Dibawa keliling, korban dipaksa beli ponsel
Rabu, 01 Agustus 2012 - 08:40 WIB
Dibawa keliling, korban dipaksa beli ponsel
A
A
A
Sindonews.com - Aksi perampokan di dalam angkutan umum kembali terjadi di Jakarta. Kali ini seorang wanita menjadi korban perampokan empat lelaki, di dalam taksi yang ditumpanginya pada Senin 30 Juli 2012 malam lalu.
Korban yang diketahui bernama Juliana Taufic (35), hanya bisa pasrah saat kawanan perampok tersebut menguras uang jutaan rupiah miliknya. Kapolsek Kembangan Kompol Sutoyo mengatakan, berdasarkan keterangan suami Juliana yang melaporkan kasus perampokan ini, aksi perampokan yang dialami istrinya ini bermula saat korban menghentikan taksi di depan Mal Puri Indah, Jakarta Barat, Senin 30 Juli 2012 lalu sekira pukul 18.00 WIB.
Tanpa curiga, Juliana pun menaiki taksi dan meminta diantar ke rumahnya di wilayah Cengkareng, Jakarta Barat. Baru beberapa meter taksi melaju, sang pengemudi taksi menghentikan laju kendaraannya. Yang membuat Juliana terkejut saat taksi tersebut berhenti, masuklah tiga lelaki tak dikenal. Seorang pelaku duduk di samping sopir, adapun dua pelaku lain mengapit Juliana di belakang kemudi.
Di dalam taksi inilah, para pelaku mengancam korban agar tidak melakukan perlawanan. Tak ingin nyawanya sia-sia melayang, Juliana pun hanya bisa pasrah dan menuruti semua keinginan pelaku. Sutoyo menjelaskan, dari kawasan Mal Puri Indah ini, korban dibawa pelaku menggunakan taksi tersebut berputar-putar ke sejumlah tempat. Setelah beberapa jam keliling, kawanan perampok ini membawa korban ke kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Di tempat inilah, di bawah ancaman dan pengawalan ketat tiga pelaku. Korban bersama ketiga pelaku masuk sebuah toko ponsel. Di toko ini, para pelaku menyuruh paksa korban untuk membeli smartphone BlackBerry untuk para pelaku. "Korban dipaksa membelikan empat BlackBerry untuk para pelaku. Di bawah ancaman pelaku, korban membeli empat ponsel tersebut menggunakan uang yang ada di ATM-nya,” katanya di Jakarta, Selasa 31 Juli 2012.
Seusai membeli ponsel, sekitar pukul 24.00 WIB, korban akhirnya dilepaskan dan ditinggalkan pelaku di kawasan Sunter. Seusai lepas dari sekapan para pelaku ini, korban yang masih menyimpan uang Rp300.000 di dalam tasnya, pulang ke rumah menggunakan sebuah taksi lain. “Kami masih melakukan penyelidikan terkait kasus ini. Korban tidak hafal warna taksi dan perusahaan taksi yang dipergunakan untuk aksi perampokan tersebut,” tukasnya.
Kriminolog UI Eko Haryanto mengatakan, ada beberapa faktor yang membuat para pelaku kejahatan menggunakan taksi sebagai alat untuk melakukan aksi kejahatan, seperti tingginya nilai setoran dari taksi tersebut, impitan ekonomi. Padahal, lanjut Eko, pencegahan untuk para pengemudi taksi melakukan tindak kriminal sudah cukup ketat, di antaranya dengan tanda pengenal, nomor seri mobil, ataupun nomor pelat taksi tersebut. Hal ini ditujukan agar para sopir taksi yang melakukan tindak kriminalitas dengan mudah tertangkap.
“Calon penumpang harus lebih teliti jika akan menggunakan jasa angkutan taksi,” ujarnya.
Korban yang diketahui bernama Juliana Taufic (35), hanya bisa pasrah saat kawanan perampok tersebut menguras uang jutaan rupiah miliknya. Kapolsek Kembangan Kompol Sutoyo mengatakan, berdasarkan keterangan suami Juliana yang melaporkan kasus perampokan ini, aksi perampokan yang dialami istrinya ini bermula saat korban menghentikan taksi di depan Mal Puri Indah, Jakarta Barat, Senin 30 Juli 2012 lalu sekira pukul 18.00 WIB.
Tanpa curiga, Juliana pun menaiki taksi dan meminta diantar ke rumahnya di wilayah Cengkareng, Jakarta Barat. Baru beberapa meter taksi melaju, sang pengemudi taksi menghentikan laju kendaraannya. Yang membuat Juliana terkejut saat taksi tersebut berhenti, masuklah tiga lelaki tak dikenal. Seorang pelaku duduk di samping sopir, adapun dua pelaku lain mengapit Juliana di belakang kemudi.
Di dalam taksi inilah, para pelaku mengancam korban agar tidak melakukan perlawanan. Tak ingin nyawanya sia-sia melayang, Juliana pun hanya bisa pasrah dan menuruti semua keinginan pelaku. Sutoyo menjelaskan, dari kawasan Mal Puri Indah ini, korban dibawa pelaku menggunakan taksi tersebut berputar-putar ke sejumlah tempat. Setelah beberapa jam keliling, kawanan perampok ini membawa korban ke kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Di tempat inilah, di bawah ancaman dan pengawalan ketat tiga pelaku. Korban bersama ketiga pelaku masuk sebuah toko ponsel. Di toko ini, para pelaku menyuruh paksa korban untuk membeli smartphone BlackBerry untuk para pelaku. "Korban dipaksa membelikan empat BlackBerry untuk para pelaku. Di bawah ancaman pelaku, korban membeli empat ponsel tersebut menggunakan uang yang ada di ATM-nya,” katanya di Jakarta, Selasa 31 Juli 2012.
Seusai membeli ponsel, sekitar pukul 24.00 WIB, korban akhirnya dilepaskan dan ditinggalkan pelaku di kawasan Sunter. Seusai lepas dari sekapan para pelaku ini, korban yang masih menyimpan uang Rp300.000 di dalam tasnya, pulang ke rumah menggunakan sebuah taksi lain. “Kami masih melakukan penyelidikan terkait kasus ini. Korban tidak hafal warna taksi dan perusahaan taksi yang dipergunakan untuk aksi perampokan tersebut,” tukasnya.
Kriminolog UI Eko Haryanto mengatakan, ada beberapa faktor yang membuat para pelaku kejahatan menggunakan taksi sebagai alat untuk melakukan aksi kejahatan, seperti tingginya nilai setoran dari taksi tersebut, impitan ekonomi. Padahal, lanjut Eko, pencegahan untuk para pengemudi taksi melakukan tindak kriminal sudah cukup ketat, di antaranya dengan tanda pengenal, nomor seri mobil, ataupun nomor pelat taksi tersebut. Hal ini ditujukan agar para sopir taksi yang melakukan tindak kriminalitas dengan mudah tertangkap.
“Calon penumpang harus lebih teliti jika akan menggunakan jasa angkutan taksi,” ujarnya.
(lil)