali, namun tak kunjung sembuh. Dokter juga tidak memberitahu apa sebenarnya sakit yang diderita anak kami," terang ibu dari Deljan Orpa Tonda Pendu ketika ditemui di rumahnya, Sabtu (15/9/2012)
Lebih lanjut Orpa, yang sehari–hari menenun kain tradisional Sumba Timur guna menunjang penghasilan sang sumai yang hanya petani kecil itu menuturkan, dinas kesehatan dan dinas sosial memang pernah mendatangi mereka dan melakukan pendataan.
Namun sayang, realisasi bantuanya yang dijanjikan hingga kini belum juga terealisir. "Biar sudah kalau memang bantuan yang dijanjikan belum sampai, kami pasrah saja dan tetap berdoa dan berharap, anak kami sembuh karena mujizat Tuhan. Kami masih tetap berharap anak kami bisa tumbuh normal seperti saudara dan teman-temannya," imbuh Orpa didampigi Ndilu suaminya.
Bantuan yang dijanjikan memang belum pasti kapan akan diterima. Namun yang pasti, Deljan hingga kini tetap dirawat dalam keterbatasan, tapi penuh kesabaran, dan cinta tulus kedua orang tuanya.
"Kalau kami kasih makan lebih banyak bubur yang terbuang dari mulutnya daripada yang masuk. Kami sudah cari makan, tapi kemudian lihat seperti itu, kami hanya bisa urut dada dan bersabar," pungkas Ndilu dengan mata berkaca–kaca menahan ait matanya.
Deljan, demikian nama yang diambil dari singkatan Delapan Januari, tanggal lahirnya delapan tahun silam itu, hingga kini terus mneghabisi harinya lebih banyak dalam kandang yang terbuat dari bambu. Kandang yang lazimnya dibuat untuk anak Balita agar lebih terkendali justru hinga kini menjadi sahabat Deljan.
Karena sakit yang dideritanya sejak berusia tiga bulan, buah cinta pasutri miskin, Domisianus Ndilu (44), dan Orpa Tonda Pendu (44), yang berdomisili di kelurahan Lambanapu, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, NTT, dengan berat hati harus di 'kandangkan' oleh orang tuanya. Ketiadaan biaya dan kemiskinan menjadi kendala Deljan, untuk dirawat serta diobati secara medis.
Ketika teman seusianya bersekolah dan bermain, bocah malang itu justru menghabiskan hari-harinya di dalam rumah. Dia tidak bisa bicara, berdiri dan berjalan layaknya teman seusianya.
"Waktu lahir dia normal saja, beratnya 3,5 kilogram. Namun saat usia tiga bulan badannya terus menyusut. Saya heran juga, lalu kami bawa dia kedokter dan sempat dirawat berkali–kali, namun tak kunjung sembuh. Dokter juga tidak memberitahu apa sebenarnya sakit yang diderita anak kami," terang ibu dari Deljan Orpa Tonda Pendu ketika ditemui di rumahnya, Sabtu (15/9/2012)
Lebih lanjut Orpa, yang sehari–hari menenun kain tradisional Sumba Timur guna menunjang penghasilan sang sumai yang hanya petani kecil itu menuturkan, dinas kesehatan dan dinas sosial memang pernah mendatangi mereka dan melakukan pendataan.
Namun sayang, realisasi bantuanya yang dijanjikan hingga kini belum juga terealisir. "Biar sudah kalau memang bantuan yang dijanjikan belum sampai, kami pasrah saja dan tetap berdoa dan berharap, anak kami sembuh karena mujizat Tuhan. Kami masih tetap berharap anak kami bisa tumbuh normal seperti saudara dan teman-temannya," imbuh Orpa didampigi Ndilu suaminya.
Bantuan yang dijanjikan memang belum pasti kapan akan diterima. Namun yang pasti, Deljan hingga kini tetap dirawat dalam keterbatasan, tapi penuh kesabaran, dan cinta tulus kedua orang tuanya.
"Kalau kami kasih makan lebih banyak bubur yang terbuang dari mulutnya daripada yang masuk. Kami sudah cari makan, tapi kemudian lihat seperti itu, kami hanya bisa urut dada dan bersabar," pungkas Ndilu dengan mata berkaca–kaca menahan ait matanya.
(mhd)