Guru Besar Farmasi UGM Ingatkan Klorokuin Obat Keras dan Berefek Samping

Senin, 23 Maret 2020 - 15:06 WIB
Guru Besar Farmasi UGM...
Guru Besar Farmasi UGM Ingatkan Klorokuin Obat Keras dan Berefek Samping
A A A
YOGYAKARTA - Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Zullies Ikawati mengatakan, obat klorokuin tidak boleh dikonsumsi sembarangan. Sebab, merupakan obat keras dan memiliki efek samping. Harus dengan resep dokter, sehingga tidak boleh dikonsumsi sembarangan.

Obat klorokuin menjadi pembicaraan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan, obat itu bisa mengatasi virus Corona (COVID-19). Bahkan, Presiden Jokowi mengaku telah memesan 2 juta obat klorokuin untuk mengatasi wabah Corona di Tanah Air.

“Klorokuin dilaporkan memiliki efek antiviral yang kuat terhadap virus SARS-CoV. Obat ini, bekerja dengan mengikat reseptor seluler angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) yang merupakan tempat masuknya virus SARS-CoV. Sehingga menghambat masuknya virus ke dalam sel,” kata Zullies dalam rilisnya, Senin (23/3/2020).

Klorokuin merupakan obat antimalaria sebagai imunosupresan pada pasien dengan penyakit autoimun seperti lupus atau artritis rematoid, serta memiliki efek antiviral untuk mengatasi Covid-19 di China.

Zullies menjelaskan, klorokuin mampu meningkatkan pH endosomal yang menyebabkan hambatan replikasi virus, karena replikasi virus membutuhkan suasana asam. Namun, sebagai obat dengan kategori obat Keras, harus digunakan dengan resep dokter dan sebaiknya digunakan untuk yang sudah positif atau tersangka.

“Bila tidak terkena lalu mengkonsumsi maka efeknya tidak kecil seperti gangguan penglihatan, dan terjadinya abnormalitas pada jantung,” paparnya.

Sementara itu, Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat, pernyataan Donald Trump kurang tepat. FDA belum menyetujui chloroquine untuk mengobati COVID-19.

Komisaris FDA Stephen Hahn menekankan, proses penelitian ini diperlukan meskipun situasi virus Corona sangat mendesak.

"Kami juga harus memastikan produk ini efektif. Jika tidak, kami berisiko merawat pasien dengan produk yang mungkin tidak berfungsi ketika mereka bisa mengejar perawatan lain yang lebih tepat," kata Hahn dilansirCNN International pada Jumat (20/3/2020).

(zil)
Berita Terkait
Mengenal Sejarah Berdirinya...
Mengenal Sejarah Berdirinya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
UGM Ajak Seluruh Elemen...
UGM Ajak Seluruh Elemen Bangsa Bersatu Lawan COVID-19
3 Fakultas di UGM yang...
3 Fakultas di UGM yang Menyediakan Sarapan bagi Mahasiswanya saat Ujian
UGM Tegaskan Belum Akan...
UGM Tegaskan Belum Akan Ubah Nomenklatur Teknik Menjadi Rekayasa
63 Prodi UGM Berakreditasi...
63 Prodi UGM Berakreditasi Internasional
FKPT DIY Ajak Masyarakat...
FKPT DIY Ajak Masyarakat Waspada Bahaya Radikalisme di Masa Pandemi Corona
Berita Terkini
Kebakaran TPA Jatiwaringin...
Kebakaran TPA Jatiwaringin Berhasil Dipadamkan 45 Persen di Hari ke-7 Penanganan
55 menit yang lalu
2 Wilayah Dilanda Karhutla,...
2 Wilayah Dilanda Karhutla, BNPB Catat Banjarbaru Terparah dengan 3,7 Hektare Terbakar
4 jam yang lalu
Puluhan Siswa SMA Belajar...
Puluhan Siswa SMA Belajar Riset, AI, dan Keberlanjutan secara Langsung
14 jam yang lalu
92 WN China Pelaku Penipuan...
92 WN China Pelaku Penipuan Investasi di Batam Dideportasi, Seumur Hidup Dilarang ke Indonesia
14 jam yang lalu
UP2B Jabar Siaga 24...
UP2B Jabar Siaga 24 Jam Jaga Pasokan Listrik, Libur Sekolah Nyaman Berkat Kinerja PLN
15 jam yang lalu
Bang Jago yang Pukul...
Bang Jago yang Pukul Pengendara Motor di Jagakarsa Positif Sabu
16 jam yang lalu
Infografis
Berapa Gaji Guru PPPK...
Berapa Gaji Guru PPPK dan PNS 2025? Ini Rinciannya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved