Bupati Pindahkan Plt Kepsek SD Inpres Luwuk, Siswa Telantar

loading...
Bupati Pindahkan Plt Kepsek SD Inpres Luwuk, Siswa Telantar
Bupati Pindahkan Plt Kepsek SD Inpres Luwuk, Siswa Telantar
JAKARTA - Di tengah persiapan ujian naik kelas dan Ujian Akhir Nasional (UAS), Bupati Manggarai Timur (Matim) Agas Andreas memindahkan Guru Melkior Karo, Plt Kepala Sekolah SD Inpres Luwuk ke sekolah pedalaman, yaitu SDN Wela Pandang di Kecamatan Elar, Matim.

Berita pindahnya Plt Kepala Sekolah SD Inpres Luwuk ini mengejutkan, sebab selain sedang dalam persiapan menghadap ujian naik kelas dan UAS, SK mutasi itu juga diberikan bupati secara mendadak kepada guru yang tinggal 10 bulan lagi pensiun. SINDOnews beberapa kali menghubungi Melkior lewat telpon seluler, namun guru asal Ende itu tidak mengangkatnya.

Ibu Din, istri Plt Kepsek Melkior yang juga mengajar di SD Inpres Luwuk, enggan untuk memberikan banyak informasi dan komentar. Dia meminta soal SK mutasi suaminya itu tidak dipersoalkan. "Bapa mendapat SK yang diterbit tanggal 5 Februari 2020. Bapa akan berangkat tanggal 20 Februari ini," kata Ibu Din yang mengaku cukup kaget dengan SK tersebut.

Dengan pindahnya Plt Kepala Sekolah, maka saat ini SD Inpres Luwuk tanpa kepala sekolah dan hanya ada tiga guru (2 guru honorer dan satu PNS) untuk mendampingi kelas 1 sampai kelas 6 dengan total siswa 55 orang. Ditanya bagaimana dengan persiapan ujian naik kelas dan UAS, Ibu Din mengaku bingung. "Saya tidak tahu lagi bagaimana nasib mereka," tuturnya.



Mutasinya guru Melkior Karo membuat warga sedih dan kecewa dengan sikap pemerintah. Sebab, pemerintah terkesan kurang memihak kepada hak didik anak-anak di SDI Luwuk. Sejak meninggalnya Kepala Sekolah SDI Luwuk, Yuven pada 3 Agustus 2019, Plt Kepala Sekolah dijabat Melkior Karo. Dengan dimutasi mendadak melalui SK tanggal 5 Februari itu, persiapan ujian naik kelas dan UAS siswa SDI Luwuk jelas terganggu.

Bone Utu, tokoh masyarakat Luwuk, menyayangkan SK yang memindahkan Plt Kepsek Melkior Karo tersebut. Pada kesempatan kunjungan Camat Lamba Leda beberapa hari lalu, Utu menyampaikan keberatan atas SK tersebut kepada camat. Utu mempertanyakan keterkaitan SK tersebut dengan sikap guru Melkior yang menolak pabrik semen dan tambang.

"Kami cukup kaget karena tiba-tiba guru yang sudah lama mengabdi di Luwuk ini tiba-tiba dipindahkan. Kami mendengar, dia dicap sebagai provokator tolak tambang. Jangan karena itu dia dipindahkan," tutur Utu.



Arnoldus Nefman, warga Luwuk, menduga SK yang mendadak itu ada kaitannya dengan sikap keras guru Melkior yang menolak kehadiran pabrik semen di Luwuk. Saat Bupati Matim Agas Andreas datang ke Luwuk bersama perwakilan PT Istindo Mitra Manggarai pada 21 Januari lalu, bupati meminta warga agar merelakan lahan sawahnya untuk dibangun pabrik semen.
halaman ke-1 dari 2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top