PKS-PPP lebih dekat ke Foke
Senin, 16 Juli 2012 - 09:26 WIB
PKS-PPP lebih dekat ke Foke
A
A
A
Sindonews.com - Partai politik (parpol) yang calonnya kalah pada Pilkada DKI Jakarta putaran pertama menjadi rebutan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) dan Joko Widodo- Basuki Tjahaja Purnama (Basuki-Ahok).
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kemungkinan merapat ke Foke-Nara karena persoalan ideologis. Partai Golkar diprediksi akan membebaskan kadernya menentukan pilihan sendiri, sedangkan Partai Damai Sejahtera (PDS) diprediksi bakal merapat ke Jokowi-Ahok.
Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Gun Gun Heryanto melihat, situasi politik Ibu Kota, kemungkinan besar PPP cenderung ke Foke-Nara. "Saya melihat kalau PPP cenderung konstan akan ke Foke," kata Gun Gun kemarin.
Sementara PKS, partai yang mengusung pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini, akan menjadi titik krusial. Dengan perolehan 11% pada putaran pertama, suara PKS cukup menentukan.
"Foke berpeluang dengan PKS karena di pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB), Demokrat, di mana partai yang mengusung Foke-Nara tersebut punya pengaruh besar dalam menentukan arah PKS," terangnya.
Selain itu, lanjutnya, pasangan Jokowi-Ahok bisa terganjal isu agama. Dengan isu tersebut, kecil kemungkinan PKS dan PPP bergabung ke Jokowi-Ahok. Direktur Eksekutif Masyarakat Pemantau Kebijakan Eksekutif dan Legislatif (Majelis) Sugiyanto juga memprediksi PKS dan PPP akan merapat ke incumbent.
"Kedua partai Islam PPP dan PKS kemungkinan besar mendukung pasangan incumbent karena merupakan partai berbasis Islam. Di mana mayoritas penduduk Jakarta dan penduduknya beragama Islam dan mendukung kedua partai ini," katanya.
Terlebih, lanjut Sugiyanto, mengingat Ahok berasal dari nonmuslim. Dasar inilah yang menjadi alasan PKS dan PPP cenderung memihak Foke dibandingkan Jokowi. Khusus PKS, lanjutnya, pertaruhan politik PKS berat jika mendukung Jokowi-Ahok, karena sangat berisiko.
Sama seperti PPP, jika keduanya mendukung Jokowi maka akan ada kekecewaan dari pendukungnya, mengingat Jakarta merupakan Islam fanatik. Jika hal ini terjadi, lanjut Sugiyanto,kemungkinan besar Fauzi akan mendapatkan 11% suara PKS, sehingga totalnya menjadi 44% jika ditambah perolehan Foke sebanyak 33%.
Secara terpisah, Sekjen DPP PPP M Romahurmuziy mengaku belum memutuskan sikap politiknya. Keputusan soal koalisi, baru diumumkan akhir pekan ini. Pihaknya masih melihat dinamika politik terkini dalam seminggu terakhir. Hanya, dia menyatakan kemungkinan pola koalisi PPP sejalan dengan ideologis partai.
"Di putaran kedua ini,koalisi dengan partai sama ideologisnya," ujar Romahurmuziy.
Ketua Komisi IV DPR ini menambahkan, PPP melakukan pertimbangan partai lain yang lebih cocok untuk diajak berkoalisi. Pertimbangan itu bagaimana pasangan yang didukung menang di putaran kedua atau memberikan kebebasan kader untuk memilih calon siapa.
Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq mengungkapkan, menghadapi putaran kedua, pihaknya akan menunggu usulan dari DPW PKS DKI Jakarta. Sebelum diputuskan oleh DPP, nantinya DPP akan menerima usulan dari DPW. "DPP hanya mengkaji. Usulan koalisi ini dari DPW," ujar Luthfi.
Ketua DPD I Golkar DKI Jakarta Prya Ramadhani mengungkapkan, pihaknya masih melakukan evaluasi terhadap hasil di putaran pertama Pilkada DKI Jakarta. Ke depannya, partai ini akan memutuskan untuk berkoalisi dengan salah satu partai tertentu. Sampai sejauh ini, partai berlambang pohon beringin ini belum memutuskan calon partai lain untuk berkoalisi.
"Koalisi bisa langsung ke calon atau juga ke partai pengusung," ungkapnya.
Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum meminta Foke-Nara lebih merakyat. Jago Demokrat itu diminta untuk memperkuat ikatan politik dengan rakyat, sebab mesin politik yang dijalankan Demokrat telah berjalan dengan baik.
"Pasangan Foke- Nara harus semakin rajin blusukan lagi ke rakyat. Menemui pemilih. Saya yakin pasangan ini akan keluar sebagai pemenang dalam pertandingan final," kata Anas di Blitar, Jawa Timur, kemarin.
Anas menyatakan Pilkada DKI masih memasuki babak penyisihan.Pertandingan yang sebenarnya adalah putaran kedua atau babak final. "Kedua pasangan berpeluang sama, dan yang menentukan kemenangan adalah suara rakyat," paparnya.
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kemungkinan merapat ke Foke-Nara karena persoalan ideologis. Partai Golkar diprediksi akan membebaskan kadernya menentukan pilihan sendiri, sedangkan Partai Damai Sejahtera (PDS) diprediksi bakal merapat ke Jokowi-Ahok.
Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Gun Gun Heryanto melihat, situasi politik Ibu Kota, kemungkinan besar PPP cenderung ke Foke-Nara. "Saya melihat kalau PPP cenderung konstan akan ke Foke," kata Gun Gun kemarin.
Sementara PKS, partai yang mengusung pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini, akan menjadi titik krusial. Dengan perolehan 11% pada putaran pertama, suara PKS cukup menentukan.
"Foke berpeluang dengan PKS karena di pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB), Demokrat, di mana partai yang mengusung Foke-Nara tersebut punya pengaruh besar dalam menentukan arah PKS," terangnya.
Selain itu, lanjutnya, pasangan Jokowi-Ahok bisa terganjal isu agama. Dengan isu tersebut, kecil kemungkinan PKS dan PPP bergabung ke Jokowi-Ahok. Direktur Eksekutif Masyarakat Pemantau Kebijakan Eksekutif dan Legislatif (Majelis) Sugiyanto juga memprediksi PKS dan PPP akan merapat ke incumbent.
"Kedua partai Islam PPP dan PKS kemungkinan besar mendukung pasangan incumbent karena merupakan partai berbasis Islam. Di mana mayoritas penduduk Jakarta dan penduduknya beragama Islam dan mendukung kedua partai ini," katanya.
Terlebih, lanjut Sugiyanto, mengingat Ahok berasal dari nonmuslim. Dasar inilah yang menjadi alasan PKS dan PPP cenderung memihak Foke dibandingkan Jokowi. Khusus PKS, lanjutnya, pertaruhan politik PKS berat jika mendukung Jokowi-Ahok, karena sangat berisiko.
Sama seperti PPP, jika keduanya mendukung Jokowi maka akan ada kekecewaan dari pendukungnya, mengingat Jakarta merupakan Islam fanatik. Jika hal ini terjadi, lanjut Sugiyanto,kemungkinan besar Fauzi akan mendapatkan 11% suara PKS, sehingga totalnya menjadi 44% jika ditambah perolehan Foke sebanyak 33%.
Secara terpisah, Sekjen DPP PPP M Romahurmuziy mengaku belum memutuskan sikap politiknya. Keputusan soal koalisi, baru diumumkan akhir pekan ini. Pihaknya masih melihat dinamika politik terkini dalam seminggu terakhir. Hanya, dia menyatakan kemungkinan pola koalisi PPP sejalan dengan ideologis partai.
"Di putaran kedua ini,koalisi dengan partai sama ideologisnya," ujar Romahurmuziy.
Ketua Komisi IV DPR ini menambahkan, PPP melakukan pertimbangan partai lain yang lebih cocok untuk diajak berkoalisi. Pertimbangan itu bagaimana pasangan yang didukung menang di putaran kedua atau memberikan kebebasan kader untuk memilih calon siapa.
Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq mengungkapkan, menghadapi putaran kedua, pihaknya akan menunggu usulan dari DPW PKS DKI Jakarta. Sebelum diputuskan oleh DPP, nantinya DPP akan menerima usulan dari DPW. "DPP hanya mengkaji. Usulan koalisi ini dari DPW," ujar Luthfi.
Ketua DPD I Golkar DKI Jakarta Prya Ramadhani mengungkapkan, pihaknya masih melakukan evaluasi terhadap hasil di putaran pertama Pilkada DKI Jakarta. Ke depannya, partai ini akan memutuskan untuk berkoalisi dengan salah satu partai tertentu. Sampai sejauh ini, partai berlambang pohon beringin ini belum memutuskan calon partai lain untuk berkoalisi.
"Koalisi bisa langsung ke calon atau juga ke partai pengusung," ungkapnya.
Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum meminta Foke-Nara lebih merakyat. Jago Demokrat itu diminta untuk memperkuat ikatan politik dengan rakyat, sebab mesin politik yang dijalankan Demokrat telah berjalan dengan baik.
"Pasangan Foke- Nara harus semakin rajin blusukan lagi ke rakyat. Menemui pemilih. Saya yakin pasangan ini akan keluar sebagai pemenang dalam pertandingan final," kata Anas di Blitar, Jawa Timur, kemarin.
Anas menyatakan Pilkada DKI masih memasuki babak penyisihan.Pertandingan yang sebenarnya adalah putaran kedua atau babak final. "Kedua pasangan berpeluang sama, dan yang menentukan kemenangan adalah suara rakyat," paparnya.
(san)