Lembaga survei dikritik
Jum'at, 13 Juli 2012 - 08:13 WIB
Lembaga survei dikritik
A
A
A
Sindonews.com – Perbedaan antara hasil quick count Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta dan hasil survei yang digelar sebelum pemilihan membuat kredibilitas lembaga survei dipertanyakan. Beberapa lembaga ditengarai hanya untuk mengeruk keuntungan dibanding mengedepankan sisi akademis saat melakukan survei.
Tujuannya untuk menyenangkan para kandidat yang telah mengontrak mereka. Terlebih, sebelum pemilihan ada lembaga survei yang memprediksi Pilgub berlangsung satu putaran. Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Iberamsjah, mengatakan, hasil survei sejumlah lembaga ternyata meleset jauh.
Pihaknya menduga kehadiran lembaga survei ini sekadar untuk mencari keuntungan dari salah satu pasangan cagub. “Buktinya hasil survei yang dilakukan tidak sesuai data empiris keinginan masyarakat di lapangan,” kata Iberamsjah saat dihubungi di Jakarta, Kamis 12 Juli 2012.
Menurut dia, saat ini publik mempertanyakan kredibilitas lembaga survei yang pernah menyatakan pasangan cagub Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) unggul jauh dari pesaingnya.
Pihaknya juga menyesalkan ada lembaga survei yang berani menyebutkan cagub incumbent berpotensi besar menang satu putaran. “Faktanya sangat berbeda. Survei hasil ke kiri, quick count ke kanan,” sindirnya.
Fakta ini, lanjut dia, akan berimbas pada pelaksanaan pilkada, pemilu, maupun pilpres. Warga mulai tidak percaya lagi kepada lembaga survei, terutama yang cara kerjanya mengabaikan kaidah-kaidah akademis.
Seperti diberitakan, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang melakukan survei terhadap 450 responden menyebutkan, pasangan Foke-Nara unggul 43,7%, pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama sebesar 14,4%, Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini 5,3%, Alex Noerdin-Nono Sampono 4,6%, Faisal Basrie-Biem Benjamin 1,8%, serta Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria 0,5%.
Sementara hasil quick count LSI menyebutkan,Foke-Nara mendapat 34,17%, Hendardji–Riza 1,82%, Jokowi- Basuki 43,04%, Hidayat-Didik 11,77%, Faisal-Biem 4,83%, Alex-Nono 4,37%. Sementara hasil survei Jaringan Suara Indonesia (JSI) terhadap 1.200 responden menyebutkan Foke-Nara 49,6%, lalu Jokowi-Basuki 15,8%. Kemudian Hidayat-Didik 6,4%, Alex-Nono 4,3%, Faisal-Biem 1,9%, dan Hendardji-Riza 1,0%.
Sedangkan hasil quick count JSI menyebutkan, Foke-Nara 34,42%, Hendardji-Riza 1,88%, Jokowi-Basuki 41,97%, Hidayat-Didik 11,4%, Faisal-Biem 5,16%, dan Alex-Nono 5,16%. Survei Indo Barometer terhadap 440 responden menyebutkan Foke-Nara mendapat 49,8%, Jokowi-Basuki 16,4%, Alex-Nono 5,7%. Kemudian Hidayat–Didik 4,5%, Faisal-Biem 2,3%, dan Hendardji-Riza 0,2%.
Sedangkan hasil quick count Indo Barometer menyebutkan, Foke-Nara 33,80%, Hendardji-Riza 2,60%, Jokowi-Basuki 42,20%, Hidayat-Didik 15,5%, Faisal-Biem 5,10%, dan Alex-Nono 4,70%.
Pengamat politik dari UI, Arbi Sanit mengungkapkan, hasil survei sejumlah lembaga gagal mengungkap fakta di lapangan. Karena itu, hasilnya banyak yang meleset dengan kenyataan.“Ini menjadi perhatian bagi lembaga survei,” ujarnya.
Direktur Komunikasi Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanudin Muhtadi menyatakan, perbedaan hasil survei dengan quick count dipicu tingkat partisipasi dan swing voters. Pada survei seringkali responden mengatakan akan datang ke TPS 100%. Sedangkan ketika hari pemilihan tingkat partisipasi terdapat sekitar 63%. Pemilih yang tidak datang ke TPS ini diduga pemilih atau pendukung Foke-Nara.
“Bila partisipasi pemilih mendekati 100%, kemungkinan hasil survei akan sama dengan hasil pemilihan,” ujar Burhanudin.
Pemicu lainnya, lanjut dia, pada survei terdapat swing voters yang cukup tinggi. Kelompok pemilih ini merupakan orang belum memutuskan pilihan dan orang yang telah memiliki pilihan, tapi pilihan itu masih bisa berubah sampai hari pemilihan. Biasanya para pemilih yang belum memutuskan pilihannya cenderung memutuskan untuk menggunakan suaranya kepada calon penantang.
Ketika di survei terdapat swing voters berkisar 30%, mereka diperkirakan memutuskan untuk mencoblos calon penantang. Sementara itu, peneliti Jaringan Suara Indonesia (JSI) Eka Kusmayadi berpendapat, perubahan ini disebabkan hasil survei ini berlaku ketika responden diminta untuk memilih pada survei dilaksanakan.
“Hasil survei itu belum dapat diyakini 100% berlaku ketika pemilihan,”kata Eka.
Sedangkan Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari mengungkapkan, perbedaan hasil survei dengan penghitungan cepat karena di dalam politik itu dinamis. Nah, perubahan pilihan politik tersebut banyak yang terjadi setelah pelaksanaan survei.
Direktur Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Arman Salam menyatakan, hasil quick count cukup mengejutkan sebab hasil survei sebelumnya pasangan Foke-Nara selalu unggul telak.
“Dari survei terakhir atau 14 hari sebelum pelaksanaan pilkada ini saja Foke-Nara masih unggul telak dari pasangan lain, namun semua bisa saja terjadi dan sama-sama kita ketahui bahwa pasangan Jokowi-Basuki memang mengalami tren yang semakin meningkat,” ujarnya.
Social image yang dilakukan Jokowi seperti kerap turun ke masyarakat juga dengan program-program yang dimilikinya membuat dirinya mendapat perhatian di mata masyarakat. “Perolehan suara pasangan Jokowi-Basuki cukup fenomenal dan memutarbalikkan sejumlah survei yang ada,” tandasnya.
Tujuannya untuk menyenangkan para kandidat yang telah mengontrak mereka. Terlebih, sebelum pemilihan ada lembaga survei yang memprediksi Pilgub berlangsung satu putaran. Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Iberamsjah, mengatakan, hasil survei sejumlah lembaga ternyata meleset jauh.
Pihaknya menduga kehadiran lembaga survei ini sekadar untuk mencari keuntungan dari salah satu pasangan cagub. “Buktinya hasil survei yang dilakukan tidak sesuai data empiris keinginan masyarakat di lapangan,” kata Iberamsjah saat dihubungi di Jakarta, Kamis 12 Juli 2012.
Menurut dia, saat ini publik mempertanyakan kredibilitas lembaga survei yang pernah menyatakan pasangan cagub Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) unggul jauh dari pesaingnya.
Pihaknya juga menyesalkan ada lembaga survei yang berani menyebutkan cagub incumbent berpotensi besar menang satu putaran. “Faktanya sangat berbeda. Survei hasil ke kiri, quick count ke kanan,” sindirnya.
Fakta ini, lanjut dia, akan berimbas pada pelaksanaan pilkada, pemilu, maupun pilpres. Warga mulai tidak percaya lagi kepada lembaga survei, terutama yang cara kerjanya mengabaikan kaidah-kaidah akademis.
Seperti diberitakan, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang melakukan survei terhadap 450 responden menyebutkan, pasangan Foke-Nara unggul 43,7%, pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama sebesar 14,4%, Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini 5,3%, Alex Noerdin-Nono Sampono 4,6%, Faisal Basrie-Biem Benjamin 1,8%, serta Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria 0,5%.
Sementara hasil quick count LSI menyebutkan,Foke-Nara mendapat 34,17%, Hendardji–Riza 1,82%, Jokowi- Basuki 43,04%, Hidayat-Didik 11,77%, Faisal-Biem 4,83%, Alex-Nono 4,37%. Sementara hasil survei Jaringan Suara Indonesia (JSI) terhadap 1.200 responden menyebutkan Foke-Nara 49,6%, lalu Jokowi-Basuki 15,8%. Kemudian Hidayat-Didik 6,4%, Alex-Nono 4,3%, Faisal-Biem 1,9%, dan Hendardji-Riza 1,0%.
Sedangkan hasil quick count JSI menyebutkan, Foke-Nara 34,42%, Hendardji-Riza 1,88%, Jokowi-Basuki 41,97%, Hidayat-Didik 11,4%, Faisal-Biem 5,16%, dan Alex-Nono 5,16%. Survei Indo Barometer terhadap 440 responden menyebutkan Foke-Nara mendapat 49,8%, Jokowi-Basuki 16,4%, Alex-Nono 5,7%. Kemudian Hidayat–Didik 4,5%, Faisal-Biem 2,3%, dan Hendardji-Riza 0,2%.
Sedangkan hasil quick count Indo Barometer menyebutkan, Foke-Nara 33,80%, Hendardji-Riza 2,60%, Jokowi-Basuki 42,20%, Hidayat-Didik 15,5%, Faisal-Biem 5,10%, dan Alex-Nono 4,70%.
Pengamat politik dari UI, Arbi Sanit mengungkapkan, hasil survei sejumlah lembaga gagal mengungkap fakta di lapangan. Karena itu, hasilnya banyak yang meleset dengan kenyataan.“Ini menjadi perhatian bagi lembaga survei,” ujarnya.
Direktur Komunikasi Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanudin Muhtadi menyatakan, perbedaan hasil survei dengan quick count dipicu tingkat partisipasi dan swing voters. Pada survei seringkali responden mengatakan akan datang ke TPS 100%. Sedangkan ketika hari pemilihan tingkat partisipasi terdapat sekitar 63%. Pemilih yang tidak datang ke TPS ini diduga pemilih atau pendukung Foke-Nara.
“Bila partisipasi pemilih mendekati 100%, kemungkinan hasil survei akan sama dengan hasil pemilihan,” ujar Burhanudin.
Pemicu lainnya, lanjut dia, pada survei terdapat swing voters yang cukup tinggi. Kelompok pemilih ini merupakan orang belum memutuskan pilihan dan orang yang telah memiliki pilihan, tapi pilihan itu masih bisa berubah sampai hari pemilihan. Biasanya para pemilih yang belum memutuskan pilihannya cenderung memutuskan untuk menggunakan suaranya kepada calon penantang.
Ketika di survei terdapat swing voters berkisar 30%, mereka diperkirakan memutuskan untuk mencoblos calon penantang. Sementara itu, peneliti Jaringan Suara Indonesia (JSI) Eka Kusmayadi berpendapat, perubahan ini disebabkan hasil survei ini berlaku ketika responden diminta untuk memilih pada survei dilaksanakan.
“Hasil survei itu belum dapat diyakini 100% berlaku ketika pemilihan,”kata Eka.
Sedangkan Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari mengungkapkan, perbedaan hasil survei dengan penghitungan cepat karena di dalam politik itu dinamis. Nah, perubahan pilihan politik tersebut banyak yang terjadi setelah pelaksanaan survei.
Direktur Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Arman Salam menyatakan, hasil quick count cukup mengejutkan sebab hasil survei sebelumnya pasangan Foke-Nara selalu unggul telak.
“Dari survei terakhir atau 14 hari sebelum pelaksanaan pilkada ini saja Foke-Nara masih unggul telak dari pasangan lain, namun semua bisa saja terjadi dan sama-sama kita ketahui bahwa pasangan Jokowi-Basuki memang mengalami tren yang semakin meningkat,” ujarnya.
Social image yang dilakukan Jokowi seperti kerap turun ke masyarakat juga dengan program-program yang dimilikinya membuat dirinya mendapat perhatian di mata masyarakat. “Perolehan suara pasangan Jokowi-Basuki cukup fenomenal dan memutarbalikkan sejumlah survei yang ada,” tandasnya.
(lil)