Mediasi buntu, warga Tangkuban perahu rusuh
Rabu, 15 Agustus 2012 - 17:50 WIB
Mediasi buntu, warga Tangkuban perahu rusuh
A
A
A
Sindonews.com - Pertemuan antara PT GRPP dengan perwakilan warga dan pedagang Tangkubanparahu berakhir buntu. Massa yang marah akhirnya nekat membakar sejumlah kursi, meja, berkas, dan apapun yang ada di pintu masuk tempat wisata Tangkuban perahu.
Selama pertemuan antara PT GRPP dengan perwakilan warga, sejumlah massa memblokir pintu masuk Tangkubanparahu. Begitu mengetahui mediasi antara perwakilan PT GRPP yang diwakili Koordinator lapangan Ruslan dengan Kepala Desa Cikole Jajang Ruhiyat, berlangsung buntu massa langsung beringas.
Banyak massa yang memprovokasi, 'usir-usir', 'bakar-bakar', sehingga mediasi yang dilakukan di tengah kerumunan itu menjadi kacau. Bahkan berkas-berkas yang dimiliki oleh PT GRPP diambil dan langsung dibakar.
Bukan hanya itu, Ruslan juga menjadi sasaran amuk warga yang sudah kalap. Warga terus mencaci maki, menunjuk-nunjuk, bahkan berusaha untuk memukulinya.
Puncaknya ketika massa sudah tidak terkendali, Ruslan coba melarikan diri dengan pengamanan petugas. Namun itu justru memancing amarah massa dan terus memburunya sambil berusaha memukul.
Keadaan semakin mencekam karena semua berusaha memukul Ruslan, sehingga membuat Kades Cikole juga sempat kena bogem.
Ketua Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Maliki mengatakan masyarakat dan pedagang sudah tidak merasa nyaman dengan perilaku PT GRPP.
Pasalnya mereka hanya mengambil keuntungan tanpa memperhatikan lingkungan, menekan pedagang yang mau membetulkan kiosnya, menggunakan preman sebagai sekuriti, pemerintah dan warga hanya jadi penonton, dan menuntut Rp100 juta kepada pedagang yang memotong ranting.
"Pedagang dituntut Rp100 juta tapi perilaku mereka lebih parah dalam merusak lingkungan dan tidak pernah ada sanksi," ucapnya.
Ruslan mengatakan, PT GRPP membantah semua tuduhan yang dilayangkan oleh massa gabungan warga dan pedagang. Selama ini, pihaknya berusaha kooperatif dan memberdayakan masyarakat sekitar.
"Kami tidak pernah melakukan intimidasi ataupun memeras Rp100 juta seperti yang dituduhkan," ucapnya singkat.
Selama pertemuan antara PT GRPP dengan perwakilan warga, sejumlah massa memblokir pintu masuk Tangkubanparahu. Begitu mengetahui mediasi antara perwakilan PT GRPP yang diwakili Koordinator lapangan Ruslan dengan Kepala Desa Cikole Jajang Ruhiyat, berlangsung buntu massa langsung beringas.
Banyak massa yang memprovokasi, 'usir-usir', 'bakar-bakar', sehingga mediasi yang dilakukan di tengah kerumunan itu menjadi kacau. Bahkan berkas-berkas yang dimiliki oleh PT GRPP diambil dan langsung dibakar.
Bukan hanya itu, Ruslan juga menjadi sasaran amuk warga yang sudah kalap. Warga terus mencaci maki, menunjuk-nunjuk, bahkan berusaha untuk memukulinya.
Puncaknya ketika massa sudah tidak terkendali, Ruslan coba melarikan diri dengan pengamanan petugas. Namun itu justru memancing amarah massa dan terus memburunya sambil berusaha memukul.
Keadaan semakin mencekam karena semua berusaha memukul Ruslan, sehingga membuat Kades Cikole juga sempat kena bogem.
Ketua Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Maliki mengatakan masyarakat dan pedagang sudah tidak merasa nyaman dengan perilaku PT GRPP.
Pasalnya mereka hanya mengambil keuntungan tanpa memperhatikan lingkungan, menekan pedagang yang mau membetulkan kiosnya, menggunakan preman sebagai sekuriti, pemerintah dan warga hanya jadi penonton, dan menuntut Rp100 juta kepada pedagang yang memotong ranting.
"Pedagang dituntut Rp100 juta tapi perilaku mereka lebih parah dalam merusak lingkungan dan tidak pernah ada sanksi," ucapnya.
Ruslan mengatakan, PT GRPP membantah semua tuduhan yang dilayangkan oleh massa gabungan warga dan pedagang. Selama ini, pihaknya berusaha kooperatif dan memberdayakan masyarakat sekitar.
"Kami tidak pernah melakukan intimidasi ataupun memeras Rp100 juta seperti yang dituduhkan," ucapnya singkat.
(ysw)