Ledakan keras guncang Depok
Minggu, 09 September 2012 - 10:15 WIB
Ledakan keras guncang Depok
A
A
A
Sindonews.com - Ledakan keras mengguncang Depok tadi malam. Belum diketahui apakah ledakan yang terjadi di Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara itu terkait dengan aksi terorisme.
Pihak polisi juga belum bisa memastikan bahwa ledakan yang terjadi di rumah yang terletak di Jalan Nusantara RT 004/RW 013 Beji tersebut berjenis bom. Hingga berita ini diturunkan, polisi masih melakukan penyelidikan di lapangan. Polisi sudah mengamankan lima orang yang diduga terkait dengan ledakan. Namun Kapolres Depok Kombes Pol Mulyadi Kaharni enggan memberikan keterangan lebih banyak.
Ledakan yang terjadi pukul 21.50 WIB itu mengakibatkan 3 orang terluka, 1 kritis dan 2 lainnya cukup parah. Satu orang yang kritis dilarikan ke RS Bhakti Yudha dan dua lainnya dibawa ke klinik terdekat. Belum juga bisa dipastikan apakah korban luka merupakan penghuni rumah (yayasan) tersebut atau bukan.
Info terakhir menyebutkan, korban kritis akhirnya meninggal dunia. Menurut keterangan saksi, korban yang paling parah tersebut berperawakan gempal, rambut keriting, dan berusia sekitar 19–23 tahun. Berdasarkan keterangan saksi, dua orang terlihat melarikan diri dari lokasi sekitar lima menit seusai ledakan. Keduanya sempat ditangkap petugas parkir minimarket yang berjarak 200 meter dari tempat ledakan.
Namun, karena tukang parkir tersebut terfokus pada ledakan, akhirnya kedua orang itu dilepaskan. “Dua orang itu sempat teriak. Dia bilang, 'Ada kiamat'," tutur Dani, seorang saksi, Sabtu 8 September 2012 malam.
Dede yang juga menyaksikan kejadian mengaku melihat ada sebuah mobil tancap gas setelah dua orang tersebut meninggalkan lokasi ledakan. Mobil Kijang berwarna hitam itu diketahui mengangkut sejumlah orang.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto yang dikonfirmasi wartawan menjelaskan bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan. Menurutnya, tim gegana dari Polda Metro Jaya dan Mabes Polri beberapa saat setelah ledakan langsung meluncur ke lokasi untuk melakukan penyelidikan. "Kami masih lakukan penyelidikan, belum bisa dipastikan dari mana ledakan tersebut berasal," katanya.
Mabes Polri juga mengaku belum bisa memastikan penyebab ledakan. Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Anang Iskandar mengatakan petugas masih menelusuri penyebab ledakan tersebut. “Betul (ada ledakan), masih ditelusuri,’’ katanya dalam pesan singkat yang diterima wartawan di Jakarta tadi malam.
Berdasar pantauan di lapangan, ledakan terdengar keras hingga membuat atap rumah tersebut hancur.Ledakan itu kontan membuat warga sekitar kaget. Mereka pun langsung keluar rumah dan mendatangi lokasi ledakan. Asiah,warga yang jarak rumahnya sekitar 30 meter dari lokasi, mengaku kaget dengan ledakan tersebut. “Terdengar seperti suara petasan besar. Bunyinya cuma sekali,”kata Asiah.
Menurut dia, setelah suara ledakan besar tersebut, asap tebal langsung mengepul dari lokasi kejadian, tetapi tidak ditemukan api. Erso yang juga seorang saksi menuturkan, tidak ada barang yang tersisa utuh di dalam gedung itu karena semuanya hancur berantakan. Saat melihat ruangan,dia mengaku tiba-tiba mencium bau mesiu dari dalam gedung.“Mencium bau mesiu tersebut saya langsung kabur dan lari keluar gedung,” ucapnya.
Saat mendatangi TKP, Erso mengaku sempat melihat dua orang laki-laki yang kabur dari rumah tersebut. Sementara dua orang lainnya terlihat kesakitan karena luka bakar. Warga pun kemudian menyiram yang bersangkutan.
“Satu orang laki-laki penghuni gedung mengalami luka kritis. Tangan kirinya hancur dan badannya penuh luka bakar. Sepertinya tangannya putus, lukanya sangat parah,” ujarnya.
Lantas siapa penghuni rumah tersebut? Aditya Dani, warga sekitar yang dimintai konfirmasi, menuturkan bahwa rumah tersebut sejak dua bulan terakhir dimanfaatkan sebagai tempat pengobatan alternatif.
Hanya siapa saja penghuninya, dia mengaku tidak mengetahui. “Baru banget dibuka jadi warga tidak mengenal siapa yang ada di sana,” kata dia.
Depok, Jakarta, dan Solo belakangan ini mendapat perhatian pasca penangkapan teroris diwilayah tersebut. DiDepok, Densus 88/Antiteror Polri membekuk tersangka jaringan terorisme Solo Rabu 5 Septembert 2012 lalu. Firman (20), ditangkap di sebuah rumah di Taman Anyelir II Blok E1No 1 RT 002 RW 010, Kali Mulya, Cilodong, Depok sekira pukul 06.00 WIB.
Dari rangkaian penangkapan, polisi mengidentifikasi adanya jaringan Solo, Jakarta, dan Depok.
Menurut Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya,Komisaris Besar Polisi Rikwanto, jaringan atau poros Solo-Jakarta akan menyasar dua daerah tersebut sebagai target aksi terorisme. Senada, pengamat terorisme Ali Fauzi membenarkan adanya jaringan Jakarta-Solo.
Menurut dia, mereka adalah jaringan Abu Omar karena adanya kesamaan tipe bahan bom yang dirakit.
Dalam menjalankan terornya, mereka mengincar Solo dan Jakarta, termasuk memanfaatkan situasi Pilkada DKI Jakarta. “Jaringan ini justru banyak di Jakarta, di Solo sedikit. Farhan dan Muchsin itu kan orang Jakarta. Jadi ada semacam link yang bisa menghubungkan orang-orang ini,” ungkap Ali Fauzi, Sabtu 8 September 2012 kemarin.
Kelompok Abu Omar berasal dari kelompok NII, kemudian berpecah menjadi Jamaah Islamiyah (JI) dan Abu Omar.
Abu Omar alias Indra Kusuma alias Andi Yunus alias Nico Salman ditangkap Juli 2011 di Jakarta, terkait penyelundupan senjata dari Filipina selatan ke Indonesia. Abu Omar adalah ayah tiri Farhan Mujahid yang tewas ditembak di Solo beberapa waktu lalu.
Pihak polisi juga belum bisa memastikan bahwa ledakan yang terjadi di rumah yang terletak di Jalan Nusantara RT 004/RW 013 Beji tersebut berjenis bom. Hingga berita ini diturunkan, polisi masih melakukan penyelidikan di lapangan. Polisi sudah mengamankan lima orang yang diduga terkait dengan ledakan. Namun Kapolres Depok Kombes Pol Mulyadi Kaharni enggan memberikan keterangan lebih banyak.
Ledakan yang terjadi pukul 21.50 WIB itu mengakibatkan 3 orang terluka, 1 kritis dan 2 lainnya cukup parah. Satu orang yang kritis dilarikan ke RS Bhakti Yudha dan dua lainnya dibawa ke klinik terdekat. Belum juga bisa dipastikan apakah korban luka merupakan penghuni rumah (yayasan) tersebut atau bukan.
Info terakhir menyebutkan, korban kritis akhirnya meninggal dunia. Menurut keterangan saksi, korban yang paling parah tersebut berperawakan gempal, rambut keriting, dan berusia sekitar 19–23 tahun. Berdasarkan keterangan saksi, dua orang terlihat melarikan diri dari lokasi sekitar lima menit seusai ledakan. Keduanya sempat ditangkap petugas parkir minimarket yang berjarak 200 meter dari tempat ledakan.
Namun, karena tukang parkir tersebut terfokus pada ledakan, akhirnya kedua orang itu dilepaskan. “Dua orang itu sempat teriak. Dia bilang, 'Ada kiamat'," tutur Dani, seorang saksi, Sabtu 8 September 2012 malam.
Dede yang juga menyaksikan kejadian mengaku melihat ada sebuah mobil tancap gas setelah dua orang tersebut meninggalkan lokasi ledakan. Mobil Kijang berwarna hitam itu diketahui mengangkut sejumlah orang.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto yang dikonfirmasi wartawan menjelaskan bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan. Menurutnya, tim gegana dari Polda Metro Jaya dan Mabes Polri beberapa saat setelah ledakan langsung meluncur ke lokasi untuk melakukan penyelidikan. "Kami masih lakukan penyelidikan, belum bisa dipastikan dari mana ledakan tersebut berasal," katanya.
Mabes Polri juga mengaku belum bisa memastikan penyebab ledakan. Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Anang Iskandar mengatakan petugas masih menelusuri penyebab ledakan tersebut. “Betul (ada ledakan), masih ditelusuri,’’ katanya dalam pesan singkat yang diterima wartawan di Jakarta tadi malam.
Berdasar pantauan di lapangan, ledakan terdengar keras hingga membuat atap rumah tersebut hancur.Ledakan itu kontan membuat warga sekitar kaget. Mereka pun langsung keluar rumah dan mendatangi lokasi ledakan. Asiah,warga yang jarak rumahnya sekitar 30 meter dari lokasi, mengaku kaget dengan ledakan tersebut. “Terdengar seperti suara petasan besar. Bunyinya cuma sekali,”kata Asiah.
Menurut dia, setelah suara ledakan besar tersebut, asap tebal langsung mengepul dari lokasi kejadian, tetapi tidak ditemukan api. Erso yang juga seorang saksi menuturkan, tidak ada barang yang tersisa utuh di dalam gedung itu karena semuanya hancur berantakan. Saat melihat ruangan,dia mengaku tiba-tiba mencium bau mesiu dari dalam gedung.“Mencium bau mesiu tersebut saya langsung kabur dan lari keluar gedung,” ucapnya.
Saat mendatangi TKP, Erso mengaku sempat melihat dua orang laki-laki yang kabur dari rumah tersebut. Sementara dua orang lainnya terlihat kesakitan karena luka bakar. Warga pun kemudian menyiram yang bersangkutan.
“Satu orang laki-laki penghuni gedung mengalami luka kritis. Tangan kirinya hancur dan badannya penuh luka bakar. Sepertinya tangannya putus, lukanya sangat parah,” ujarnya.
Lantas siapa penghuni rumah tersebut? Aditya Dani, warga sekitar yang dimintai konfirmasi, menuturkan bahwa rumah tersebut sejak dua bulan terakhir dimanfaatkan sebagai tempat pengobatan alternatif.
Hanya siapa saja penghuninya, dia mengaku tidak mengetahui. “Baru banget dibuka jadi warga tidak mengenal siapa yang ada di sana,” kata dia.
Depok, Jakarta, dan Solo belakangan ini mendapat perhatian pasca penangkapan teroris diwilayah tersebut. DiDepok, Densus 88/Antiteror Polri membekuk tersangka jaringan terorisme Solo Rabu 5 Septembert 2012 lalu. Firman (20), ditangkap di sebuah rumah di Taman Anyelir II Blok E1No 1 RT 002 RW 010, Kali Mulya, Cilodong, Depok sekira pukul 06.00 WIB.
Dari rangkaian penangkapan, polisi mengidentifikasi adanya jaringan Solo, Jakarta, dan Depok.
Menurut Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya,Komisaris Besar Polisi Rikwanto, jaringan atau poros Solo-Jakarta akan menyasar dua daerah tersebut sebagai target aksi terorisme. Senada, pengamat terorisme Ali Fauzi membenarkan adanya jaringan Jakarta-Solo.
Menurut dia, mereka adalah jaringan Abu Omar karena adanya kesamaan tipe bahan bom yang dirakit.
Dalam menjalankan terornya, mereka mengincar Solo dan Jakarta, termasuk memanfaatkan situasi Pilkada DKI Jakarta. “Jaringan ini justru banyak di Jakarta, di Solo sedikit. Farhan dan Muchsin itu kan orang Jakarta. Jadi ada semacam link yang bisa menghubungkan orang-orang ini,” ungkap Ali Fauzi, Sabtu 8 September 2012 kemarin.
Kelompok Abu Omar berasal dari kelompok NII, kemudian berpecah menjadi Jamaah Islamiyah (JI) dan Abu Omar.
Abu Omar alias Indra Kusuma alias Andi Yunus alias Nico Salman ditangkap Juli 2011 di Jakarta, terkait penyelundupan senjata dari Filipina selatan ke Indonesia. Abu Omar adalah ayah tiri Farhan Mujahid yang tewas ditembak di Solo beberapa waktu lalu.
(mhd)