Ratusan hektare sawah gagal panen
Rabu, 12 September 2012 - 15:33 WIB
Ratusan hektare sawah gagal panen
A
A
A
Sindonews.com - Ratusan hektare sawah milik 200 Kepala Keluarga di wilayah Desa Siring Alam, Kecamatan Tanjung Raja, Kabupaten Ogan Ilir (OI) gagal panen akibat musim kemarau yang terus berlangsung hingga saat ini. Tanaman padi warga yang berumur sekitar 2,5 bulan pun mengalami kekeringan.
Pantauan di lapangan, gagal panen akibat kurangnya pasokan air yang mengairi persawahan petani bukan saja dialami petani di Desa Siring Alam, Tanjung Raja saja, melainkan juga dialami para petani lainnya di dalam kecamatan di Bumi Caram Seguguk.
Di samping kurangnya debit air di saluran irigasi areal persawahan karena dipengaruhi musim kemarau panjang saat ini, hal tersebut juga ditenggarai oleh tidak adanya saluran irigasi memadai sehingga petani hanya mengandalkan hujan alami.
Asmawi (45), salah satu petani Desa Siring Alam, Tanjung Raja ditemui mengatakan, akibat gagal panen yang terjadi saat ini, rata-rata petani mengalami kerugian. Karena para petani sudah mengeluarkan biaya untuk tanam dan pemupukan.
“Ya, hanya sebagian kecil saja petani yang tetap bisa panen. Itupun hasilnya jauh dari memuaskan. Dari satu hektare sawah yang ditanami padi, paling setengah hektare bisa dipanen," paparnya.
Dia menuturkan rata-rata penduduk Desa Siring Alam ini sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Masing-masing petani disini memiliki minimal setengah hektar sawah dan maksimal dua hektare sawah yang semuanya ditanami padi. Di tengah kondisi kekeringan ini, petani hanya berharap segera turun hujan di bulan September ini.
“Dalam satu hektar biasanya mendapatkan 300 kaleng. Dimusim kemarau ini paling hanya mendapatkan 150 kaleng. Itu pun masih kotor belum dikurangi dnegan biaya lainnya,” tuturnya.
Senada dikatakan petani lainnya, Suwarno. Menurut dia, akibat kekeringan yang terjadi dipersawahan, sejumlah petani kini mulai membabat tanaman padinya dengan harapan pada saat musim hujan nanti sudah siap untuk menggarap kembali sawahnya.
“Sawah di sini hanya mengandalkan air hujan dan memang saluran irigasi disini tidak lagi dialiri air. Tahun ini petani banyak mengalami kerugian akibat gagal panen.
Di samping itu, nelayan pun tidak bisa memanen ikan yang ada di sampan akibat air sungai tercemar air limbah PTPN,” terangnya.
Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten OI, Wawan Wiguna menegaskan di musim kemarau ini memang banyak sawah petani yang mengalami kekeringan akibat kurangnya pasokan air.
“Produksi padi di OI mengalami penurunan sekitar lima persen. Penurunan produksi ini akibat dari musim kemarau yang tengah terjadi saat ini. Penurunan produksi padi dirasakan petani di Kecamatan Lubuk Keliat, Inderalaya, Pemulutan, dan Muara Kuang yang menjadi kecamatan lumbung padi,” ujarnya.
Untuk mengatasi kekurangan air ke sawah petani, pihaknya telah berupaya melakukan pompanisasi. Pompanisasi tersebut merupakan hasil kerjasama pemerintah OI dengan pihak provinsi dalam menanggulangi kekeringan pada musim kemarau.
Dia menerangkan bahwa luas areal persawahan di Kabupaten OI mencapai 71.000 hektare. Luasan daerah tersebut terdiri dari Lebak Pematang, Lebak Tengah dan Lebak Dalaman.
“Biasanya sawah yang mengalami kekeringan dan kekurangan air terjadi pada sawah kategori Lebak Pematang,” katanya.
Pantauan di lapangan, gagal panen akibat kurangnya pasokan air yang mengairi persawahan petani bukan saja dialami petani di Desa Siring Alam, Tanjung Raja saja, melainkan juga dialami para petani lainnya di dalam kecamatan di Bumi Caram Seguguk.
Di samping kurangnya debit air di saluran irigasi areal persawahan karena dipengaruhi musim kemarau panjang saat ini, hal tersebut juga ditenggarai oleh tidak adanya saluran irigasi memadai sehingga petani hanya mengandalkan hujan alami.
Asmawi (45), salah satu petani Desa Siring Alam, Tanjung Raja ditemui mengatakan, akibat gagal panen yang terjadi saat ini, rata-rata petani mengalami kerugian. Karena para petani sudah mengeluarkan biaya untuk tanam dan pemupukan.
“Ya, hanya sebagian kecil saja petani yang tetap bisa panen. Itupun hasilnya jauh dari memuaskan. Dari satu hektare sawah yang ditanami padi, paling setengah hektare bisa dipanen," paparnya.
Dia menuturkan rata-rata penduduk Desa Siring Alam ini sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Masing-masing petani disini memiliki minimal setengah hektar sawah dan maksimal dua hektare sawah yang semuanya ditanami padi. Di tengah kondisi kekeringan ini, petani hanya berharap segera turun hujan di bulan September ini.
“Dalam satu hektar biasanya mendapatkan 300 kaleng. Dimusim kemarau ini paling hanya mendapatkan 150 kaleng. Itu pun masih kotor belum dikurangi dnegan biaya lainnya,” tuturnya.
Senada dikatakan petani lainnya, Suwarno. Menurut dia, akibat kekeringan yang terjadi dipersawahan, sejumlah petani kini mulai membabat tanaman padinya dengan harapan pada saat musim hujan nanti sudah siap untuk menggarap kembali sawahnya.
“Sawah di sini hanya mengandalkan air hujan dan memang saluran irigasi disini tidak lagi dialiri air. Tahun ini petani banyak mengalami kerugian akibat gagal panen.
Di samping itu, nelayan pun tidak bisa memanen ikan yang ada di sampan akibat air sungai tercemar air limbah PTPN,” terangnya.
Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten OI, Wawan Wiguna menegaskan di musim kemarau ini memang banyak sawah petani yang mengalami kekeringan akibat kurangnya pasokan air.
“Produksi padi di OI mengalami penurunan sekitar lima persen. Penurunan produksi ini akibat dari musim kemarau yang tengah terjadi saat ini. Penurunan produksi padi dirasakan petani di Kecamatan Lubuk Keliat, Inderalaya, Pemulutan, dan Muara Kuang yang menjadi kecamatan lumbung padi,” ujarnya.
Untuk mengatasi kekurangan air ke sawah petani, pihaknya telah berupaya melakukan pompanisasi. Pompanisasi tersebut merupakan hasil kerjasama pemerintah OI dengan pihak provinsi dalam menanggulangi kekeringan pada musim kemarau.
Dia menerangkan bahwa luas areal persawahan di Kabupaten OI mencapai 71.000 hektare. Luasan daerah tersebut terdiri dari Lebak Pematang, Lebak Tengah dan Lebak Dalaman.
“Biasanya sawah yang mengalami kekeringan dan kekurangan air terjadi pada sawah kategori Lebak Pematang,” katanya.
(azh)