Manuver kandidat jadi penentu

Jum'at, 13 Juli 2012 - 08:22 WIB
Manuver kandidat jadi...
Manuver kandidat jadi penentu
A A A
Sindonews.com – Keunggulan pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) atas Fauzi Bowo (Foke)- Nachrowi Ramli (Nara) dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta tidak serta-merta menjamin kemenangan pasangan tersebut.

Sejumlah pengamat menilai kemenangan dalam pilkada putaran kedua yang rencananya akan digelar 20 September 2012 nanti tergantung pada strategi dan skenario pemenangan pasangan kandidat dan tim sukses mereka. Menurut Wakil Direktur Eksekutif Jaringan Suara Indonesia (JSI) Fajar S Tamin, kemenangan juga tergantung pada bagaimana kandidat mampu merangkul masyarakat yang pada putaran pertama tidak menggunakan hak pilihnya alias golput.

"Untuk mendapatkan suara golput tersebut para kandidat harus berusaha meyakinkan warga dengan menekankan visi misi dan programnya nanti. Golput itu karena adanya swing voter yang tidak dapat memutuskan memilih siapa,” kata Fajar di Jakarta, Kamis 12 Juli 2012.

Peneliti dari Prisma LP3ES Suhardi Suryadi juga menyatakan survei yang dilakukannya pada pilkada lalu tidak dapat memastikan Jokowi-Ahok akan memenangi pesta demokrasi tersebut.

Dia bahkan menduga masyarakat lebih banyak memberikan suaranya kepada pasangan Wali Kota Solo dan mantan Bupati Belitung Timur tersebut bukan karena keduanya hebat, tapi karena mereka tidak mau lagi dalam posisi status quo. "Dan ada kemungkinan pada putaran kedua nanti, orang-orang akan meragukan kedua pasangan dapat memberikan pengaruh besar atas permasalahan di Jakarta,” katanya.

Dengan kondisi seperti, dia pun memperkirakan suara golput akan membengkak pada putaran kedua nanti. Seperti diketahui, berdasar hasil quick count yang dilakukan sejumlah lembaga survei, dipastikan Pilkada DKI Jakarta akan dilakukan dua putaran karena tidak ada kandidat yang berhasil mengumpulkan suara 50% + 1.

Dari hasil survei yang dilakukan LP3ES-MNC Research, Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Lembaga Survei Indonesia (LSI), Indobarometer, Puskaptis, dan beberapa lembaga lain, pasangan Jokowi-Ahok mengungguli Foke-Nara dengan perolehan suara sekitar 42% berbanding 34%. Untuk mendapatkan hasil maksimal di putaran kedua, tim sukses kedua pasangan mulai memikirkan langkah untuk memenangkan jago mereka.

Dari tim sukses Jokowi-Ahok, mereka menyatakan segera berkonsolidasi dengan semua calon lain untuk melakukan koalisi di putaran kedua. Sekretaris tim sukses Jokowi-Ahok, M Sanusi meyakini, para kandidat yang tereliminasi pada putaran pertama akan berkoalisi dengan kubu mereka karena memiliki visi yang sama dengan pasangan nomor urut 3 tersebut.

Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Martin Hutabarat optimistis, dengan perolehan suara yang jauh melebihi Foke-Nara, pasangan yang diusung partainya itu akan menang dalam pemilu putaran kedua. Namun, dia memberi catatan agar pasangan tersebut tetap konsisten dengan cita-cita perubahan dan semangat antikorupsi serta merangkul dengan tulus para pendukung dari calon-calon gubernur lain yang tidak lolos ke putaran kedua.

"Saya yakin Jokowi-Basuki akan menang pada putaran kedua,” tegasnya.

Persiapan juga mulai dilakukan tim Foke-Nara. Sekretaris tim sukses mereka, Budi Siswanto tidak menampik bahwa pihaknya akan berusaha merangkul kandidat yang kalah dalam putaran pertama. Hanya siapa yang akan dirangkul masih menunggu hasil pengumuman Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta dan hasil evaluasi seluruh komponen pendukung Foke-Nara.

"Pada intinya kami akan berkoalisi dengan warga DKI Jakarta. Ini untuk mengantisipasi terjadinya transaksi politik,” kata Wakil Ketua Forum Bersama Jakarta (FBJ) itu.

Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum menegaskan, Partai Demokrat sebagai salah satu partai pengusung Foke-Nara akan bekerja makin keras untuk memenangkan pasangan tersebut di putaran kedua. Salah satunya yang diincar adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang jagonya, Hidayat Nurwahid- Didik J Rachbini, tereliminasi dari persaingan Pilgub.

Mantan Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu menyatakan bahwa pasangan Foke-Nara membutuhkan dukungan seluas-luasnya. "Kami bukan saja terbuka, tapi kami berharap agar makin banyak yang bergandeng tangan dengan pasangan Fauzi-Nachrowi di putaran kedua. Apakah partai, ormas, apa komunitas-komunitas, perseorangan, pokoknya sebanyak mungkin kami harapkan untuk bergabung untuk kemenangan,” katanya.

Penegasan sama juga disampaikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar menyatakan kekalahan Foke disebabkan tidak berjalannya mesin partai pendukung. Karena itu, menghadapi putaran nanti dia menjanjikan partainya akan bekerja secara maksimal.

"Putaran kedua saya akan turun ke lapangan. Kita akan menyapa rakyat dan datang ke kantong-kantong suara,” ujar Muhaimim.

Dalam pandangannya, strategi komunikasi kepada masyarakat Jakarta harus mengarah pada hal-hal yang bersifat esensial ketimbang artifisial. Dalam hal ini masyarakat harus ditawari konsep pembangunan Jakarta yang lebih riil dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. "Tidak boleh terhambat komunikasi dengan rakyat hanya dengan kumis,” kata Muhaimin.

Sementara itu, kandidat yang tereliminasi maupun parpol yang pendukungnya tersingkir belum menentukan ke mana mereka akan mengalihkan suaranya. Hendardji Soepandji misalnya, menyerahkan masalah dukung-mendukung kepada individu masing-masing. "Saya kembalikan kepada masing-masing sesuai nuraninya." tegasnya.

Dia pun membantah berita yang menyebutkan dirinya mendukung Jokowi yang saat ini melenggang ke putaran kedua Pilkada DKI Jakarta. Dia mengakui mengucapkan selamat kepada Jokowi, tapi hal itu tidak bisa diartikan sebagai bentuk dukungan. "Kalau saya mengucapkan selamat kepada Pak Jokowi itu benar. Saat ini sekali lagi saya ucapkan selamat kepada kedua kandidat yang lolos, termasuk Pak Fauzi,” ujar Hendardji.

Menurut prediksi Suhardi Suryadi, peneliti dari Prisma LP3ES, pengarahan dukungan untuk Partai Golkar tergantung pada sejauh mana kandidat memberi keuntungan kepada mereka. Adapun PKS akan menyerahkan suaranya kepada Foke-Nara. Hal tersebut sangat mungkin karena pada awal musim pencalonan, PKS diketahui sempat memberikan dukungan kepada Foke.

“Tapi saat itu mereka tidak jadi. PKS akhirnya mencalonkan sendiri karena calon yang didukung Foke bukan dari mereka,” jelasnya.

Adapun pasangan Faisal Basri-Biem Benjamin akan mengalihkan dukungannya ke Jokowi-Ahok meskipun di satu sisi Faisal Basri pun dikenal sebagai sosok yang tidak senang dengan adanya transaksi politik.
(lil)
Berita Terkait
Noer Fajrieansyah Didorong...
Noer Fajrieansyah Didorong Maju Pilgub DKI Jakarta 2024
Respons PAN soal Kaesang...
Respons PAN soal Kaesang Bakal Maju Pilgub DKI: Semua Punya Hak
Ditanya Mau Jadi Gubernur,...
Ditanya Mau Jadi Gubernur, Wagub Ariza: Kita Lagi Mikirin Omicron
Pemuda Pancasila Deklarasi...
Pemuda Pancasila Deklarasi Dukung Anies Baswedan di Pilgub Jakarta
Demokrat Pamer Jagoan...
Demokrat Pamer Jagoan Pilgub DKI, Golkar: Pilkadanya Tahun 2024, Masih Jauh
DPD Hanura Sodorkan...
DPD Hanura Sodorkan Nama Djafar Badjeber Cawagub Jakarta, Ketua DPW Perindo: Kita Sambut Baik
Berita Terkini
Pekan Dekranasda Tangsel...
Pekan Dekranasda Tangsel 2026, Momentum Perkenalkan Produk Lokal UMKM
41 menit yang lalu
Komitmen Berkelanjutan,...
Komitmen Berkelanjutan, Tracon Industri Kolaborasi Tanam 500 Mangrove di Karawang
2 jam yang lalu
2 Pencuri Kabel Rp143...
2 Pencuri Kabel Rp143 Juta di Cikarang Selatan Ditangkap saat Beraksi
4 jam yang lalu
Jangan Lewatkan Bebas...
Jangan Lewatkan Bebas Denda Pajak Kendaraan, Gerai Samsat Hadir di PRJ
4 jam yang lalu
MUI Kecam Keras 27 Pelaku...
MUI Kecam Keras 27 Pelaku Rudapaksa Remaja di Madura: Hukuman Berat Harus Diberlakukan
4 jam yang lalu
2 Pemuda di Depok Ditangkap,...
2 Pemuda di Depok Ditangkap, Celurit hingga Airsoft Gun Disita Polisi
5 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved