Putaran dua, koalisi besar hanya pepesan kosong
Rabu, 15 Agustus 2012 - 19:27 WIB
Putaran dua, koalisi besar hanya pepesan kosong
A
A
A
Sindonews.com - Direktur Eksekutif Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) Husin Yazid mengatakan, koalisi besar yang digalang incumbent Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) hanya pepesan kosong.
Sebab Pilkada DKI benar-benar menjadi ajang pertarungan figur, sedangkan peran partai tak terlalu signifikan dalam pemenangan Pilkada.
"Kekuatan figur lebih menentukan dibanding dukungan partai. Dengan logika ini, maka boleh jadi koalisi besar partai-partai mendukung salah satu pasangan calon hanya menjadi pepesan kosong," terang Husin di Jakarta, Rabu (15/8/2012).
Dalam Pilkada DKI Jakarta putaran pertama, pertarungan terbagi dalam dua arus besar. Yakni kekuatan soft power bersaing dengan kekuatan hard power. Kekuatan soft power diwakili oleh Joko Widodo atau Jokowi, Hidayat Nurwahid, dan Faisal Basri yang mengedepankan gagasan dan konsep.
Sementara kekuatan hard power direpresentasikan oleh Alex Noerdin, Fauzi Bowo, dan Hendardji, yang katanya mengandalkan kekuatan finansial.
"Kemudian sejarah Pilkada mencatatkan Jokowi dan Foke yang lolos ke putaran dua. Ini makin membuat menarik Pilkada DKI menjelang putaran kedua," terangnya.
Menjelang putaran dua, Puskaptis melakukan survei untuk membaca peta persaingan. Survei dilakukan pada 9 Agustus 2012. Intinya, ada beberapa hal yang menarik dalam hasil survei Puskaptis tersebut.
Pertama, saat ditanyakan pada pemilih Golkar dan PPP, mereka ternyata pilihannya begitu cair. Itu pula yang berhasil Puskaptis rekam saat putaran pertama dilangsungkan. Tak heran, bila Alex Noerdin jeblok.
"Tapi fakta itu menjelaskan bahwa pemilih punya arah politik sendiri, tak mudah disetir elit partainya. Boleh saja, elit partai memutuskan dukungannya pada calon tertentu, tapi belum tentu itu diamini oleh konstituennya," terang Husin.
Dengan kenyataan tersebut, Husin mengingatkan, bagi para tim sukses harus berhati-hati karena pertarungan Pilkada DKI adalah pertarungan figur. Terlebih hasil survei mencatatkan, hanya 25 konstituen partai yang bakal mau memilih sesuai pilihan atau anjuran elit partainya. Sisanya 75 persen bakal memilih sesuai hati nurani.
"Hal ini mengisyaratkan koalisi besar yang berhasil dihimpun pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli, bisa jadi hanya pepesan kosong. Besar di elit, tapi tak menetes ke bawah," pungkas Husin.
Sebab Pilkada DKI benar-benar menjadi ajang pertarungan figur, sedangkan peran partai tak terlalu signifikan dalam pemenangan Pilkada.
"Kekuatan figur lebih menentukan dibanding dukungan partai. Dengan logika ini, maka boleh jadi koalisi besar partai-partai mendukung salah satu pasangan calon hanya menjadi pepesan kosong," terang Husin di Jakarta, Rabu (15/8/2012).
Dalam Pilkada DKI Jakarta putaran pertama, pertarungan terbagi dalam dua arus besar. Yakni kekuatan soft power bersaing dengan kekuatan hard power. Kekuatan soft power diwakili oleh Joko Widodo atau Jokowi, Hidayat Nurwahid, dan Faisal Basri yang mengedepankan gagasan dan konsep.
Sementara kekuatan hard power direpresentasikan oleh Alex Noerdin, Fauzi Bowo, dan Hendardji, yang katanya mengandalkan kekuatan finansial.
"Kemudian sejarah Pilkada mencatatkan Jokowi dan Foke yang lolos ke putaran dua. Ini makin membuat menarik Pilkada DKI menjelang putaran kedua," terangnya.
Menjelang putaran dua, Puskaptis melakukan survei untuk membaca peta persaingan. Survei dilakukan pada 9 Agustus 2012. Intinya, ada beberapa hal yang menarik dalam hasil survei Puskaptis tersebut.
Pertama, saat ditanyakan pada pemilih Golkar dan PPP, mereka ternyata pilihannya begitu cair. Itu pula yang berhasil Puskaptis rekam saat putaran pertama dilangsungkan. Tak heran, bila Alex Noerdin jeblok.
"Tapi fakta itu menjelaskan bahwa pemilih punya arah politik sendiri, tak mudah disetir elit partainya. Boleh saja, elit partai memutuskan dukungannya pada calon tertentu, tapi belum tentu itu diamini oleh konstituennya," terang Husin.
Dengan kenyataan tersebut, Husin mengingatkan, bagi para tim sukses harus berhati-hati karena pertarungan Pilkada DKI adalah pertarungan figur. Terlebih hasil survei mencatatkan, hanya 25 konstituen partai yang bakal mau memilih sesuai pilihan atau anjuran elit partainya. Sisanya 75 persen bakal memilih sesuai hati nurani.
"Hal ini mengisyaratkan koalisi besar yang berhasil dihimpun pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli, bisa jadi hanya pepesan kosong. Besar di elit, tapi tak menetes ke bawah," pungkas Husin.
(san)