Disdikpora jaring 3.568 siswa putus sekolah
Minggu, 02 September 2012 - 20:55 WIB
Disdikpora jaring 3.568 siswa putus sekolah
A
A
A
Sindonews.com - Dinas Pendidikan dan Pemuda Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Tengah melakukan pendataan siswa yang putus sekolah. Sedikitnya, 3.568 anak siswa yang putus sekolah telah dijaring untuk dalam program transisi.
Kabid PLS Disdikpora Polewali Mandar, Yohanis Piterson, menyampaikan, dari 16 kecamatan yang dimiliki Polman, pendataan kali ini pada 14 kecamatan. Dua kecamatan yakni Kecamatan Binuang dan Mapilli, tidak dilakukan lagi karena dua kecamatan tersebut, sebelumnya sudah dilakukan program transisi.
Diuraikan, dalam pendataan ini, dari jumlah siswa yang terjaring dalam program transisi tersebut, di antaranya 240 anak yang berasal dari Kecamatan Tinambung, 784 dari Kecamatan Campalagian, 332 dari Kecamatan Wonomulyo, 153 dari Kecamatan Polewali, 311 dari Kecamatan Tutar, 156 dari Kecamatan Tapango, 109 dari Kecamatan Matangnga, 243 dari Kecamatan Luyo, 204 dari Kecamatan Limboro, 399 dari Kecamatan Balanipa, 123 dari Kecamatan Anreapi, 154 dari Kecamatan Matakali, 230 dari Kecamatan Alu, dan 130 dari Kecamatan Bulo.
Rencananya, setelah pendataan ini dilakukan, pemerintah akan berdiskusi dengan anak dan orang tua mereka serta unsur-unsur terkait pada 9-17 September mendatang.
“Itu dilakukan untuk mencari tau alasan anak tersebut putus sekolah sehingga pemerintah bisa mengambil tindakan dan memberikan solusi agar anak tersebut bisa melanjutkan pendidikannya,” ujar Yohanis menjelaskan kepada wartawan, Minggu (2/9/2012).
Karena itu, lanjut Yohanis, diharapkan dalam diskusi nantinya, bisa memberikan penyadaran kepada para orang tuanya bahwa pendidikan untuk anak sangat perlu untuk direncanakan sedini mungkin. Dan itu harus menjadi bagian utama dari perencanaan masa depan anak.
Kabid PLS Disdikpora Polewali Mandar, Yohanis Piterson, menyampaikan, dari 16 kecamatan yang dimiliki Polman, pendataan kali ini pada 14 kecamatan. Dua kecamatan yakni Kecamatan Binuang dan Mapilli, tidak dilakukan lagi karena dua kecamatan tersebut, sebelumnya sudah dilakukan program transisi.
Diuraikan, dalam pendataan ini, dari jumlah siswa yang terjaring dalam program transisi tersebut, di antaranya 240 anak yang berasal dari Kecamatan Tinambung, 784 dari Kecamatan Campalagian, 332 dari Kecamatan Wonomulyo, 153 dari Kecamatan Polewali, 311 dari Kecamatan Tutar, 156 dari Kecamatan Tapango, 109 dari Kecamatan Matangnga, 243 dari Kecamatan Luyo, 204 dari Kecamatan Limboro, 399 dari Kecamatan Balanipa, 123 dari Kecamatan Anreapi, 154 dari Kecamatan Matakali, 230 dari Kecamatan Alu, dan 130 dari Kecamatan Bulo.
Rencananya, setelah pendataan ini dilakukan, pemerintah akan berdiskusi dengan anak dan orang tua mereka serta unsur-unsur terkait pada 9-17 September mendatang.
“Itu dilakukan untuk mencari tau alasan anak tersebut putus sekolah sehingga pemerintah bisa mengambil tindakan dan memberikan solusi agar anak tersebut bisa melanjutkan pendidikannya,” ujar Yohanis menjelaskan kepada wartawan, Minggu (2/9/2012).
Karena itu, lanjut Yohanis, diharapkan dalam diskusi nantinya, bisa memberikan penyadaran kepada para orang tuanya bahwa pendidikan untuk anak sangat perlu untuk direncanakan sedini mungkin. Dan itu harus menjadi bagian utama dari perencanaan masa depan anak.
(azh)