Penghadangan Kiai Ma’ruf, Gus Ipul: Itu Bukan Karakter Orang Madura
Selasa, 02 April 2019 - 14:28 WIB
Penghadangan Kiai Ma’ruf, Gus Ipul: Itu Bukan Karakter Orang Madura
A
A
A
SURABAYA - Ketua PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyayangkan penolakan dan penghadangan yang dilakukan sekelompok massa terhadap kedatangan cawapres 01 KH Ma'ruf Amin di Pamekasan, Madura. Jika penghadangan ini dibiarkan, Gus Ipul khawatir akan memicu kasus serupa terhadap calon lainnya.
"Kita prihatin sekaligus menyesalkan aksi penghadangan terhadap salah satu calon wakil presiden yang sebenarnya diperbolehkan menurut UU untuk melakukan perjalanan politik ke manapun sesuai ketentuan KPU," kata Gus Ipul pada wartawan, Selasa (2/4/2019).
Karenanya, penghadangan seperti yang terjadi di Pamekasan, Senin 1 April 2019 itu harusnya bisa dicegah sejak awal. "Bila ini terjadi dan dibiarkan, bisa memicu di tempat lain akan terjadi penghadangan serupa bagi calon lain," ujar mantan Wakil Gubernur Jawa Timur dua periode ini.
Seperti diberitakan, Senin 1 April 2019 sore, rombongan Kiai Ma’ruf dihadang massa saat hendak berziarah ke Makam Kiai Suhro, Pamekasan. Demi menghindari bentrokan antarpendukung, Kiai Ma’ruf memilih batal berziarah.
Gus Ipul mengimbau semua pihak, terutama pendukung masing-masing calon bisa menahan diri agar proses demokrasi kali ini bisa berjalan dengan normal dan damai. "Ada sesuatu yang lebih besar yang harus difikirkan bersama pasca Pilpres 17 April. Siapapun presidennya, rakyat ini harus sejahtera dan Indonesia menjadi semakin kuat. Itulah hal yang harus dijaga bersama-sama," tuturnya.
Gus Ipul masih yakin, aksi penolakan terhadap Ma'ruf Amin bukanlah karakter asli masyarakat Madura. Selama ini masyarakat Madura memiliki tradisi kuat menghormati tamu. Bisa dilihat kalau ada tamu pasti orang Madura akan membersihkan rumah, bahkan ada juga yang sampai mengecat rumah.
"Lebih-lebih jika tamunya adalah seorang ulama. Maka itu, ini (kejadian di Pamekasan) aneh, bukan karakter Madura. Mungkin ada kesalahpahaman atau terprovokasi. Ini bukan asli Madura," tandasnya.
"Kita prihatin sekaligus menyesalkan aksi penghadangan terhadap salah satu calon wakil presiden yang sebenarnya diperbolehkan menurut UU untuk melakukan perjalanan politik ke manapun sesuai ketentuan KPU," kata Gus Ipul pada wartawan, Selasa (2/4/2019).
Karenanya, penghadangan seperti yang terjadi di Pamekasan, Senin 1 April 2019 itu harusnya bisa dicegah sejak awal. "Bila ini terjadi dan dibiarkan, bisa memicu di tempat lain akan terjadi penghadangan serupa bagi calon lain," ujar mantan Wakil Gubernur Jawa Timur dua periode ini.
Seperti diberitakan, Senin 1 April 2019 sore, rombongan Kiai Ma’ruf dihadang massa saat hendak berziarah ke Makam Kiai Suhro, Pamekasan. Demi menghindari bentrokan antarpendukung, Kiai Ma’ruf memilih batal berziarah.
Gus Ipul mengimbau semua pihak, terutama pendukung masing-masing calon bisa menahan diri agar proses demokrasi kali ini bisa berjalan dengan normal dan damai. "Ada sesuatu yang lebih besar yang harus difikirkan bersama pasca Pilpres 17 April. Siapapun presidennya, rakyat ini harus sejahtera dan Indonesia menjadi semakin kuat. Itulah hal yang harus dijaga bersama-sama," tuturnya.
Gus Ipul masih yakin, aksi penolakan terhadap Ma'ruf Amin bukanlah karakter asli masyarakat Madura. Selama ini masyarakat Madura memiliki tradisi kuat menghormati tamu. Bisa dilihat kalau ada tamu pasti orang Madura akan membersihkan rumah, bahkan ada juga yang sampai mengecat rumah.
"Lebih-lebih jika tamunya adalah seorang ulama. Maka itu, ini (kejadian di Pamekasan) aneh, bukan karakter Madura. Mungkin ada kesalahpahaman atau terprovokasi. Ini bukan asli Madura," tandasnya.
(poe)