Data korban gizi buruk, Dinkes turunkan petugas
Jum'at, 07 September 2012 - 14:32 WIB
Data korban gizi buruk, Dinkes turunkan petugas
A
A
A
Sindonews.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan (Sulsel) menurunkan sejumlah petugas kesehatan untuk melakukan pendataan bayi yang kekurangan gizi atau terkena gizi buruk.
“Kamis udah menyosialisasikan kepada masyarakat, agar jika ada yang diketahui bermasalah gizinya, untuk melapor ke Puskesmas terdekat,” jelas Kepala Bidang Kesehatan Keluarga, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantaeng Dahria, Jumat (7/9/2012).
Sementara itu, dia menyebutkan kondisi anak yang menderita gizi buruk Nurbaety yang berusia tujuh tahun dengan berat badan hanya 10 kilogram, sudah mulai membaik. Pihaknya juga sudah langsung mengecek ketersediaan makanan bagi anak tersebut. Dahria mengatakan keluarga Nurbaety, selama ini hidup tidak menetap di Bantaeng, sehingga saat petugas melakukan pengecekan, Nurbaety belum ada di Bantaeng. Apalagi, usianya sudah di atas lima tahun, sehingga memang tidak masuk pada program sasaran keluarga.
“Nanti kalau sakit, baru ada di Bantaeng. Namun kami tetap melakukan penanganan dan kebutuhan gizinya,” jelas dia.
Kadis Kesehatan Bantaeng, Takudaeng menyebutkan pihaknya selama ini melakukan penanggulangan gizi terhadap ibu hami dan juga bayinya. Anggaran yang disiapkan sebanyak Rp200 juta pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2012 ini.
Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bantaeng Anas Hasan mengatakan kasus gizi buruk ini baru terungkap. Sejumlah kasus gizi buruk ini akan menjadi perhatian serius bagi DPRD. Pihaknya akan memanggil pihak-pihak terkait untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantaeng yang dinilai gagal.
“Pokoknya dalam waktu dekat, kami akan menjadwalkan untuk memanggil Dinkes, dan pihak RSUD, termasuk Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi,” tandas Anas.
“Kamis udah menyosialisasikan kepada masyarakat, agar jika ada yang diketahui bermasalah gizinya, untuk melapor ke Puskesmas terdekat,” jelas Kepala Bidang Kesehatan Keluarga, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantaeng Dahria, Jumat (7/9/2012).
Sementara itu, dia menyebutkan kondisi anak yang menderita gizi buruk Nurbaety yang berusia tujuh tahun dengan berat badan hanya 10 kilogram, sudah mulai membaik. Pihaknya juga sudah langsung mengecek ketersediaan makanan bagi anak tersebut. Dahria mengatakan keluarga Nurbaety, selama ini hidup tidak menetap di Bantaeng, sehingga saat petugas melakukan pengecekan, Nurbaety belum ada di Bantaeng. Apalagi, usianya sudah di atas lima tahun, sehingga memang tidak masuk pada program sasaran keluarga.
“Nanti kalau sakit, baru ada di Bantaeng. Namun kami tetap melakukan penanganan dan kebutuhan gizinya,” jelas dia.
Kadis Kesehatan Bantaeng, Takudaeng menyebutkan pihaknya selama ini melakukan penanggulangan gizi terhadap ibu hami dan juga bayinya. Anggaran yang disiapkan sebanyak Rp200 juta pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2012 ini.
Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bantaeng Anas Hasan mengatakan kasus gizi buruk ini baru terungkap. Sejumlah kasus gizi buruk ini akan menjadi perhatian serius bagi DPRD. Pihaknya akan memanggil pihak-pihak terkait untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantaeng yang dinilai gagal.
“Pokoknya dalam waktu dekat, kami akan menjadwalkan untuk memanggil Dinkes, dan pihak RSUD, termasuk Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi,” tandas Anas.
(azh)