Fasilitas minim, murid harus belajar sambil jongkok
Sabtu, 21 Juli 2012 - 16:35 WIB
Fasilitas minim, murid harus belajar sambil jongkok
A
A
A
Sindonews.com - Anggaran dana pendidikan sebesar yang tergolong besar pada 2012 ternyata belum dapat memberikan dampak terhadap persoalan pendidikan di daerah.
Di Sekolah Dasar Negeri 17, Jorong Tanjung Balit, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar) sebanyak 128 orang siswa harus rela belajar dalam kondisi yang memprihatinkan. Selain tidak dialiri listrik, mereka juga belajar jongkok di lantai dan bergantian dengan siswa lainnya.
Kepala SDN 17, Mirna mengatakan sekolah ini hanya memiliki dua kelas. Dalam satu kelas terdapat empat ruangan belajar yakni kelas 1, kelas 2, kelas 3 dan kelas 4 serta ruangan majelis guru dan kepala sekolah.
"Di kelas lainnya para siswa harus belajar secara bergantian duduk di kursi sementara mereka harus berdiri atau jongkok di lantai," ujar Mirna menjelaskan kepada wartawan, Sabtu (21/7/2012).
Mirna menjelaskan di sekolah ini terdapat sebanyak 128 orang siswa dan tujuh orang guru. Kondisi ini sudah berlangsung sejak 14 tahun yang lalu. Selama sekolah ini berdiri tidak satu pun pejabat daerah setempat atau dinas pendidikan datang ke sekolah ini.
"Kami berharap pemerintah lebih memperhatikan sekolah di daerah. Paling tidak sarana dan fasilitas di sini jadi lebih baik," papar Mirna.
Di Sekolah Dasar Negeri 17, Jorong Tanjung Balit, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar) sebanyak 128 orang siswa harus rela belajar dalam kondisi yang memprihatinkan. Selain tidak dialiri listrik, mereka juga belajar jongkok di lantai dan bergantian dengan siswa lainnya.
Kepala SDN 17, Mirna mengatakan sekolah ini hanya memiliki dua kelas. Dalam satu kelas terdapat empat ruangan belajar yakni kelas 1, kelas 2, kelas 3 dan kelas 4 serta ruangan majelis guru dan kepala sekolah.
"Di kelas lainnya para siswa harus belajar secara bergantian duduk di kursi sementara mereka harus berdiri atau jongkok di lantai," ujar Mirna menjelaskan kepada wartawan, Sabtu (21/7/2012).
Mirna menjelaskan di sekolah ini terdapat sebanyak 128 orang siswa dan tujuh orang guru. Kondisi ini sudah berlangsung sejak 14 tahun yang lalu. Selama sekolah ini berdiri tidak satu pun pejabat daerah setempat atau dinas pendidikan datang ke sekolah ini.
"Kami berharap pemerintah lebih memperhatikan sekolah di daerah. Paling tidak sarana dan fasilitas di sini jadi lebih baik," papar Mirna.
(azh)