alexametrics

Kisah Christina, Pasien Sembuh Corona dari Surabaya

Perkuat Imun, Dokter Tak Henti Beri Semangat dan Ajak Berdoa

loading...
A+ A-
KEHIDUPAN adalah milik para pemenang tanpa putus asa. Spirit itu dijadikan Christina sebagai pedoman dalam melewati masa-masa kritis kala diserang virus corona. Selama dua pekan perempuan asal Surabaya ini dengan optimismenya melawan serangan Covid-19 di ruang isolasi rumah sakit.

Awal Maret menjadi permulaan kelam bagi Christina ketika mulai merasakan perubahan pada kondisi tubuh. Mulanya demam tinggi, lalu disusul badan terasa patah-patah dan kehilangan nafsu makan.

Tepat pada 9 Maret 2020 Christina lantas memeriksakan kondisinya di RS Mitra Keluarga Surabaya. "Beberapa hari saya dirawat di RS Mitra Keluarga. Waktu itu napas saya sudah lemah. Dada kanan warnanya abu-abu, tapi sudah bisa sembuh karena terapi. Lalu yang kiri memburuk berbentuk embun dan menutup seperti awan," kata Christina, Sabtu (28/3).



Lantaran kondisinya tak kunjung membaik, pada 11 Maret dia dibawa ke RS Universitas Unair untuk dilakukan swab test pada tenggorokan dan hidung. Pada saat yang bersamaan, RS Mitra Keluarga sudah mengosongkan pasien. Keesokan harinya Christina dilarikan ke RSUD dr Soetomo. Kesehatannya yang memburuk membuat dia langsung masuk dalam ruang isolasi khusus.

"Saya tahu saat dimasukkan ke ruang isolasi khusus. Dengan kondisi lemas bernapas pun sudah tidak sampai, oksigen tidak maksimal. Saya sendiri di ruang khusus itu bersama alat medis," ucapnya. (Baca: Kabar Baik, 3 Pasien Positif Corona di Kota Malang Sembuh)

Selama perawatan superintensif di ruang isolasi khusus itu berlangsung, ibu dua anak ini tidak mengetahui bahwa dirinya tengah mengidap penyakit yang kini mewabah di berbagai belahan dunia, Covid-19. Bahkan, yang dia tahu dokter hanya menyampaikan bahwa kondisi pasien harus sembuh, harus kuat, dan tidak putus dalam berdoa. "Ibu harus sembuh, ibu sehat, karena hanya ibu yang bisa membantu diri ibu sendiri, imunitas ibu yang membentengi ibu sendiri. Itu kata dokter pada saya. Tidak pernah sama sekali dokter dan perawat bilang pada saya tentang virus," tuturnya.

Beberapa hari dirawat di ruang isolasi merupakan masa paling berat yang pernah dilewati. Setelah keluar dari ruang isolasi khusus penuh peralatan medis, Christina harus menjalani tahap berikutnya, yakni masuk ke ruang isolasi tanpa peralatan. "Itu lima hari yang luar biasa berat. Saya merasakan betapa sakitnya tubuh ini. Dokter terus mendukung saya, ibu tidak apa-apa, jalan pelan-pelan selangkah dulu dan pakai oksigennya. Lalu setelah itu saya dimasukkan ke ruang yang tidak ada peralatan lagi masih di ruang isolasi juga," ungkapnya.

Setelah hari kedelapan dirawat di RSUD dr Soetomo, akhirnya dia dapat bertemu suaminya. Pada kesempatan itu, dokter menyampaikan bahwa kondisi Christina sudah resmi negatif Covid-19. "Dokter bilang itu pada suami saya bahwa saya sudah kembali sehat. Saya dinyatakan negatif Covid-19. Saya lega sekali," ujarnya.

Meskipun saat ini sudah kembali ke rumah, Christina tetap harus membatasi kegiatannya sembari menjaga pola hidup agar tetap sehat. Meskipun sudah di rumah, dia masih dalam pemantauan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam mendeteksi kondisi pasien melalui puskesmas terdekat. Bahkan, pemkot juga memberikan vitamin, suplemen dan makanan sehat. (Baca: Pemakaman Jenazah Pasien Positif Corona di Tasikmlaya Ditolak Warga)

Christina berharap warga Kota Surabaya juga dapat mematuhi aturan yang sudah ditetapkan pemerintah. Terlebih, dia sebagai mantan pasien Covid-19 sudah merasakan betapa sakitnya melawan virus tersebut. "Peraturan pemerintah itu harus didengar. Ini bukan penyakit atau virus biasa. Saya sudah mengalami ini. Untuk anak muda, sudah tidak usah lagi keluar kalau sekadar nongkrong itu tidak perlu. Kita batasi interaksi. Memang ada dokter, tapi dia juga manusia," katanya mengingatkan. (Aan Haryono)
(ysw)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top