Kursi DKI 2, PKS Dinilai Tak Punya Lobi Politik Bagus
Senin, 27 Januari 2020 - 09:54 WIB
Kursi DKI 2, PKS Dinilai Tak Punya Lobi Politik Bagus
A
A
A
JAKARTA - Analis Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun angkat bicara mengenai kursi orang nomor dua di DKI Jakarta yang hingga kini masih kosong.
Dua partai pengusung yakni PKS dan Partai Gerindra masih berebut menempatkan kader mereka untuk mendampingi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Ubedilah mengatakan, pada November 2018 Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berpesan setelah ditinggal Sandiaga Uno karena fokus cawapres, maka jatah wagub DKI untuk PKS. Begitu juga narasi yang disampaikan Sandiaga, senada dengan Prabowo. (Baca juga: Urgensi Wakil Gubernur DKI)
Ini semacam gentlement agreement-nya Prabowo, kemudian PKS mengadakan fit and proper test untuk mencari kader terbaiknya. "Saya salah satu panelis bersama Eko Prasojo, Siti Zuhro, dan politikus Gerindra Syarif untuk menguji kader mereka. Hasilnya muncul dua nama, Ahmad Syaikhu dan Agung Yulianto. Proses politik berikutnya mandek di DPRD. Sampai kemudian kini muncul dua nama baru yakni Ahmad Riza Patria dan Nurmansjah Lubis," papar Ubedilah kepada wartawan, Senin (27/1/2020).
Dia menilai sikap politik PKS ini aneh, tidak ngotot atau mungkin begitulah watak politik PKS. Tidak begitu bernafsu merebut kekuasaan. "Yang menentukan kekuasaan itu Tuhan. Yang bakal jadi wagub DKI itu sudah tercatat di lauhul mahfuzd, sudah tercatat di langit. Demikian saya baca di media dari pernyataan Syakir Purnomo, ketua DPD PKS DKI. Teokratis banget," ungkapnya.
"PKS seolah tidak punya keterampilan lobi-lobi politik. Mentok. Saya amati efek psikologis politiknya dalam budaya politik Indonesia, unik juga, terlihat mengalah namun mendapat simpati publik karena terkesan mengutamakan kepentingan warga Jakarta agar segera punya wagub. Kasihan Gubernur Anies diserang sendirian. Seperti itu kira-kira bacaan sosiologis psikopolitiknya," ujar Ubedilah.
Sebelumnya, PKS mengajukan dua nama yakni Agung Yulianto dan Ahmad Syaikhu. Namun, dua nama tersebut tak segera diproses oleh DPRD. Hingga Gerindra pun menyodorkan empat nama, namun kandidat kuatnya Ahmad Riza Patria. PKS pun mengubah jagoannya menjadi Nurmansjah Lubis untuk bertarung di DPRD merebut kursi DKI 2.
Dua partai pengusung yakni PKS dan Partai Gerindra masih berebut menempatkan kader mereka untuk mendampingi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Ubedilah mengatakan, pada November 2018 Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berpesan setelah ditinggal Sandiaga Uno karena fokus cawapres, maka jatah wagub DKI untuk PKS. Begitu juga narasi yang disampaikan Sandiaga, senada dengan Prabowo. (Baca juga: Urgensi Wakil Gubernur DKI)
Ini semacam gentlement agreement-nya Prabowo, kemudian PKS mengadakan fit and proper test untuk mencari kader terbaiknya. "Saya salah satu panelis bersama Eko Prasojo, Siti Zuhro, dan politikus Gerindra Syarif untuk menguji kader mereka. Hasilnya muncul dua nama, Ahmad Syaikhu dan Agung Yulianto. Proses politik berikutnya mandek di DPRD. Sampai kemudian kini muncul dua nama baru yakni Ahmad Riza Patria dan Nurmansjah Lubis," papar Ubedilah kepada wartawan, Senin (27/1/2020).
Dia menilai sikap politik PKS ini aneh, tidak ngotot atau mungkin begitulah watak politik PKS. Tidak begitu bernafsu merebut kekuasaan. "Yang menentukan kekuasaan itu Tuhan. Yang bakal jadi wagub DKI itu sudah tercatat di lauhul mahfuzd, sudah tercatat di langit. Demikian saya baca di media dari pernyataan Syakir Purnomo, ketua DPD PKS DKI. Teokratis banget," ungkapnya.
"PKS seolah tidak punya keterampilan lobi-lobi politik. Mentok. Saya amati efek psikologis politiknya dalam budaya politik Indonesia, unik juga, terlihat mengalah namun mendapat simpati publik karena terkesan mengutamakan kepentingan warga Jakarta agar segera punya wagub. Kasihan Gubernur Anies diserang sendirian. Seperti itu kira-kira bacaan sosiologis psikopolitiknya," ujar Ubedilah.
Sebelumnya, PKS mengajukan dua nama yakni Agung Yulianto dan Ahmad Syaikhu. Namun, dua nama tersebut tak segera diproses oleh DPRD. Hingga Gerindra pun menyodorkan empat nama, namun kandidat kuatnya Ahmad Riza Patria. PKS pun mengubah jagoannya menjadi Nurmansjah Lubis untuk bertarung di DPRD merebut kursi DKI 2.
(jon)