Intensitas kebakaran di Makassar tinggi
Rabu, 28 September 2011 - 17:16 WIB
Intensitas kebakaran di Makassar tinggi
A
A
A
MAKASSAR - Intensitas kebakaran di Makassar sepanjang September tahun ini cukup tinggi yakni mencapai 27 kasus. Jika dirata-ratakan, sampai siang ini setiap hari terjadi satu kasus kebakaran di kota seluar 157,77 kilometer persegi ini.
Data Dinas Pemadam Kebakaran Makassar menyebutkan sejak Januari sampai siang ini sudah terjadi 129 kasus kebakaran. Angka ini sudah mendekati jumlah kasus kebakaran sepanjang tahun lalu yakni 148 kasus.
Kepala Bidang Operasional Dinas Damkar Makassar Bahtiar Tawil menguraikan, sepanjang tahun ini rumah tinggal yang terbakar 321, toko 38, industri perusahaan 5 unit, gudang 3 unit, pasar 1, hotel 3, serta kendaraan 14 unit.
"Khusus bulan ini saja jika dirata-ratakan setiap hari satu kasus kebakaran. Bahkan, pada Agustus lalu terjadi 31 kasus," kata Bahtiar.
Dia mengungkapkan, hasil analisa di lapangan, kebakaran ini dipicu arus pendek listrik 73 kasus, kompor 8 kasus, tabung gas 2 kasus, lilin 1 kasus, sampah dan alang-alang 16 kasus, serta 29 kasus yang tidak diketahui penyebabnya.
Selain menimbukan kerugian materi yang mencapai ratusan miliar, kasus kebakaran ini juga menewaskan enam orang, serta korban luka. "Kasus bulan Juli 2 orang yang meninggal, sedangkan 4 orang meninggal di bulan September," kata Bahtiar.
Dia mengungkapkan, guna mengurangi kerugian material dan korban jiwa dalam kebakaran butuh kepedulian semua pihak, khusus PT PLN. Sebanyak 73 kasus kebakaran diduga disebabkan arus pendek listrik. Dia menduga, instalasi listrik sudah tidak layak digunakan.
"Kemungkinan ada kabel yang sudah puluhan tahun terpasang di dalam rumah tidak diganti. Ada juga kami temukan mencuri listrik, mencantol listrik. Belum lagi kabel yang tidak sebanding dengan daya yang dialirkan ke rumah. Ini berbahaya," kata Bahtiar yang sudah 13 tahun menjabat Kabid Operasional.
Dia mengakui Dinas Damkar Makassar masih membutuhkan sejumlah alat penunjang pemadaman antara lain, alat pendobrak pintu besi, gunting otomatis, dan mobil blower untuk menghalau asap.
"Harganya memang mahal tapi ini harus diadakan. Apalagi di Makassar sudah banyak bangunan-bangunan tinggi. Kita hanya punya baju anti api 2 pasang, anti panas 5 pasang. Kami juga sarankan, rutin dilakukan pelatihan di Jakarta untuk pengembangan sumber daya personel," kata dia.
Dia mengatakan, idealnya kota berpenduduk 1,5 juta jiwa ini memiliki sekitar 150 unit armada. Sementara armada yang kami miliki hanya 27 unit terdiri atas 6 unit mobil tangki, tangga 3 unit, evakuasi 1 unit, selebihnya penyemprot.
"Jumlah ini terbagi di beberapa posko yang tersebar di beberapa wilayah. Selain di posko induk, ada juga di posko Timur di Panakukang dan sekitarnya, Posko Lantamal untuk wilayah Kecamatan Ujung tanah dan sekitarnya, termasuk Pelabuhan Makassar. Ada juga posko Kima melingkupi wilayah Kecamatan Biringkanaya dan sekitarnya. Sekarang sementara dibangun posko untuk kawasan tanjung. Setiap posko ada 2 unit, satu tangki, dan satu mobil penyemprot," ujar dia.
Kendala lain di lapangan masih adanya informasi iseng dari masyaralat. Komandan Peleton 2 Dinas Damkar Hasbullah menambahkan, terkadang ada informasi keliru, iseng dari masyarakat. "Kami minta masyarakat tidak memberikan informasi iseng. Karena tentu membutuhkan biaya operasional. Tapi prinsip kami lebih baik datang ke lokasi," kata dia.
Dia menyarankan, guna meminimalisir dampak kebakaran disarankan gedung jangkung di atas 3 lantai ke atas menyiapkan alat pemadam kebakaran darurat. Dia mentontohkan, fire hidran dan pemadam otomatis di dalam ruangan. "Pimpinan perusahaan kami sarankan melakukan pelatihan secara berkala antisipasi kebakaran, seperti cara penggunaan firehidran dan sprinkler. Kalau ada alatnya mesti bisa digunakan juga," kata dia.
Selain itu, kepada masyarakat umum yang hendak membantu pemadam saat terjadi kebakaran tidak berlebihan. Warga yang biasanya berkerumun diminta memberikan kesempatan kepada pemadam melaksanakan tugasnya. "Kami sudah belajar taktik dan teknik. Termasuk mempelajari arah angin dan situasi di lapangan," kata dia.
Sementara personel yang ada saat ini hanya 267 orang, di luar staf. Jumlah ini tentu akan ditambah disesuaikan dengan jumlah armada. Idealnya, satu unit armada dikendalikan oleh enam personel, termasuk driver. "Masih ada 60 persen personel kami masih tenaga kontrak. Kontrak sebagian dikontrak sejak 2005 dampai sekarang. Jadi masih sekitar 130 orang yang belum terangkat menjadi PNS," kata dia.
Data Dinas Pemadam Kebakaran Makassar menyebutkan sejak Januari sampai siang ini sudah terjadi 129 kasus kebakaran. Angka ini sudah mendekati jumlah kasus kebakaran sepanjang tahun lalu yakni 148 kasus.
Kepala Bidang Operasional Dinas Damkar Makassar Bahtiar Tawil menguraikan, sepanjang tahun ini rumah tinggal yang terbakar 321, toko 38, industri perusahaan 5 unit, gudang 3 unit, pasar 1, hotel 3, serta kendaraan 14 unit.
"Khusus bulan ini saja jika dirata-ratakan setiap hari satu kasus kebakaran. Bahkan, pada Agustus lalu terjadi 31 kasus," kata Bahtiar.
Dia mengungkapkan, hasil analisa di lapangan, kebakaran ini dipicu arus pendek listrik 73 kasus, kompor 8 kasus, tabung gas 2 kasus, lilin 1 kasus, sampah dan alang-alang 16 kasus, serta 29 kasus yang tidak diketahui penyebabnya.
Selain menimbukan kerugian materi yang mencapai ratusan miliar, kasus kebakaran ini juga menewaskan enam orang, serta korban luka. "Kasus bulan Juli 2 orang yang meninggal, sedangkan 4 orang meninggal di bulan September," kata Bahtiar.
Dia mengungkapkan, guna mengurangi kerugian material dan korban jiwa dalam kebakaran butuh kepedulian semua pihak, khusus PT PLN. Sebanyak 73 kasus kebakaran diduga disebabkan arus pendek listrik. Dia menduga, instalasi listrik sudah tidak layak digunakan.
"Kemungkinan ada kabel yang sudah puluhan tahun terpasang di dalam rumah tidak diganti. Ada juga kami temukan mencuri listrik, mencantol listrik. Belum lagi kabel yang tidak sebanding dengan daya yang dialirkan ke rumah. Ini berbahaya," kata Bahtiar yang sudah 13 tahun menjabat Kabid Operasional.
Dia mengakui Dinas Damkar Makassar masih membutuhkan sejumlah alat penunjang pemadaman antara lain, alat pendobrak pintu besi, gunting otomatis, dan mobil blower untuk menghalau asap.
"Harganya memang mahal tapi ini harus diadakan. Apalagi di Makassar sudah banyak bangunan-bangunan tinggi. Kita hanya punya baju anti api 2 pasang, anti panas 5 pasang. Kami juga sarankan, rutin dilakukan pelatihan di Jakarta untuk pengembangan sumber daya personel," kata dia.
Dia mengatakan, idealnya kota berpenduduk 1,5 juta jiwa ini memiliki sekitar 150 unit armada. Sementara armada yang kami miliki hanya 27 unit terdiri atas 6 unit mobil tangki, tangga 3 unit, evakuasi 1 unit, selebihnya penyemprot.
"Jumlah ini terbagi di beberapa posko yang tersebar di beberapa wilayah. Selain di posko induk, ada juga di posko Timur di Panakukang dan sekitarnya, Posko Lantamal untuk wilayah Kecamatan Ujung tanah dan sekitarnya, termasuk Pelabuhan Makassar. Ada juga posko Kima melingkupi wilayah Kecamatan Biringkanaya dan sekitarnya. Sekarang sementara dibangun posko untuk kawasan tanjung. Setiap posko ada 2 unit, satu tangki, dan satu mobil penyemprot," ujar dia.
Kendala lain di lapangan masih adanya informasi iseng dari masyaralat. Komandan Peleton 2 Dinas Damkar Hasbullah menambahkan, terkadang ada informasi keliru, iseng dari masyarakat. "Kami minta masyarakat tidak memberikan informasi iseng. Karena tentu membutuhkan biaya operasional. Tapi prinsip kami lebih baik datang ke lokasi," kata dia.
Dia menyarankan, guna meminimalisir dampak kebakaran disarankan gedung jangkung di atas 3 lantai ke atas menyiapkan alat pemadam kebakaran darurat. Dia mentontohkan, fire hidran dan pemadam otomatis di dalam ruangan. "Pimpinan perusahaan kami sarankan melakukan pelatihan secara berkala antisipasi kebakaran, seperti cara penggunaan firehidran dan sprinkler. Kalau ada alatnya mesti bisa digunakan juga," kata dia.
Selain itu, kepada masyarakat umum yang hendak membantu pemadam saat terjadi kebakaran tidak berlebihan. Warga yang biasanya berkerumun diminta memberikan kesempatan kepada pemadam melaksanakan tugasnya. "Kami sudah belajar taktik dan teknik. Termasuk mempelajari arah angin dan situasi di lapangan," kata dia.
Sementara personel yang ada saat ini hanya 267 orang, di luar staf. Jumlah ini tentu akan ditambah disesuaikan dengan jumlah armada. Idealnya, satu unit armada dikendalikan oleh enam personel, termasuk driver. "Masih ada 60 persen personel kami masih tenaga kontrak. Kontrak sebagian dikontrak sejak 2005 dampai sekarang. Jadi masih sekitar 130 orang yang belum terangkat menjadi PNS," kata dia.
()