Terminal Pulogebang akan dikelola swasta
Selasa, 04 September 2012 - 08:54 WIB
Terminal Pulogebang akan dikelola swasta
A
A
A
Sindonews.com - Pengelolaan Terminal Pulogebang, Jakarta Timur, akan diberikan kepada pihak swasta. Kebijakan tersebut dikeluarkan agar pengelolaan terminal berkonsep modern itu lebih profesional.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan, sebagai terminal percontohan di Jakarta dan Indonesia, Pulogebang harus dikelola dengan baik dan maksimal. Apalagi, di tempat perpindahan penumpang antarkota itu nantinya terdapat banyak fasilitas canggih.
“Semoga keberadaannya dapat memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat dan pengguna terminal lainnya. Saat ini masih dalam tahap penyelesaian akhir pembangunan terminal,” kata Udar Pristono di sela-sela halal bihalal Dishub DKI Jakarta, Senin 3 September 2012.
Menurut dia, rencana tahun depan akan dilakukan lelang pengelolaan Terminal Pulogebang, sehingga pihak yang mengelola nantinya kredibel karena melalui seleksi yang ketat. Pengelola itu nantinya memiliki kemampuan seperti pengelolaan mal di Jakarta.
“Tujuannya agar keberadaan Terminal Pulogebang bisa terjaga dan memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tukasnya.
Nantinya terminal itu menjadi tujuan trayek bagi angkutan antarkota antarprovinsi (AKAP). Selain itu, angkutan dalam kota, seperti bus kota, bus Transjakarta, dan mikrolet, juga melayani trayek ke Pulogebang. Tidak hanya itu, di Terminal Pulogebang juga terdapat kawasan bisnis, maka pergerakan ekonomi di tempat itu sangat besar. Agar perekonomian di tempat ini berjalan dengan kondusif, Terminal Pulogebang harus dikelola secara profesional.
“Sedangkan kapasitas Dinas Perhubungan di Terminal Pulogebang lebih pada tataran pengawasan, ”sambungnya.
Dia menyebutkan, rencana ini akan disampaikan oleh Dishub dalam pembahasan APBD 2013. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Terminal Pulogebang Tiodor menambahkan, saat ini proses pembangunan Terminal Pulogebang masih berlangsung.
Soft launching beberapa waktu lalu baru dimanfaatkan oleh beberapa angkutan bus Transjakarta dan angkutan kota KWK. “Nantinya seluruh pelaku usaha di Terminal Pulogadung akan pindah ke sini,” ujarnya.
Terminal ini diperkirakan beroperasi pertengahan tahun depan. Keberadaan terminal pengganti Terminal Pulogadung ini berkonsep modern dan futuristik. Konstruksi terminal ini dibuat dalam empat lantai. Lantai satu untuk areal parkir taksi, pengunjung, food court, ruang tunggu penumpang antarkota, dalam kota, dan bus Transjakarta.
Di lantai ini tersedia taman hijau dan tempat perbelanjaan umum. Juga dilengkapi mezzanine yang diperuntukkan bagi loket keberangkatan luar kota dalam kota. Lantai dua untuk tempat bus menunggu penumpang. Lantai ini langsung terhubung dengan flyover akses JORR I.
Di lantai ini juga dilengkapi tempat penurunan penumpang bus Transjakarta, dan sirkulasi jalur angkutan umum. Lantai tiga untuk areal pertokoan dan lantai empat untuk areal perkantoran. Terminal ditargetkan bisa menampung 2.977 bus.
Dilengkapi dengan areal parkir seluas 18.000 meter persegi untuk menampung kendaraan pribadi sebanyak 535 unit. Terminal Pulogebang merupakan terminal percontohan di Jakarta untuk memberikan pelayanan jasa angkutan antarkota antar provinsi (AKAP) terbaik.
Pembangunan Terminal Pulogebang menggunakan anggaran dengan sistem multiyears, dari 2010 hingga 2012. Total dana dibutuhkan untuk pengerjaan fisik terminal ini sebesar Rp450 miliar.
Pengerjaan konstruksi Terminal Pulogebang sempat ditunda beberapa kali karena perubahan desain, terutama terkait pembangunan flyover yang menghubungkan terminal dengan JORR I. Hanya, keberadaan terminal ini tidak terintegrasi dengan jalur kereta.
Di bagian lain, Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta Soerdiman menuturkan seharusnya semua di Jakarta memiliki fisik sama dengan Terminal Pulogebang.
Dalam rancangannya, tempat perpindahan bus AKAP ini memiliki sistem lebih bagus. Menurutnya, selama ini keberadaan terminal di Jakarta tidak dilengkapi dengan sistem manajemen baik. “Buktinya pelayanan terminal di Jakarta sangat buruk dan di bawah standar terminal untuk Ibu Kota,” tuturnya.
Dia menyoroti pelayanan petugas yang belum mampu memberikan kenyamanan dan pengaturan kepada pengguna jasa terminal itu sendiri. Baik itu pihak armada maupun penumpang.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan, sebagai terminal percontohan di Jakarta dan Indonesia, Pulogebang harus dikelola dengan baik dan maksimal. Apalagi, di tempat perpindahan penumpang antarkota itu nantinya terdapat banyak fasilitas canggih.
“Semoga keberadaannya dapat memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat dan pengguna terminal lainnya. Saat ini masih dalam tahap penyelesaian akhir pembangunan terminal,” kata Udar Pristono di sela-sela halal bihalal Dishub DKI Jakarta, Senin 3 September 2012.
Menurut dia, rencana tahun depan akan dilakukan lelang pengelolaan Terminal Pulogebang, sehingga pihak yang mengelola nantinya kredibel karena melalui seleksi yang ketat. Pengelola itu nantinya memiliki kemampuan seperti pengelolaan mal di Jakarta.
“Tujuannya agar keberadaan Terminal Pulogebang bisa terjaga dan memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tukasnya.
Nantinya terminal itu menjadi tujuan trayek bagi angkutan antarkota antarprovinsi (AKAP). Selain itu, angkutan dalam kota, seperti bus kota, bus Transjakarta, dan mikrolet, juga melayani trayek ke Pulogebang. Tidak hanya itu, di Terminal Pulogebang juga terdapat kawasan bisnis, maka pergerakan ekonomi di tempat itu sangat besar. Agar perekonomian di tempat ini berjalan dengan kondusif, Terminal Pulogebang harus dikelola secara profesional.
“Sedangkan kapasitas Dinas Perhubungan di Terminal Pulogebang lebih pada tataran pengawasan, ”sambungnya.
Dia menyebutkan, rencana ini akan disampaikan oleh Dishub dalam pembahasan APBD 2013. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Terminal Pulogebang Tiodor menambahkan, saat ini proses pembangunan Terminal Pulogebang masih berlangsung.
Soft launching beberapa waktu lalu baru dimanfaatkan oleh beberapa angkutan bus Transjakarta dan angkutan kota KWK. “Nantinya seluruh pelaku usaha di Terminal Pulogadung akan pindah ke sini,” ujarnya.
Terminal ini diperkirakan beroperasi pertengahan tahun depan. Keberadaan terminal pengganti Terminal Pulogadung ini berkonsep modern dan futuristik. Konstruksi terminal ini dibuat dalam empat lantai. Lantai satu untuk areal parkir taksi, pengunjung, food court, ruang tunggu penumpang antarkota, dalam kota, dan bus Transjakarta.
Di lantai ini tersedia taman hijau dan tempat perbelanjaan umum. Juga dilengkapi mezzanine yang diperuntukkan bagi loket keberangkatan luar kota dalam kota. Lantai dua untuk tempat bus menunggu penumpang. Lantai ini langsung terhubung dengan flyover akses JORR I.
Di lantai ini juga dilengkapi tempat penurunan penumpang bus Transjakarta, dan sirkulasi jalur angkutan umum. Lantai tiga untuk areal pertokoan dan lantai empat untuk areal perkantoran. Terminal ditargetkan bisa menampung 2.977 bus.
Dilengkapi dengan areal parkir seluas 18.000 meter persegi untuk menampung kendaraan pribadi sebanyak 535 unit. Terminal Pulogebang merupakan terminal percontohan di Jakarta untuk memberikan pelayanan jasa angkutan antarkota antar provinsi (AKAP) terbaik.
Pembangunan Terminal Pulogebang menggunakan anggaran dengan sistem multiyears, dari 2010 hingga 2012. Total dana dibutuhkan untuk pengerjaan fisik terminal ini sebesar Rp450 miliar.
Pengerjaan konstruksi Terminal Pulogebang sempat ditunda beberapa kali karena perubahan desain, terutama terkait pembangunan flyover yang menghubungkan terminal dengan JORR I. Hanya, keberadaan terminal ini tidak terintegrasi dengan jalur kereta.
Di bagian lain, Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta Soerdiman menuturkan seharusnya semua di Jakarta memiliki fisik sama dengan Terminal Pulogebang.
Dalam rancangannya, tempat perpindahan bus AKAP ini memiliki sistem lebih bagus. Menurutnya, selama ini keberadaan terminal di Jakarta tidak dilengkapi dengan sistem manajemen baik. “Buktinya pelayanan terminal di Jakarta sangat buruk dan di bawah standar terminal untuk Ibu Kota,” tuturnya.
Dia menyoroti pelayanan petugas yang belum mampu memberikan kenyamanan dan pengaturan kepada pengguna jasa terminal itu sendiri. Baik itu pihak armada maupun penumpang.
(lil)