Jalani Observasi di Pulau Sebaru, ABK Word Dream Ternyata Jago Masak

Senin, 02 Maret 2020 - 14:00 WIB
Jalani Observasi di...
Jalani Observasi di Pulau Sebaru, ABK Word Dream Ternyata Jago Masak
A A A
KEPULAUAN SERIBU - Sebanyak 188 WNI yang menjadi anak buah kapal (ABK) kapal pesiar World Dream menjalani observasi selama 14 hari terkait virus Corona (Covid-19) di Pulau Sebaru. Sebagian dari mereka mengisi waktu dengan memasak.

Mereka mamasak bersama secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan menu tambahan makanan. Para koki dadakan tersebut memang memiliki keahlian memasak selama menjadi ABK World Dream. Mereka diberi kesempatan menunjukkan keahlian dan kreativitasnya dalam memasak di dapur yang berada pada ring-1, di bawah komando Kolonel Laut M Said Latuconsina. (Baca juga: Masyarakat Kepulauan Seribu Diminta Tak Panik soal Pemulangan ABK World Dream)
Jalani Observasi di Pulau Sebaru, ABK Word Dream Ternyata Jago Masak

Meski tengah menjalani masa observasi, namun wajah mereka tampak ceria ketika diberi kesempatan membantu misi kemanusian dari balik dapur. "Semua senang dan riang," kata Komandan Juru Masak Tim Kemanusiaan Pulau Sebaru, Letkol Sitanggang.

Sebelumnya Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo telah bertemu dengan Letkol Sitanggang yang merupakan mantan anak buahnya ketika menjadi Komandan Kesatuan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Sudah mengerti dia ini (apa kebutuhannya)," ungkap Doni saat memperkenalkan Letkol Sitanggang kepada Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy di Pulau Sebaru, Jumat (28/2/2020).
Jalani Observasi di Pulau Sebaru, ABK Word Dream Ternyata Jago Masak

Doni menyebut bahwa Letkol Sitanggang merupakan prajurit yang mumpuni di bidang kebutuhan pangan dan dapur. Karena itu Doni merasa yakin bahwa kebutuhan pangan akan terpenuhi dengan standar yang sudah diperhitungkan di bawah komando Letkol Sitanggang.

Dalam pertemuan singkat tersebut, Doni kembali mengingatkan bahwa kunci sukses pemulihan kesehatan dan observasi adalah makanan. Sebab makanan adalah obat. Sehingga makanan yang diberikan harus berkualitas, karena obat itu sendiri adalah makanan.
(shf)
Berita Terkait
Malaysia Klaim WNI Diperlakukan...
Malaysia Klaim WNI Diperlakukan Sama dalam Perawatan Pasien Covid-19
Mutasi Baru Virus Corona
Mutasi Baru Virus Corona
KBRI Canberra Bagikan...
KBRI Canberra Bagikan Bantuan Sembako Tahap II bagi WNI
‘Takjil Drive-Through’...
‘Takjil Drive-Through’ untuk WNI di Canberra di Tengah Pandemi
Pemerintah Berencana...
Pemerintah Berencana Evakuasi WNI Jamaah Tabligh di India
Protes Kematian George...
Protes Kematian George Floyd Berlanjut di AS, WNI dalam Kondisi Aman
Berita Terkini
BNN dan Bea Cukai Gagalkan...
BNN dan Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 3,37 Ton Kuncup Bunga Kanabis Asal Thailand
8 jam yang lalu
Pemprov Jatim Dukung...
Pemprov Jatim Dukung BYD Tech-Culture Fest 2026
8 jam yang lalu
Gen Z Berekspresi, 510...
Gen Z Berekspresi, 510 STUDIOS Bawa Tren Self-Photo ke Lampung Selatan
8 jam yang lalu
Penampakan Lamborghini...
Penampakan Lamborghini hingga Aset Mewah Tersangka Aseng yang Disita Kejagung
9 jam yang lalu
Pesawat AMA Dibakar...
Pesawat AMA Dibakar di Yahukimo, Kemenko Polkam Dorong Tindakan Tegas
10 jam yang lalu
HKTI Papua Dukung Agenda...
HKTI Papua Dukung Agenda Ketahanan Pangan Nasional dari Biak
11 jam yang lalu
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved