Gempa 4.8 SR akibatkan 185 bangunan rusak
Minggu, 09 September 2012 - 18:03 WIB
Gempa 4.8 SR akibatkan 185 bangunan rusak
A
A
A
Sindonews.com - Sebanyak 185 bangunan di Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, mengalami kerusakan akibat diguncang gempa bumi berkekuatan 4,8 skala ricter (SR) yang melanda pada Minggu dinihari (9/9), sekira pukul 01.27 WIB.
Berdasarkan data Pemerintah Kecamatan Kabandungan hingga Minggu siang, tercatat jumlah bangunan yang mengalami kerusakan akibat guncangan gempa bumi mencapai 185 unit yang terdiri dari rumah dan fasilitas keagamaan dan fasilitas pendidikan.
Seluruh bangunan itu tersebar di empat desa yakni Desa Tugu Bada, Cihamerang, Kabandungan dan Cipeuteuy.
Rinciannya meliputi 38 rumah dan satu bangunan majelis taklim di Desa Cipeuteuy, 29 rumah rusak di Desa Tugu Badak dan puluhan rumah lainnya di Desa Cihamerang dan Kabandungan.
Umumnya seluruh bangunan itu mengalami kerusakan dalam ketgori ringan. Sejauh ini aparat pemerintah Kecamatan Kabandungan belum menerima adanya laporan korban jiwa akibat bencana gempa bumi tersebut.
"Pendataannya masih terus dilakukan, tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan bertambah. Sebab belum seluruhnya terlaporkan dari tingkat pemerintah desa, seperti di Desa Kabandungan yang telah terlaporkan baru dua rumah rusak," kata petugas Satuan Polisi Pamong Praja, Kecamatan Kabandungan, Nurdin Sopiyan, Minggu (9/9/2012).
Selain merusak bangunan rumah dan fasilitas keagamaan, gempa bumi 4,8 SR ini juga telah merusak sarana pertanian. Saluran irigasi yang terletak di Desa Cipeteuy mengalami kerusakan sehingga infrastruktur pertanian tersebut tidak bisa berfungsi.
"Irigasi ini untuk mengaliri areal pesawahan seluas 72 hektar. Namun kini kondisinya rusak akibat gempa. Dimungkinkan tidak akan berfungsi,” kata Kepala Desa Cipeutey, Ujang Supriatna.
Sementara itu Balai Taman Nasional Gunung Salak-Halimun (TNGHS) menduga gempa bumi berkekuatan 4,8 SR yang berpusat di 31 km Barat Daya, Kabupaten Bogor itu diduga akibat dipicu terjadinya peningkatan aktifitas kawah Gunung Salak atau dikenal dengan sebutan Kawah Ratu.
"Ini baru dugaan sementara, diduga gempa akibat peningkatan aktifitas Kawah Ratu. Untuk memastikannya kami akan masih melakukan penelitian," tegas Kepala TNGHS Agus Priambudi.
Berdasarkan data Pemerintah Kecamatan Kabandungan hingga Minggu siang, tercatat jumlah bangunan yang mengalami kerusakan akibat guncangan gempa bumi mencapai 185 unit yang terdiri dari rumah dan fasilitas keagamaan dan fasilitas pendidikan.
Seluruh bangunan itu tersebar di empat desa yakni Desa Tugu Bada, Cihamerang, Kabandungan dan Cipeuteuy.
Rinciannya meliputi 38 rumah dan satu bangunan majelis taklim di Desa Cipeuteuy, 29 rumah rusak di Desa Tugu Badak dan puluhan rumah lainnya di Desa Cihamerang dan Kabandungan.
Umumnya seluruh bangunan itu mengalami kerusakan dalam ketgori ringan. Sejauh ini aparat pemerintah Kecamatan Kabandungan belum menerima adanya laporan korban jiwa akibat bencana gempa bumi tersebut.
"Pendataannya masih terus dilakukan, tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan bertambah. Sebab belum seluruhnya terlaporkan dari tingkat pemerintah desa, seperti di Desa Kabandungan yang telah terlaporkan baru dua rumah rusak," kata petugas Satuan Polisi Pamong Praja, Kecamatan Kabandungan, Nurdin Sopiyan, Minggu (9/9/2012).
Selain merusak bangunan rumah dan fasilitas keagamaan, gempa bumi 4,8 SR ini juga telah merusak sarana pertanian. Saluran irigasi yang terletak di Desa Cipeteuy mengalami kerusakan sehingga infrastruktur pertanian tersebut tidak bisa berfungsi.
"Irigasi ini untuk mengaliri areal pesawahan seluas 72 hektar. Namun kini kondisinya rusak akibat gempa. Dimungkinkan tidak akan berfungsi,” kata Kepala Desa Cipeutey, Ujang Supriatna.
Sementara itu Balai Taman Nasional Gunung Salak-Halimun (TNGHS) menduga gempa bumi berkekuatan 4,8 SR yang berpusat di 31 km Barat Daya, Kabupaten Bogor itu diduga akibat dipicu terjadinya peningkatan aktifitas kawah Gunung Salak atau dikenal dengan sebutan Kawah Ratu.
"Ini baru dugaan sementara, diduga gempa akibat peningkatan aktifitas Kawah Ratu. Untuk memastikannya kami akan masih melakukan penelitian," tegas Kepala TNGHS Agus Priambudi.
(mhd)