PKL di Malaysia, pelajar SMK tewas
Minggu, 26 Agustus 2012 - 20:20 WIB
PKL di Malaysia, pelajar SMK tewas
A
A
A
Sindonews.com - Salah satu pelajar jurusan otomotif SMK Di Kabupaten Indramayu dikabarkan meninggal dunia saat melakanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di pabrik triplek PT Pliwud, daerah Bintulan, Serawak, Malaysia.
Diduga kuat, korban meninggal dunia akibat terkena serangan paru-paru basah saat bekerja. Siswa tersebut bernama Rizki maulana (17) pelajar kelas 2 SMK Nasional Indramayu asal Jalan Haji Nur, RT 19/8 No. 37 Desa Pekandangan Kecamatan Indramayu.
Burhanudin (65) orang tua korban mengatakan, keberangkatan putranya untuk mengikuti PKL dari sekolahnya dilakukan sejak september 2011. Korban bersama ratusan pelajar beserta alumni menuju Negeri jiran. Berbekal ilmu otomotif, ia ditempatkan di pabrik Triplek di Serawak Malaysia.
Selama 10 bulan, Rizki tidak merasakan adanya masalah terhadap kesehatannya. Hal ini telah dikuatkan dengan hasil medical check up dari puskesmas setempat, bahwa korban tidak memiliki kelainan. Tapi, dalam dua bulan terakhir, Rizki Maulana merasakan panas dingin tak kunjung membaik.
"Melalui informasi temannya via SMS, Rizki saat dilokasi magang, kerap memaksakan untuk tetap bekerja,meski kondisinya kurang fit. Hal itu terjadi karena dari pihak perusahaan melalui mandor menegaskan bahwa status mereka di perusahaan sebagai TKI," ujar Burhan menjelaskan, Minggu (26/8/2012).
Mendengar anaknya memiliki status sebagai pekerja disana, ia mengaku heran. "Saya sudah konfirmasi ke pihak sekolah dan ternyata statusnya bukan sebagai pekerja melainkan sebagai pelajar magang," katanya.
Padahal SMK yang dalam naungan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmaigarasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Indramayu ini telah menempuh berbagai syarat yang telah ditentukan oleh perusahaan.
"Saya juga bingung dengan informasi dari Rizky yang mengaku statusnya sebagai TKI, akan tetapi arsip yang tertera di sekolah tersebut sebagai siswa PKL,"ungkapnya.
Dijelaskan Burhan, Sebelum kematian,almarhum terakhir kali menghubungi keluarga saat hari raya Idul fitri 1433 H, mengabarkan bahwa kondisinya telah membaik. Tak disangka dua hari kemudian tepatnya Selasa 21 Agustus setelah magrib, diinformasikan oleh pihak Sekolah bahwa Rizky telah meninggal dunia dengan vonis paru-paru basah kronis dari hasil tes dokter rumah sakit setempat.
"Kami juga akan meminta pertanggungjawabkan perusahaan tempat Rizky magang dengan bantuan pihak sekolah," katanya.
Sementara itu, ibu kandung korban, Murminah (63) menambahkan hingga kini belum ada kejelasan tentang pertanggungjawaban perusahaan tempat anaknya magang di Malaysia.
"Belum ada kejelasan, mereka mau memberikan santunan atau asuransi. Tapi kejadian ini akan kita lakukan kepada Dinsosnakertrans," katanya.
Diduga kuat, korban meninggal dunia akibat terkena serangan paru-paru basah saat bekerja. Siswa tersebut bernama Rizki maulana (17) pelajar kelas 2 SMK Nasional Indramayu asal Jalan Haji Nur, RT 19/8 No. 37 Desa Pekandangan Kecamatan Indramayu.
Burhanudin (65) orang tua korban mengatakan, keberangkatan putranya untuk mengikuti PKL dari sekolahnya dilakukan sejak september 2011. Korban bersama ratusan pelajar beserta alumni menuju Negeri jiran. Berbekal ilmu otomotif, ia ditempatkan di pabrik Triplek di Serawak Malaysia.
Selama 10 bulan, Rizki tidak merasakan adanya masalah terhadap kesehatannya. Hal ini telah dikuatkan dengan hasil medical check up dari puskesmas setempat, bahwa korban tidak memiliki kelainan. Tapi, dalam dua bulan terakhir, Rizki Maulana merasakan panas dingin tak kunjung membaik.
"Melalui informasi temannya via SMS, Rizki saat dilokasi magang, kerap memaksakan untuk tetap bekerja,meski kondisinya kurang fit. Hal itu terjadi karena dari pihak perusahaan melalui mandor menegaskan bahwa status mereka di perusahaan sebagai TKI," ujar Burhan menjelaskan, Minggu (26/8/2012).
Mendengar anaknya memiliki status sebagai pekerja disana, ia mengaku heran. "Saya sudah konfirmasi ke pihak sekolah dan ternyata statusnya bukan sebagai pekerja melainkan sebagai pelajar magang," katanya.
Padahal SMK yang dalam naungan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmaigarasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Indramayu ini telah menempuh berbagai syarat yang telah ditentukan oleh perusahaan.
"Saya juga bingung dengan informasi dari Rizky yang mengaku statusnya sebagai TKI, akan tetapi arsip yang tertera di sekolah tersebut sebagai siswa PKL,"ungkapnya.
Dijelaskan Burhan, Sebelum kematian,almarhum terakhir kali menghubungi keluarga saat hari raya Idul fitri 1433 H, mengabarkan bahwa kondisinya telah membaik. Tak disangka dua hari kemudian tepatnya Selasa 21 Agustus setelah magrib, diinformasikan oleh pihak Sekolah bahwa Rizky telah meninggal dunia dengan vonis paru-paru basah kronis dari hasil tes dokter rumah sakit setempat.
"Kami juga akan meminta pertanggungjawabkan perusahaan tempat Rizky magang dengan bantuan pihak sekolah," katanya.
Sementara itu, ibu kandung korban, Murminah (63) menambahkan hingga kini belum ada kejelasan tentang pertanggungjawaban perusahaan tempat anaknya magang di Malaysia.
"Belum ada kejelasan, mereka mau memberikan santunan atau asuransi. Tapi kejadian ini akan kita lakukan kepada Dinsosnakertrans," katanya.
(azh)