Presiden NII divonis sakit jiwa

loading...
Presiden NII divonis sakit jiwa
Presiden NII divonis sakit jiwa
Sindonews.com - Presiden Negara Islam Indonesia (NII) Sensen Komara divonis bersalah atas perbuatan makar dan penistaan agama dalam sidang vonis yang berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Garut, Jawa Barat (Jabar).

Majelis hakim tidak memutuskan agar panglima tertinggi NII Garut tersebut dihukum penjara. Hakim memutuskan agar dimasukkan ke bagian jiwa Rumah Sakit dr Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

“Terdakwa Sensen Komara terbukti bersalah. Tapi, seluruh perbuatannya itu tidak dapat dipertanggungjawabkan, karena terdakwa mengalami gangguan jiwa,” kata Ketua Majelis Hakim Iim Nurohim saat membacakan vonis di PN Garut, Senin (16/7/2012).

Di rumah sakit, Sensen mesti menjalani perawatan jiwa paling lama satu tahun. Tidak hanya itu, majelis hakim yang juga terdiri dari Hakim Anggota Aruminingsih dan Hendrawan pun memerintahkan agar ke-18 barang bukti perbuatan Sensen mesti dimusnahkan.



Jaksa Penuntut Umum (JPU) Gani Alamsyah mengatakan, pihaknya menerima putusan hakim dalam sidang vonis tersebut. Ia pun menyatakan siap akan segera mengeksekusi dengan mengirimkan Sensen ke bagian jiwa RSHS pada Selasa 17 Juli ini.

“Terdakwa harus segera mendapatkan perawatan di RSJ paling lama satu tahun. Sesuai dengan Pasal 44 ayat 2 KUHP, ia tidak bisa bertanggung jawab meski terbukti bersalah. Proses eksekusi secepatnya kami lakukan,” jelasnya.

Gani memastikan, Sensen akan mendapatkan pengawasan dari pihak terkait selama menjalani perawatan di rumah sakit jiwa hingga sesudahnya. Sementara itu, Penasehat Hukum Sensen, Yusep Maulana menjelaskan, semestinya kliennya tersebut tidak harus menjalani proses persidangan di pengadilan.



“Dari awal-awal, yaitu waktu dimulai proses penyidikan, klien kami memang sudah ngawur akal sehatnya. Bahkan, kenyataan ini diperkuat oleh hasil pemeriksaan dokter ahli jiwa Polda Jabar dan dokter jiwa dari bagian jiwa RSHS Tedi Hidayat. Jadi, sudah semestinya klien kami tidak menjalani sidang, tapi harus dirawat di rumah sakit. Namun pada intinya, kami menerima keputusan majelis hakim,” urainya.
halaman ke-1 dari 2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top