Banyak seni budaya telah dikomersilkan
Selasa, 11 September 2012 - 19:26 WIB
Banyak seni budaya telah dikomersilkan
A
A
A
Sindonews.com - Pernyataan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Bibit Waluyo memang telah mencederai kebudayaan masyarakat. Namun, hal tersebut menurut pengamat kebudayaan muncul lantaran kesenian jathilan ini sudah sering dikomersilkan.
Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip Semarang Agus Maladi, mengatakan, jathilan ini merupakan produk dari masyarakat yang mengalami akulturasi sendiri. Pernyataan Bibit tersebut telah mencederai kebudayaan masyarakat. Bibit Waluyo yang menyebut tarian jathilan ini jelek karena kesenian rakyat tersebut sudah dikomodifikasi atau dikomersilkan. Akibat adanya komersialisasi tersebut bisa memunculkan pendapat baik dan jelek.
“Seharusnya Jathilan ini biarlah tumbuh apa adanya di masyarakat, jangan dikomersialisasi. Kalau mau dikomersialisasi silakan, tapi dibentuk kelompok sendiri yang memang bertujuan untuk menghibur dan harus benar-benar disubsidi oleh pemerintah,” ungkap Agus menjelaskan kepada wartawan, Selasa (11/9/2012).
Agus sendiri mengaku tidak melihat langsung tarian Jathilan tersebut. Namun, dirinya sangat menyayangkan pernyataan mantan Pangkostrad tersebut karena telah menjustifikasi. Jika kesenian tersebut dinilai tidak rapi, karena memang berbeda dengan performing art.
Karena, Jathilan ini dulunya adalah ritual ekspresi petani untuk kesuburan. “Ini kesalahan karena kebudayaan telah dijual. Nanti kalau orang menggunakan barang-barang tradisional dikatakan primitif,” paparnya.
Bukan hanya Jathilan, dia menyebut sekarang ini banyak ritual sakral di Bali juga telah dikomersilkan.
Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip Semarang Agus Maladi, mengatakan, jathilan ini merupakan produk dari masyarakat yang mengalami akulturasi sendiri. Pernyataan Bibit tersebut telah mencederai kebudayaan masyarakat. Bibit Waluyo yang menyebut tarian jathilan ini jelek karena kesenian rakyat tersebut sudah dikomodifikasi atau dikomersilkan. Akibat adanya komersialisasi tersebut bisa memunculkan pendapat baik dan jelek.
“Seharusnya Jathilan ini biarlah tumbuh apa adanya di masyarakat, jangan dikomersialisasi. Kalau mau dikomersialisasi silakan, tapi dibentuk kelompok sendiri yang memang bertujuan untuk menghibur dan harus benar-benar disubsidi oleh pemerintah,” ungkap Agus menjelaskan kepada wartawan, Selasa (11/9/2012).
Agus sendiri mengaku tidak melihat langsung tarian Jathilan tersebut. Namun, dirinya sangat menyayangkan pernyataan mantan Pangkostrad tersebut karena telah menjustifikasi. Jika kesenian tersebut dinilai tidak rapi, karena memang berbeda dengan performing art.
Karena, Jathilan ini dulunya adalah ritual ekspresi petani untuk kesuburan. “Ini kesalahan karena kebudayaan telah dijual. Nanti kalau orang menggunakan barang-barang tradisional dikatakan primitif,” paparnya.
Bukan hanya Jathilan, dia menyebut sekarang ini banyak ritual sakral di Bali juga telah dikomersilkan.
(azh)