Ronde 2 Pilgub DKI, Golput diprediksi meningkat
Selasa, 17 Juli 2012 - 08:38 WIB
Ronde 2 Pilgub DKI, Golput diprediksi meningkat
A
A
A
Sindonews.com - Partisipasi pemilih di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta diperkirakan turun dibandingkan putaran pertama. Tingkat partisipasi diprediksi berkurang sekitar 4-5%.
Pada Pilkada DKI Jakarta yang berlangsung Rabu 11 Juli 2012, angka golongan putih (golput) mencapai 37%. Direktur Eksekutif Jakarta Institute Ubaidillah menjelaskan, ada asumsi perubahan angka golput pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta pada 20 September mendatang.
Perubahan ini condong pada peningkatan golput. Penyebabnya dua pasangan independen Faisal Basri-Biem Benyamin dan Hendardji Soepandji-A Riza Patria tidak mengarahkan suara pendukungnya untuk memilih salah satu pasangan di putaran kedua nanti. Berdasarkan hasil hitungan cepat sejumlah lembaga survei, kedua pasangan ini kandas di putaran pertama.
"Akumulasi suara kedua pasangan tersebut berkisar 7–8%. Kelompok pemilih independen akan terbelah," ujar Ubaidillah kemarin.
Para pendukung kedua pasangan independen ini akan terbelah menjadi dua. Pertama, kelompok pemilih yang tetap menggunakan hak suara. Penggunaan ini lebih karena pemilih sadar dengan hak politik. Suara mereka diyakini memiliki peranan untuk perubahan Jakarta ke depan.
Kedua, kelompok pemilih yang konsisten dengan sikap independen. Pemilih ini merupakan kelompok warga tidak percaya terhadap kehadiran parpol. Meskipun calon yang dihadirkan parpol dianggap bersih dan memberikan harapan lebih baik terhadap nasib Ibu Kota ke depan.
"Persoalannya jumlah kelompok berbeda ini belum dapat digambarkan," ungkapnya.
Bila ada setengah pemilih independen ini konsisten dengan tidak berpihak kepada parpol, Ubaidillah berprediksi, partisipasi akan berkurang sekitar 4–5%. Sisanya akan menjadi rebutan dua pasangan cagub di putaran kedua.
Pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit menambahkan, sikap cagub independen tidak akan mengarahkan pemilihnya untuk mendukung salah satu pasangan cagub di putaran kedua karena cagub yang bertarung di putaran kedua merupakan calon dari parpol. Sementara visi cagub independen ini lepas dari keberadaan parpol.
"Bila mereka mengarahkan kepada salah satu calon, mereka mengkhianati misi perjuangan independen itu sendiri," katanya.
Arbi juga berpendapat sikap pemilih independen akan terbelah menjadi dua.Kelompok konsisten dengan independen dan kelompok sadar dengan semangat demokrasi.
Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta Pokja Sosialisasi Sumarno mengatakan, pihaknya menyadari potensi peningkatan golput di putaran kedua nanti. Potensi ini berasal dari pemilih empat pasangan cagub yang tidak lolos di putaran kedua.
Sebagai antisipasi, KPU DKI Jakarta meningkatkan sosialisasi pilkada putaran kedua. "Model sosialisasi untuk putaran kedua ini belum ditetapkan. Sejatinya pernyataan resmi ada putaran kedua itu belum ada karena masih dilakukan penghitungan di tingkat PPK dan dilanjutkan di KPU kabupaten/kota," ungkapnya.
Pascahasil penghitungan cepat lembaga survei, banyak pihak memprediksikan sikap politik dua pasangan calon dari parpol yang kalah di putaran pertama.
Suara kedua pasangan ini dianggap dapat mendongkrak perolehan suara pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahja Purnama (Ahok) dan Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara). Pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini yang diusung PKS mendapatkan suara 11%. Sementara pasangan Alex Noerdin-Nono Sampono yang diusung oleh Golkar, PPP, dan PDS mendapatkan 5,5%.
Pada Pilkada DKI Jakarta yang berlangsung Rabu 11 Juli 2012, angka golongan putih (golput) mencapai 37%. Direktur Eksekutif Jakarta Institute Ubaidillah menjelaskan, ada asumsi perubahan angka golput pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta pada 20 September mendatang.
Perubahan ini condong pada peningkatan golput. Penyebabnya dua pasangan independen Faisal Basri-Biem Benyamin dan Hendardji Soepandji-A Riza Patria tidak mengarahkan suara pendukungnya untuk memilih salah satu pasangan di putaran kedua nanti. Berdasarkan hasil hitungan cepat sejumlah lembaga survei, kedua pasangan ini kandas di putaran pertama.
"Akumulasi suara kedua pasangan tersebut berkisar 7–8%. Kelompok pemilih independen akan terbelah," ujar Ubaidillah kemarin.
Para pendukung kedua pasangan independen ini akan terbelah menjadi dua. Pertama, kelompok pemilih yang tetap menggunakan hak suara. Penggunaan ini lebih karena pemilih sadar dengan hak politik. Suara mereka diyakini memiliki peranan untuk perubahan Jakarta ke depan.
Kedua, kelompok pemilih yang konsisten dengan sikap independen. Pemilih ini merupakan kelompok warga tidak percaya terhadap kehadiran parpol. Meskipun calon yang dihadirkan parpol dianggap bersih dan memberikan harapan lebih baik terhadap nasib Ibu Kota ke depan.
"Persoalannya jumlah kelompok berbeda ini belum dapat digambarkan," ungkapnya.
Bila ada setengah pemilih independen ini konsisten dengan tidak berpihak kepada parpol, Ubaidillah berprediksi, partisipasi akan berkurang sekitar 4–5%. Sisanya akan menjadi rebutan dua pasangan cagub di putaran kedua.
Pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit menambahkan, sikap cagub independen tidak akan mengarahkan pemilihnya untuk mendukung salah satu pasangan cagub di putaran kedua karena cagub yang bertarung di putaran kedua merupakan calon dari parpol. Sementara visi cagub independen ini lepas dari keberadaan parpol.
"Bila mereka mengarahkan kepada salah satu calon, mereka mengkhianati misi perjuangan independen itu sendiri," katanya.
Arbi juga berpendapat sikap pemilih independen akan terbelah menjadi dua.Kelompok konsisten dengan independen dan kelompok sadar dengan semangat demokrasi.
Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta Pokja Sosialisasi Sumarno mengatakan, pihaknya menyadari potensi peningkatan golput di putaran kedua nanti. Potensi ini berasal dari pemilih empat pasangan cagub yang tidak lolos di putaran kedua.
Sebagai antisipasi, KPU DKI Jakarta meningkatkan sosialisasi pilkada putaran kedua. "Model sosialisasi untuk putaran kedua ini belum ditetapkan. Sejatinya pernyataan resmi ada putaran kedua itu belum ada karena masih dilakukan penghitungan di tingkat PPK dan dilanjutkan di KPU kabupaten/kota," ungkapnya.
Pascahasil penghitungan cepat lembaga survei, banyak pihak memprediksikan sikap politik dua pasangan calon dari parpol yang kalah di putaran pertama.
Suara kedua pasangan ini dianggap dapat mendongkrak perolehan suara pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahja Purnama (Ahok) dan Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara). Pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini yang diusung PKS mendapatkan suara 11%. Sementara pasangan Alex Noerdin-Nono Sampono yang diusung oleh Golkar, PPP, dan PDS mendapatkan 5,5%.
(san)