Musyawarah Mufakat Adalah Bagian dari Demokrasi

Sabtu, 16 November 2019 - 14:02 WIB
Musyawarah Mufakat Adalah...
Musyawarah Mufakat Adalah Bagian dari Demokrasi
A A A
JAKARTA - Menjelang Munas Golkar pada Desember di Jakarta, muncul wacana untuk menggunakan musyawarah mufakat dalam memilih Ketua Umum Golkar. Hal ini disebabkan banyaknya dukungan untuk Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto, untuk memimpin partai beringin lagi.

Apalagi musyawarah mufakat juga cerminan demokrasi Pancasila. Jadi, musyawarah mufakat juga bukan sesuatu yang tabu di Golkar. Bahkan pemilihan secara aklamasi sendiri diatur dalam AD dan ART Golkar. “Jika bakal calon ketua umum sudah mendapatkan dukungan 50 persen plus 1 dari pemilik suara maka bisa aklamasi,” kata Nurdin Halid, Ketua DPD Sulawesi Selatan, beberapa hari lalu.

Musyawarah sendiri berasal dari bahasa Arab yakni “Syawara” yang bermakna berunding, mengajukan sesuatu atau urun rembuk. Dalam kehidupan modern dan tata negara Indonesia, musyawarah dikenal sebagai “Syuro” yang artinya rembug desa.

Musyawarah mufakat sendiri merupakan suatu upaya bersama dengan sikap yang rendah hati dalam memecahkan persoalan atau mencari jalan keluar untuk mengambil suatu keputusan bersama. Jadi anggapan musyawarah mematikan demokrasi adalah pemahaman yang salah. Bahkan lewat musyawarah mufakat, sebuah organisasi dapat menghindari money politic (politik uang) dalam mengambil keputusan atau memilih seorang pemimpin.

Beberapa partai politik di Indonesia, seperti PDIP, Partai Gerindra, Partai Demokrat dan Partai Nasdem juga sering menggunakan musyawarah mufakat bahkan aklamasi dalam memilih ketua partai. Di partai-partai itu, tak ada gejolak atau perpecahan meski menggunakan musyawarah mufakat atau aklamasi dalam memilih ketua umumnya. Di Golkar hal sama semestinya bisa berlaku.

Menurut Demer Linggih, Plt Ketua DPD 1 Bali juga menyatakan jika kader partai di daerah sudah lelah dalam menghadapi perpecahan yang mungkin bisa timbul setelah pemilihan ketua umum di Golkar. “Kami sudah capek, dengan pemilihan, dengan konflik yang harus terjadi setelah pemilihan. Lebih baik kita satukan energi kita untuk membangun Golkar bersama-sama, tanpa harus ada kompetisi,” kata Demer Linggih kepada media.
(wib)
Berita Terkait
HUT ke-57 Partai Golkar...
HUT ke-57 Partai Golkar Bertema Bersatu untuk Menang
Bahlil Lahadalia Tegaskan...
Bahlil Lahadalia Tegaskan Soliditas Kader di HUT ke-61 Partai Golkar
Persiapan Jelang Perayaan...
Persiapan Jelang Perayaan HUT Ke-61 Partai Golkar
Soal Peluang Golkar...
Soal Peluang Golkar Ubah AD/ART untuk Jokowi Maju Ketum, Aburizal Bakrie: Bisa Saja jika Daerah Mau
Pembukaan Rapimnas Partai...
Pembukaan Rapimnas Partai Golkar
Tasyakuran HUT Ke-57...
Tasyakuran HUT Ke-57 Partai Golkar
Berita Terkini
Berkali-kali Gagal Tes,...
Berkali-kali Gagal Tes, Anak Petani Sumbawa Bangga Dilantik Prabowo Jadi Perwira TNI
42 menit yang lalu
PSN Papua Perkuat Pemerataan...
PSN Papua Perkuat Pemerataan Pembangunan Indonesia
58 menit yang lalu
Bangun Harapan dari...
Bangun Harapan dari Wilayah 3T, PNM Peduli Tingkatkan Fasilitas SD Inpres Wae Moto
59 menit yang lalu
Di Kongres Nasional...
Di Kongres Nasional PMKRI, Sudirman Said Ajak Mahasiswa Bangun Kepemimpinan Intrinsik
1 jam yang lalu
PASTI INDONESIA Dampingi...
PASTI INDONESIA Dampingi Praperadilan dan Ajukan Penangguhan Penahanan Babe Aldo
2 jam yang lalu
Kapal Basarnas Terbakar...
Kapal Basarnas Terbakar di Muara Baru, 14 Unit dan 70 Personel Damkar Dikerahkan
10 jam yang lalu
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved