Tambah daya angkut KRL Jabodetabek
Senin, 26 Desember 2011 - 07:39 WIB
Tambah daya angkut KRL Jabodetabek
A
A
A
Sindonews.com– Penambahan daya angkut kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek mutlak dilakukan untuk mengatasi penumpukan penumpang. Penambahan jadwal perjalanan dan armada di setiap rangkaian kereta bisa menjadi solusi.
Berdasarkan penilaian Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ), kelemahan mendasar dari angkutan massal tersebut yakni minimnya armada,infrastruktur, dan lemahnya manajemen. Anggota DTKJ Iskandar Abubakar berpendapat,sejauh ini jaringan kereta di Ibu Kota sudah bagus,namun kapasitas daya angkut masih belum maksimal.
“KRL merupakan moda transportasi yang paling diminati masyarakat. Selain memiliki kelebihan di sisi waktu, harga tiketnya pun terbilang murah. Sayangnya, masih terjadi penumpukan penumpang,” kata Iskandar, Minggu, 25 Desember 2011.
Untuk itulah, pihaknya meminta PT KAI maupun PT KCJ menambah frekuensi perjalanan KRL ataupun menambah armada dalam setiap rangkaian. Hal penting lainnya,pemerintah harus meminimalisasi perlintasan kereta yang ramai lalu lintas.
Caranya dengan membuat flyover dan underpass di setiap perlintasan kereta, sehingga keselamatan dan perjalanan KRL lebih terjamin. ”Tidak usah dilakukan secara serentak,mungkin bisa dimulai dari rute Serpong – Manggarai sebagai tahap awal revitalisasi,”tuturnya.
Ketua DTKJ Azas Tigor Nainggolan menambahkan,pihaknya sudah menyusun sembilan langkah revitalisasi angkutan umum yang akan dimulai 2012. Salah satunya melalui penegakan hukum. Minimnya penegakan hukum membuat para pengemudi angkutan umum tidak disiplin.
“Hal itu terlihat seperti saat bus maupun angkot menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat tanpa menghitung keamanan penumpangnya,” ungkapnya.
Langkah revitalisasi lainnya adalah mengadakan standar pelayanan minimum (SPM) bagi angkutan umum, melakukan evaluasi trayek angkutan umum eksisting (reguler), memperbaiki layanan KRL Jabodetabek, meningkatkan biaya penggunaan kendaraan bermotor pribadi, melakukan kebijakan subsidi angkutan umum, perbaikan kelembagaan bisnis atau operator angkutan, dan pembatasan usia kendaraan umum.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas mengatakan, revitalisasi angkutan umum mutlak dilakukan. Kondisi angkutan umum di Jabodetabek sangat parah, sehingga penumpang tidak merasakan kenyamanan dan keamanan dalam bertransportasi. “Langkah lain yang perlu dilakukan adalah membuat masyarakat mencintai transportasi publik,”tuturnya.
Dia mengungkapkan, integrasi transportasi juga perlu ditingkatkan lagi. Hal ini untuk merangsangpenggunakendaraan pribadi beralih ke angkutan massal. ”Saat ini jika saya ingin ke Harmoni, dari Stasiun Juandasaya selalunaikojek,sebabjarak stasiun dengan halte busway tidak terintegrasi,”keluhnya.
Sekretaris Perusahaan PT KCJ Makmur Syaheran mengatakan, dalam waktu dekat akan ada penambahan armada KRL. Saat ini 130 unit KRL sudah diperbaiki di depo Bukit Duri,Jakarta Selatan. Sebanyak 16 di antaranya telah digunakan untuk me-replace kereta yang tidak layak guna.Tidak hanya itu,Makmur juga menjelaskan 32 unit kereta dari empat rangkaian sedang dalam proses sertifikasi dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Mengenai penambahan frekuensi perjalanan untuk mengatasi penumpukan penumpang belum bisa dilakukan dalam waktu dekat karena mengorbankan pengguna jalan raya. ”Jika kita tambah perjalanan, nantipenggunakendaraanroda dua dan empat akan mengalami kemacetan di beberapa perlintasan kereta,”tuturnya.
Saat ini pihaknya berupaya memaksimalkan 531 perjalanan. Meskipun belum maksimal, dirinya mengatakan, untuk kereta Bogor telah di tambah, yang tadinya ada 82 perjalanan ditambah menjadi 90 perjalanan per hari.
Untuk penambahan frekuensi perjalanan,sarana pendukung seperti flyover dan underpass harus segera dibangun di sejumlah perlintasan. PT KCJ sendiri berupaya menambah areal parkir di setiap stasiun agar penumpang KRL semakin banyak.
”Jika infrastruktur yang dibutuhkan sudah memadai, termasuk SDM, baru akan ada kemungkinan penambahan jadwal perjalanan kereta api,”tuturnya.
Berdasarkan penilaian Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ), kelemahan mendasar dari angkutan massal tersebut yakni minimnya armada,infrastruktur, dan lemahnya manajemen. Anggota DTKJ Iskandar Abubakar berpendapat,sejauh ini jaringan kereta di Ibu Kota sudah bagus,namun kapasitas daya angkut masih belum maksimal.
“KRL merupakan moda transportasi yang paling diminati masyarakat. Selain memiliki kelebihan di sisi waktu, harga tiketnya pun terbilang murah. Sayangnya, masih terjadi penumpukan penumpang,” kata Iskandar, Minggu, 25 Desember 2011.
Untuk itulah, pihaknya meminta PT KAI maupun PT KCJ menambah frekuensi perjalanan KRL ataupun menambah armada dalam setiap rangkaian. Hal penting lainnya,pemerintah harus meminimalisasi perlintasan kereta yang ramai lalu lintas.
Caranya dengan membuat flyover dan underpass di setiap perlintasan kereta, sehingga keselamatan dan perjalanan KRL lebih terjamin. ”Tidak usah dilakukan secara serentak,mungkin bisa dimulai dari rute Serpong – Manggarai sebagai tahap awal revitalisasi,”tuturnya.
Ketua DTKJ Azas Tigor Nainggolan menambahkan,pihaknya sudah menyusun sembilan langkah revitalisasi angkutan umum yang akan dimulai 2012. Salah satunya melalui penegakan hukum. Minimnya penegakan hukum membuat para pengemudi angkutan umum tidak disiplin.
“Hal itu terlihat seperti saat bus maupun angkot menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat tanpa menghitung keamanan penumpangnya,” ungkapnya.
Langkah revitalisasi lainnya adalah mengadakan standar pelayanan minimum (SPM) bagi angkutan umum, melakukan evaluasi trayek angkutan umum eksisting (reguler), memperbaiki layanan KRL Jabodetabek, meningkatkan biaya penggunaan kendaraan bermotor pribadi, melakukan kebijakan subsidi angkutan umum, perbaikan kelembagaan bisnis atau operator angkutan, dan pembatasan usia kendaraan umum.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas mengatakan, revitalisasi angkutan umum mutlak dilakukan. Kondisi angkutan umum di Jabodetabek sangat parah, sehingga penumpang tidak merasakan kenyamanan dan keamanan dalam bertransportasi. “Langkah lain yang perlu dilakukan adalah membuat masyarakat mencintai transportasi publik,”tuturnya.
Dia mengungkapkan, integrasi transportasi juga perlu ditingkatkan lagi. Hal ini untuk merangsangpenggunakendaraan pribadi beralih ke angkutan massal. ”Saat ini jika saya ingin ke Harmoni, dari Stasiun Juandasaya selalunaikojek,sebabjarak stasiun dengan halte busway tidak terintegrasi,”keluhnya.
Sekretaris Perusahaan PT KCJ Makmur Syaheran mengatakan, dalam waktu dekat akan ada penambahan armada KRL. Saat ini 130 unit KRL sudah diperbaiki di depo Bukit Duri,Jakarta Selatan. Sebanyak 16 di antaranya telah digunakan untuk me-replace kereta yang tidak layak guna.Tidak hanya itu,Makmur juga menjelaskan 32 unit kereta dari empat rangkaian sedang dalam proses sertifikasi dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Mengenai penambahan frekuensi perjalanan untuk mengatasi penumpukan penumpang belum bisa dilakukan dalam waktu dekat karena mengorbankan pengguna jalan raya. ”Jika kita tambah perjalanan, nantipenggunakendaraanroda dua dan empat akan mengalami kemacetan di beberapa perlintasan kereta,”tuturnya.
Saat ini pihaknya berupaya memaksimalkan 531 perjalanan. Meskipun belum maksimal, dirinya mengatakan, untuk kereta Bogor telah di tambah, yang tadinya ada 82 perjalanan ditambah menjadi 90 perjalanan per hari.
Untuk penambahan frekuensi perjalanan,sarana pendukung seperti flyover dan underpass harus segera dibangun di sejumlah perlintasan. PT KCJ sendiri berupaya menambah areal parkir di setiap stasiun agar penumpang KRL semakin banyak.
”Jika infrastruktur yang dibutuhkan sudah memadai, termasuk SDM, baru akan ada kemungkinan penambahan jadwal perjalanan kereta api,”tuturnya.
()