Kekerasan seksual anak, pelaku bergeser ke kenalan baru
Selasa, 27 Desember 2011 - 10:27 WIB
Kekerasan seksual anak, pelaku bergeser ke kenalan baru
A
A
A
Sindonews.com – Kasus kekerasan seksual dengan korban maupun pelaku anak di bawah umur di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih tergolong tinggi.
Dari beberapa kasus yang terjadi, pelaku mulai menunjukkan pergeseran dari orang dekat menjadi orang yang baru dikenal korban. Pergeseran ini dipicu tingginya minat masyarakat menggunakan layanan jejaring sosial. Pada pertengahan November 2011, kasus semacam ini dialami korban berinisal Rt (14), warga Banyuurip, Jatimulyo, Dlingo, Bantul. Melalui facebook korban berkenalan dengan pelaku bernama Andi (25), warga Dusun Tanjung, Getas, Playen, Gunungkidul. Keduanya lantas kopi darat, korban dijemput pelaku diajak main ke rumahnya hingga akhirnya dipaksa untuk melakukan persetubuhan.
Belum lama ini kasus yang sama dialami korban berinisial Dn (13), warga Donoharjo, Ngaglik, Sleman. Oleh seorang temannya, korban dikenalkan dengan Ap (14), melalui facebook. Dari perkenalan itu keduanya saling bertemu. Saat pertemuan kedua, Minggu (18/12/2011) malam pelaku menjemput korban dirumahnya untuk diajak main ke rumah salah seorang teman. Namun bukannya rumah teman Ap yang dituju, malahan korban diajak ke Museum Gunung Merapi di Pakem, Sleman.
Sesampainya di MGM, korban tidak menyangka ternyata di sana ada beberapa teman Ap. Bersama salah seorang temannya yang diketahui berinisal An, mereka mengajak Dn ke kebun daerah sekitar museum. Dua remaja itu lantas memperlakukan korban layaknya suami istri secara bergiliran. Kasus itu lalu dilaporkan ke Mapolres Sleman. Kedua pelaku lantas ditangkap dan ditahan. Namun karena keduanya masih di bawah umur, mereka dititipkan di Panti Sosial Bina Remaja, Sleman.
”Keduanya kami tangkap dan dtitipkan ke panti sesuai dengan aturan yang berlaku,” kata Kasatreskrim Polres Sleman, AKP Danang Kuntadi.
Divisi Advokasi dan Hukum dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) DIY Pranowo menerangkan, adanya pergeseran pelaku tindak kekerasan seksual itu perlu menjadi perhatian serius. Pengawasan dan pembinaan terhadap anak sangat diperlukan, terutama pemberian informasi mengenai reproduksi.
Dari beberapa kasus yang terjadi, pelaku mulai menunjukkan pergeseran dari orang dekat menjadi orang yang baru dikenal korban. Pergeseran ini dipicu tingginya minat masyarakat menggunakan layanan jejaring sosial. Pada pertengahan November 2011, kasus semacam ini dialami korban berinisal Rt (14), warga Banyuurip, Jatimulyo, Dlingo, Bantul. Melalui facebook korban berkenalan dengan pelaku bernama Andi (25), warga Dusun Tanjung, Getas, Playen, Gunungkidul. Keduanya lantas kopi darat, korban dijemput pelaku diajak main ke rumahnya hingga akhirnya dipaksa untuk melakukan persetubuhan.
Belum lama ini kasus yang sama dialami korban berinisial Dn (13), warga Donoharjo, Ngaglik, Sleman. Oleh seorang temannya, korban dikenalkan dengan Ap (14), melalui facebook. Dari perkenalan itu keduanya saling bertemu. Saat pertemuan kedua, Minggu (18/12/2011) malam pelaku menjemput korban dirumahnya untuk diajak main ke rumah salah seorang teman. Namun bukannya rumah teman Ap yang dituju, malahan korban diajak ke Museum Gunung Merapi di Pakem, Sleman.
Sesampainya di MGM, korban tidak menyangka ternyata di sana ada beberapa teman Ap. Bersama salah seorang temannya yang diketahui berinisal An, mereka mengajak Dn ke kebun daerah sekitar museum. Dua remaja itu lantas memperlakukan korban layaknya suami istri secara bergiliran. Kasus itu lalu dilaporkan ke Mapolres Sleman. Kedua pelaku lantas ditangkap dan ditahan. Namun karena keduanya masih di bawah umur, mereka dititipkan di Panti Sosial Bina Remaja, Sleman.
”Keduanya kami tangkap dan dtitipkan ke panti sesuai dengan aturan yang berlaku,” kata Kasatreskrim Polres Sleman, AKP Danang Kuntadi.
Divisi Advokasi dan Hukum dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) DIY Pranowo menerangkan, adanya pergeseran pelaku tindak kekerasan seksual itu perlu menjadi perhatian serius. Pengawasan dan pembinaan terhadap anak sangat diperlukan, terutama pemberian informasi mengenai reproduksi.
()