Pengamat: 'Janji manis' Cagub harus realistis
Selasa, 24 April 2012 - 11:29 WIB
Pengamat: 'Janji manis' Cagub harus realistis
A
A
A
Sindonews.com - Makin hari, para bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta makin gencar mengumbar janjinya kepada warga melalui sejumlah media.
Alhasil, banyak pihak menyoroti bahkan mengkritisi perilaku para kandidat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta periode 2012-2017 ini. Salah satunya adalah Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti Yayat Supriyatna.
"Ya ini harus diperjelas. Pertama, mereka (para bakal calon) itu kan menggunakan janji itu sebagai bahasa kampanye. Bahasa kampanye itu memang harus menarik atau menjanjikan," ujar Yayat ketika dihubungi Sindonews, Selasa (24/4/2012).
Akan tetapi yang menjadi persoalan, kata Yayat, apakah bahasa kampanye itu sebetulnya realistis atau tidak dengan fakta yang ada.
"Karena kan, sebetulnya secara realistis, kita sudah punya pengalaman, pengalaman menyusun konsep sampai implementasi itu hasilnya luar biasa. Dan sebetulnya di kita sudah banyak konsep, banyak teori, banyak rencana. Yang tidak banyak dilakukan adalah tidak banyaknya perbuatan akan sejumlah rencana tersebut," tambahnya.
Yang menjadi pertanyaan atas sejumlah janji manis para bakal calon itu, sambung dia, yakni apakah bahasa yang dipergunakan dalam janji-janji itu bisa dibuktikan atau tidak.
"Karena problematikanya adalah pada persoalan pembuktian. Kita tidak tahu konsep atau rencana dari mana mereka bisa meyakinkan kalau janji mereka itu bisa dilakukan," ungkapnya.
Lebih lanjut ia menuturkan, bahwa sejumlah permasalahan klasik Jakarta seperti macet, banjir dan sebagainya itu sebetulnya tak bisa dikerjakan oleh seorang Gubernur. "Ya, harus berkoordinasi, ya harus memberikan konduktor untuk membangun sebuah harmoni kerja sama antara sektor yang terkait," imbuhnya. (wbs)
Alhasil, banyak pihak menyoroti bahkan mengkritisi perilaku para kandidat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta periode 2012-2017 ini. Salah satunya adalah Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti Yayat Supriyatna.
"Ya ini harus diperjelas. Pertama, mereka (para bakal calon) itu kan menggunakan janji itu sebagai bahasa kampanye. Bahasa kampanye itu memang harus menarik atau menjanjikan," ujar Yayat ketika dihubungi Sindonews, Selasa (24/4/2012).
Akan tetapi yang menjadi persoalan, kata Yayat, apakah bahasa kampanye itu sebetulnya realistis atau tidak dengan fakta yang ada.
"Karena kan, sebetulnya secara realistis, kita sudah punya pengalaman, pengalaman menyusun konsep sampai implementasi itu hasilnya luar biasa. Dan sebetulnya di kita sudah banyak konsep, banyak teori, banyak rencana. Yang tidak banyak dilakukan adalah tidak banyaknya perbuatan akan sejumlah rencana tersebut," tambahnya.
Yang menjadi pertanyaan atas sejumlah janji manis para bakal calon itu, sambung dia, yakni apakah bahasa yang dipergunakan dalam janji-janji itu bisa dibuktikan atau tidak.
"Karena problematikanya adalah pada persoalan pembuktian. Kita tidak tahu konsep atau rencana dari mana mereka bisa meyakinkan kalau janji mereka itu bisa dilakukan," ungkapnya.
Lebih lanjut ia menuturkan, bahwa sejumlah permasalahan klasik Jakarta seperti macet, banjir dan sebagainya itu sebetulnya tak bisa dikerjakan oleh seorang Gubernur. "Ya, harus berkoordinasi, ya harus memberikan konduktor untuk membangun sebuah harmoni kerja sama antara sektor yang terkait," imbuhnya. (wbs)
()