Angka golput naik 2%
Kamis, 12 Juli 2012 - 09:20 WIB
Angka golput naik 2%
A
A
A
Sindonews.com – Jumlah pemilih yang tidak menggunakan haknya atau golput dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2012 mengalami kenaikan 2 persen dibandingkan Pilgub 2007. Pada Pilgub yang berlangsung kemarin, angka golput mencapai 37 persen.
Angka golput yang masih tinggi ini diketahui berdasarkan hasil penghitungan cepat yang dilakukan Lingkaran Survei Indo nesia (LSI). Direktur Peneliti LSI Arman Salam menerangkan, hasil quick count yang dilakukan LSI mencatat tingkat partisipasi pemilih pada Pilgub DKI 2012 mencapai 63 persen. Jumlah pemilih yang tidak menggunakan haknya untuk memilih orang nomor satu di Pemprov DKI Jakarta tersebut mencapai 37 persen.
"Angka golput ini naik 2 persen dibandingkan Pilgub DKI Jakarta 2007 yang mencapai 35 persen golput,” katanya di Jakarta, Rabu 11 Juli 2012.
Arman mengatakan, tingginya angka golput ini sangat mencengangkan dan menunjukkan bahwa dari enam pasangan cagub-cawagub tidak mampu mengarahkan dan mengajak warga untuk tidak melakukan golput. Arman menilai, kecenderungan golput terjadi karena beberapa faktor yakni tidak memiliki figur yang tepat, secara politis tidak mendapatkan kesempatan, serta ada ketidakpercayaan terhadap pemilihan yang dilakukan KPU DKI Jakarta.
Tingginya angka golput ini sebenarnya lebih merugikan pihak incumbent di mana sumber suara yang seharusnya masuk ke pasangan incumbent menjadi berkurang dan membuat perolehan menjadi menyusut.
Direktur Citra Komunikasi LSI Toto Izul Fatah menambahkan, kenaikan jumlah golput ini sangat mencengangkan. Dalam Pilgub DKI Jakarta 2012 ini terdapat banyak calon baik yang diusung partai maupun independen. Toto khawatir kenaikan angka golput ini bisa mengancam iklim demokrasi.
“Mungkin masyarakat tidak peduli lagi untuk berpartisipasi dengan pemilihan umum dan mungkin mereka kecewa. Namun, ini tidak bisa dibiarkan dan mesti ada penanganan lebih lanjut,” ucapnya.
Berbeda dengan LSI yang menyebutkan angka golput mencapai 37 persen. Pusat Kajian Ke bijakan dan Penelitian Strategis (Puskaptis) yang juga melakukan penghitungan cepat mencatat jumlah pemilih yang tidak menyampaikan haknya mencapai 29 persen.
Direktur Puskaptis Husin Yazid menuturkan, dari survei yang dilakukan dengan multi stage random sampling di 440 TPS yang tersebar di lima wilayah Jakarta, jumlah golput dalam Pilgub DKI Jakarta mencapai 29 persen.
Angka golput yang masih tinggi ini diketahui berdasarkan hasil penghitungan cepat yang dilakukan Lingkaran Survei Indo nesia (LSI). Direktur Peneliti LSI Arman Salam menerangkan, hasil quick count yang dilakukan LSI mencatat tingkat partisipasi pemilih pada Pilgub DKI 2012 mencapai 63 persen. Jumlah pemilih yang tidak menggunakan haknya untuk memilih orang nomor satu di Pemprov DKI Jakarta tersebut mencapai 37 persen.
"Angka golput ini naik 2 persen dibandingkan Pilgub DKI Jakarta 2007 yang mencapai 35 persen golput,” katanya di Jakarta, Rabu 11 Juli 2012.
Arman mengatakan, tingginya angka golput ini sangat mencengangkan dan menunjukkan bahwa dari enam pasangan cagub-cawagub tidak mampu mengarahkan dan mengajak warga untuk tidak melakukan golput. Arman menilai, kecenderungan golput terjadi karena beberapa faktor yakni tidak memiliki figur yang tepat, secara politis tidak mendapatkan kesempatan, serta ada ketidakpercayaan terhadap pemilihan yang dilakukan KPU DKI Jakarta.
Tingginya angka golput ini sebenarnya lebih merugikan pihak incumbent di mana sumber suara yang seharusnya masuk ke pasangan incumbent menjadi berkurang dan membuat perolehan menjadi menyusut.
Direktur Citra Komunikasi LSI Toto Izul Fatah menambahkan, kenaikan jumlah golput ini sangat mencengangkan. Dalam Pilgub DKI Jakarta 2012 ini terdapat banyak calon baik yang diusung partai maupun independen. Toto khawatir kenaikan angka golput ini bisa mengancam iklim demokrasi.
“Mungkin masyarakat tidak peduli lagi untuk berpartisipasi dengan pemilihan umum dan mungkin mereka kecewa. Namun, ini tidak bisa dibiarkan dan mesti ada penanganan lebih lanjut,” ucapnya.
Berbeda dengan LSI yang menyebutkan angka golput mencapai 37 persen. Pusat Kajian Ke bijakan dan Penelitian Strategis (Puskaptis) yang juga melakukan penghitungan cepat mencatat jumlah pemilih yang tidak menyampaikan haknya mencapai 29 persen.
Direktur Puskaptis Husin Yazid menuturkan, dari survei yang dilakukan dengan multi stage random sampling di 440 TPS yang tersebar di lima wilayah Jakarta, jumlah golput dalam Pilgub DKI Jakarta mencapai 29 persen.
(lil)