Moeslim Abdurrahman pejuang Muhammadiyah & NU
Sabtu, 07 Juli 2012 - 13:35 WIB
Moeslim Abdurrahman pejuang Muhammadiyah & NU
A
A
A
Sindonews.com - Intelektual Muslim Dr. Moeslim Abdurrahman berpulang ke rahmatullah. Direktur Maarif Intitute for Culture ini, meninggal pada Jumat 6 Juli 2012, sekira pukul 19.30 WIB di ruang 303 Gedung A Publik Wing, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.
Kesedihan mendalam wafatnya Moeslim, dirasakan bukan hanya oleh keluarga, tetapi kerabat dan politikus di Senayan. Diantaranya datang dari Sekjen DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M Romahurmuziy.
"Saya terkejut dan sedih mendalam saya rasakan, saat semalam mendapatkan berita wafatnya Kang Moeslim, panggilan saya untuk Pak Moeslim Abdurrahman. Beliau adalah seorang antropolog, sekaligus istilah saya ideolog dan provokator kebangsaan dan keumatan," ujar Romahurmuziy dalam rilis yang diterima Sindonews, Sabtu (7/7/2012).
Pertemuan terakhir Romahurmuziy dengan almarhum terjadi sekira sebulan lalu. Saat itu, Moeslim sama sekali tidak menunjukkan atau mengeluhkan tanda sedang sakit. Bahkan dia sempat menghabiskan waktu bersama dalam sebuah Sarasehan Hari Kebangkitan Nasional di kantor GP Ansor, Kramat Raya.
"Saat itu Kang Muslim menjadi moderator, saya kebetulan didapuk sebagai salah satu narasumber. Merasa terhormat tentu, dimoderatori seorang pemikir-bebas senior, yang saat saya masih aktivis mahasiswa di ITB, Bandung, almarhum sudah malang-melintang dengan berbagai guyonan dan pemikiran," ingatnya.
Pandangan Moeslim tentang agama Islam yang anutnya dikenal plural. Dia ikut dalam gerakan Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU). Padahal, dua organisasi itu kerap berselisih paham.
"Pluralitas almarhum sudah sangat menasional, sampai-sampai kami-kami sering menyebut Kang Moeslim sebagai sedikit aktivis yang Muhammadi-NU. Pengurus dan aktivis Muhammadiyah, tapi peribadatan dan keakrabannya justru di kalangan aktivis NU, bahkan melintasi sekat keormasan dan keagamaan," terangnya.
Saat pertemuan di GP Ansor, dalam pembukanya Moeslim sempat berseloroh. Saat itu dia mengatakan, "Biasanya saya ini diundang sebagai narasumber. Kali ini saya mau dan maafkan meski diundang sebagai moderator, karena saya tahu Nusron (ketua umum GP Ansor) nggak kuat bayar honor saya." Guyonan Moeslim saat itu kontan menimbulkan gelak tawa hadirin yang datang.
"Dalam forum itu, Kang Moeslim juga menantang apakah para pemimpin muda Indonesia berani membangun ikon pembaharuan dibandingkan seniornya, atau justru menguatkan label kebobrokan yang masih terwariskan sejak zaman Orde Baru," ungkapnya.
Kendati pertemuan terakhir itu dalam sebuah kegiatan seminar, Romahurmuziy mengaku sangat mengenangkan. Bukan saja karena agenda dan pembahasan seminar itu yang cukup menarik, tapi karena saat itu dia masih mendapatkan semangat pergerakan Moeslim sebagai tokoh intelektual Muslim.
"Sedih saya rasakan, karena aktivis pluralitas dan penggiat toleransi keagamaan berkurang, di tengah semakin mengerasnya penganut paham keagamaan radikal. Sedih saya rasakan, karena kabar sakitnya pun tidak sempat saya dengar sehingga alpa menjenguknya," jelasnya.
Dia menambahkan, saat mengetahui wafatnya Moeslim sedang dalam perjalanan ke Pasuruan, Jawa Timur, untuk mengisi Musyawarah Kerja Partai Persatuan Pembangunan, yang telah terjadwal lama. "Tak terasa, mata saya berkaca-kaca. Meski sudah menghadap Sang Pencipta, izinkan saya berhormat," hormatnya.
Moeslim Abdurrahman lahir di Lamongan, Jawa Timur, pada 8 Agustus 1948. Almarhum pergi meninggalkan satu orang istri dan dua orang anak. Semasa hidupnya, Muslim aktif dalam pergerakan keagamaan, dia merupakan pendiri Indonesia Democracy Monitor (Indemo). Almarhum, dimakamkan di San Diego Hill Kerawang, pada hari ini.
Kesedihan mendalam wafatnya Moeslim, dirasakan bukan hanya oleh keluarga, tetapi kerabat dan politikus di Senayan. Diantaranya datang dari Sekjen DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M Romahurmuziy.
"Saya terkejut dan sedih mendalam saya rasakan, saat semalam mendapatkan berita wafatnya Kang Moeslim, panggilan saya untuk Pak Moeslim Abdurrahman. Beliau adalah seorang antropolog, sekaligus istilah saya ideolog dan provokator kebangsaan dan keumatan," ujar Romahurmuziy dalam rilis yang diterima Sindonews, Sabtu (7/7/2012).
Pertemuan terakhir Romahurmuziy dengan almarhum terjadi sekira sebulan lalu. Saat itu, Moeslim sama sekali tidak menunjukkan atau mengeluhkan tanda sedang sakit. Bahkan dia sempat menghabiskan waktu bersama dalam sebuah Sarasehan Hari Kebangkitan Nasional di kantor GP Ansor, Kramat Raya.
"Saat itu Kang Muslim menjadi moderator, saya kebetulan didapuk sebagai salah satu narasumber. Merasa terhormat tentu, dimoderatori seorang pemikir-bebas senior, yang saat saya masih aktivis mahasiswa di ITB, Bandung, almarhum sudah malang-melintang dengan berbagai guyonan dan pemikiran," ingatnya.
Pandangan Moeslim tentang agama Islam yang anutnya dikenal plural. Dia ikut dalam gerakan Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU). Padahal, dua organisasi itu kerap berselisih paham.
"Pluralitas almarhum sudah sangat menasional, sampai-sampai kami-kami sering menyebut Kang Moeslim sebagai sedikit aktivis yang Muhammadi-NU. Pengurus dan aktivis Muhammadiyah, tapi peribadatan dan keakrabannya justru di kalangan aktivis NU, bahkan melintasi sekat keormasan dan keagamaan," terangnya.
Saat pertemuan di GP Ansor, dalam pembukanya Moeslim sempat berseloroh. Saat itu dia mengatakan, "Biasanya saya ini diundang sebagai narasumber. Kali ini saya mau dan maafkan meski diundang sebagai moderator, karena saya tahu Nusron (ketua umum GP Ansor) nggak kuat bayar honor saya." Guyonan Moeslim saat itu kontan menimbulkan gelak tawa hadirin yang datang.
"Dalam forum itu, Kang Moeslim juga menantang apakah para pemimpin muda Indonesia berani membangun ikon pembaharuan dibandingkan seniornya, atau justru menguatkan label kebobrokan yang masih terwariskan sejak zaman Orde Baru," ungkapnya.
Kendati pertemuan terakhir itu dalam sebuah kegiatan seminar, Romahurmuziy mengaku sangat mengenangkan. Bukan saja karena agenda dan pembahasan seminar itu yang cukup menarik, tapi karena saat itu dia masih mendapatkan semangat pergerakan Moeslim sebagai tokoh intelektual Muslim.
"Sedih saya rasakan, karena aktivis pluralitas dan penggiat toleransi keagamaan berkurang, di tengah semakin mengerasnya penganut paham keagamaan radikal. Sedih saya rasakan, karena kabar sakitnya pun tidak sempat saya dengar sehingga alpa menjenguknya," jelasnya.
Dia menambahkan, saat mengetahui wafatnya Moeslim sedang dalam perjalanan ke Pasuruan, Jawa Timur, untuk mengisi Musyawarah Kerja Partai Persatuan Pembangunan, yang telah terjadwal lama. "Tak terasa, mata saya berkaca-kaca. Meski sudah menghadap Sang Pencipta, izinkan saya berhormat," hormatnya.
Moeslim Abdurrahman lahir di Lamongan, Jawa Timur, pada 8 Agustus 1948. Almarhum pergi meninggalkan satu orang istri dan dua orang anak. Semasa hidupnya, Muslim aktif dalam pergerakan keagamaan, dia merupakan pendiri Indonesia Democracy Monitor (Indemo). Almarhum, dimakamkan di San Diego Hill Kerawang, pada hari ini.
(san)