Minimalisir DBD dan Chikungunya, Dinkes Kota Tangerang Terjunkan Tim Jumantik
Senin, 24 Februari 2020 - 14:45 WIB
Minimalisir DBD dan Chikungunya, Dinkes Kota Tangerang Terjunkan Tim Jumantik
A
A
A
TANGERANG - Dinas Kesehatan Kota Tangerang mengingatkan kembali pentingnya penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), apalagi di tengah maraknya wabah penyakit seperti DBD atau Chikungunya. "Kami mengimbau masyarakat menerapkan PHBS," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Tangerang dr Bevy, Senin (24/2/2020).
Terkait pencegahan DBD dan Chikungunya, masyarakat perlu proaktif melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) lewat Gerakan 3M plus yakni menguras bak mandi setiap minggu, menutup tempat penampungan air dan mendaur ulang barang bekas serta memakai obat antinyamuk atau kelambu.
"Penanganan Chikungunya sama persis dengan DBD melalui PSN DBD karena penularannya juga melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti atau Aedes Albopictus. Dua jenis nyamuk yang juga dikenal sebagai penyebab demam berdarah," ujarnya.
"Jika semua sarang nyamuk diberantas maka tempat perindukannya akan diminimalisir," tambahnya.
Dinas Kesehatan setempat juga telah melakukan berbagai langkah untuk meminimalisir penyebaran Chikungunya dan DBD seperti mengaktifkan Pokja DBD di kecamatan dan kelurahan serta menerjunkan Juru Pemantau Jentik (Jumantik), melakukan fogging kemudian abatisasi untuk membunuh jentik nyamuk.
Timnya juga menggelar penyuluhan ke masyarakat termasuk pemeriksaan sampel lingkungan dan sampel darah pasien yang masih demam. "27% rumah yang dikunjungi tim dinkes ditemukan jentik. Ini merupakan faktor risiko penularan pada orang sekitarnya," kata Bevy.
Mengenai jumlah kasus DBD dan Chikungunya sampai saat ini tercatat 13 kasus DBD dan 88 kasus Chikungunya. "Hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE) ada 88 kasus Chikungunya, 73 di antaranya sudah sembuh dan 13 masih proses pengobatan," ucapnya.
Terkait pencegahan DBD dan Chikungunya, masyarakat perlu proaktif melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) lewat Gerakan 3M plus yakni menguras bak mandi setiap minggu, menutup tempat penampungan air dan mendaur ulang barang bekas serta memakai obat antinyamuk atau kelambu.
"Penanganan Chikungunya sama persis dengan DBD melalui PSN DBD karena penularannya juga melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti atau Aedes Albopictus. Dua jenis nyamuk yang juga dikenal sebagai penyebab demam berdarah," ujarnya.
"Jika semua sarang nyamuk diberantas maka tempat perindukannya akan diminimalisir," tambahnya.
Dinas Kesehatan setempat juga telah melakukan berbagai langkah untuk meminimalisir penyebaran Chikungunya dan DBD seperti mengaktifkan Pokja DBD di kecamatan dan kelurahan serta menerjunkan Juru Pemantau Jentik (Jumantik), melakukan fogging kemudian abatisasi untuk membunuh jentik nyamuk.
Timnya juga menggelar penyuluhan ke masyarakat termasuk pemeriksaan sampel lingkungan dan sampel darah pasien yang masih demam. "27% rumah yang dikunjungi tim dinkes ditemukan jentik. Ini merupakan faktor risiko penularan pada orang sekitarnya," kata Bevy.
Mengenai jumlah kasus DBD dan Chikungunya sampai saat ini tercatat 13 kasus DBD dan 88 kasus Chikungunya. "Hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE) ada 88 kasus Chikungunya, 73 di antaranya sudah sembuh dan 13 masih proses pengobatan," ucapnya.
(jon)