Minim ruang kelas, siswa belajar di masjid
Jum'at, 13 Juli 2012 - 14:35 WIB
Minim ruang kelas, siswa belajar di masjid
A
A
A
Sindonews.com - Sekolah Menengah Pertama (SMP) Perti di Kawasan Gunung Sarik, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) kekurangan ruang kelas. Siswa yang tidak kebagian ruang kelas terpaksa belajar di masjid dan rumah warga.
Di tahun ajaran baru ini, SMP Perti kekurangan ruang kelas. Siswa SMP Perti berjumlah 360 siswa sedangkan ruang kelas untuk belajar yang tersedia hanya empat kelas. Akibatnya, 96 siswa harus rela belajar di masjid dan di rumah warga sekitar sekolah.
Kepala SMP Perti Iswandi Mukhtar mengatakan, pihaknya terpaksa menempatkan sebagian siswanya di lantai dua masjid lantaran empat kelas sudah penuh dan tidak memungkinkan.
"Ruang kelas yang ada tidak mampu menampung seluruh siswa. Hal ini terjadi setelah masuk tahun ajaran baru ini," ujar Iswandi menjelakan kepada wartawan, Jumat (13/7/2012).
Membludaknya siswa, menurut Iswandi, lantaran biaya masuk ke sekolah ini tergolong murah. Warga pun lebih memilih di SMP Perti lantaran hanya membayar Rp20 ribu per bulannya.
"Orangtua siswa sangat senang menyekolahkan anaknya di sini. Menurut mereka iurannya sangat murah," papar Iswandi.
Salah seorang siswa, Ayu mengatakan setiap hari, dirinya harus berdeak-desakan dengan teman-temannya di dalam kelas saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Ruang kelas menurutnya sudah tidak muat lagi.
"Kita hanya berharap dapat belajar seperti di sekolah lainnya. Kelasnya sudah tak muat," ujar Ayu.
Di tahun ajaran baru ini, SMP Perti kekurangan ruang kelas. Siswa SMP Perti berjumlah 360 siswa sedangkan ruang kelas untuk belajar yang tersedia hanya empat kelas. Akibatnya, 96 siswa harus rela belajar di masjid dan di rumah warga sekitar sekolah.
Kepala SMP Perti Iswandi Mukhtar mengatakan, pihaknya terpaksa menempatkan sebagian siswanya di lantai dua masjid lantaran empat kelas sudah penuh dan tidak memungkinkan.
"Ruang kelas yang ada tidak mampu menampung seluruh siswa. Hal ini terjadi setelah masuk tahun ajaran baru ini," ujar Iswandi menjelakan kepada wartawan, Jumat (13/7/2012).
Membludaknya siswa, menurut Iswandi, lantaran biaya masuk ke sekolah ini tergolong murah. Warga pun lebih memilih di SMP Perti lantaran hanya membayar Rp20 ribu per bulannya.
"Orangtua siswa sangat senang menyekolahkan anaknya di sini. Menurut mereka iurannya sangat murah," papar Iswandi.
Salah seorang siswa, Ayu mengatakan setiap hari, dirinya harus berdeak-desakan dengan teman-temannya di dalam kelas saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Ruang kelas menurutnya sudah tidak muat lagi.
"Kita hanya berharap dapat belajar seperti di sekolah lainnya. Kelasnya sudah tak muat," ujar Ayu.
(azh)