Jelang Natal dan Tahun Baru, Harga Pangan di DKI Stabil
Kamis, 13 Desember 2018 - 00:04 WIB
Jelang Natal dan Tahun Baru, Harga Pangan di DKI Stabil
A
A
A
JAKARTA - Stabilitas stok dan harga pangan di Jakarta jelang Natal dan Tahun Baru 2019 dipastikan aman. Telur dan daging yang akan mengalami kenaikan segera diantisipasi.
Inspektur Jenderal Kementerian Perdagangan, Sri Agustina mengatakan, melalui rapat koordinasi untuk ketersediaan pasokan dan stabilitas harga kebutuhan pokok untuk wilayah DKI Jakarta, pihaknya melihat harga dan kebutuhan pokok jelang Natal dan Tahun Baru 2019 cukup stabil. Bahkan, dari 12 komoditi, harga bawang putih mengalami penurunan.
Memang, kata Sri ada harga komoditi yang naik seperti bawang merah, telur dan daging. Namun, kenaikanya masih berada di kisaran harga acuan. Harga acuan bawang merah saat ini Rp32.000 dan sekarang harga rata-rata bawang merah masih dikisaran Rp28.000. Jadi tidak terlalu masalah dan aman.
"Nah apa yang harus kita antisipasi ke depan? Yang kita antisipasi adalah harga telur dan daging ayam. Kami telah rapat dengan jajaran Pemprov DKI, kita akan berupaya terus agar harga input untuk telur dan daging ayam tadi itu bisa lebih rendah. Sehingga harga di tingkat konsumen itu juga bisa dikawal terus, tidak naik terlalu tinggi," kata Sri Agustina di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu 12 Desember 2018.
Kepala Dinas Usaha Mikro Kecil dan Menengah DKI Jakarta, Adi Adiantara menuturkan, stok pangan beras saat ini sebanyak 513 ribu ton, sementara kebutuhan per hari sebesar 3.000 ton. Namun, kata dia, harus ada output dan input yang harus dijaga.
"Bagaimana input stok ini tetap terjaga. Yang kedua bagaimana suplai dari daerah untuk kebutuhan lain itu terjaga. Kita tahu di akhir musim ini, musim penghujan, jalur-jalur distribusi utama mungkin aman. Tapi jalur distribusi yang kecil ini harus kita jaga," ungkapnya.
Adi berharap, pemerintah pusat melalui kementerian, bisa menjaga koordinasi dengan pihak-pihak daerah lain untuk jalur distribusi. Sebab, ada tiga komoditi yang sangat berpengruh terhadap cuaca. Diantaranya yaitu, komoditi sayuran yang hanya satu hari, bawang tiga hari dan ada juga yang lebih dari satu minggu seperti kentang.
Menurutnya, hal yang perlu di jaga adalah komoditi yang lebih dari tiga hari seperti bawang karena walaupun bawang kelihatannya tidak berpengaruh, tapi ini akan memengaruhi harga pangan.
Dari pengalaman beberapa tahun terakhir, bahkan dari data 16 tahun belakangan ini, lanjut Adi, untuk Natal dan tahun baru kita komoditi relatif bisa terjaga denga pola menjaga jalur distribusi.
"Telur dan daging ayam, teman-teman Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Food Station, Dharma Jaya dan Bukit masih punya stok. Sementara kalau suplai cukup, saya pikir demand masih terjaga," katanya.
Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike meminta, Pemprov DKI benar-benar memantau dan mengawasi kenaikan harga pangan jelang libur Natal dan tahun baru. Sebab, pada tahun sebelumnya, kenaikan harga masih tetap terjadi pada saat libur Natal dan pergantian tahun.
"Meski naiknya tidak melebihi harga acuan, harga kebutuhan pokok tentunya membebankan kebutuhan hidup masyarakat," pungkasnya.
Inspektur Jenderal Kementerian Perdagangan, Sri Agustina mengatakan, melalui rapat koordinasi untuk ketersediaan pasokan dan stabilitas harga kebutuhan pokok untuk wilayah DKI Jakarta, pihaknya melihat harga dan kebutuhan pokok jelang Natal dan Tahun Baru 2019 cukup stabil. Bahkan, dari 12 komoditi, harga bawang putih mengalami penurunan.
Memang, kata Sri ada harga komoditi yang naik seperti bawang merah, telur dan daging. Namun, kenaikanya masih berada di kisaran harga acuan. Harga acuan bawang merah saat ini Rp32.000 dan sekarang harga rata-rata bawang merah masih dikisaran Rp28.000. Jadi tidak terlalu masalah dan aman.
"Nah apa yang harus kita antisipasi ke depan? Yang kita antisipasi adalah harga telur dan daging ayam. Kami telah rapat dengan jajaran Pemprov DKI, kita akan berupaya terus agar harga input untuk telur dan daging ayam tadi itu bisa lebih rendah. Sehingga harga di tingkat konsumen itu juga bisa dikawal terus, tidak naik terlalu tinggi," kata Sri Agustina di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu 12 Desember 2018.
Kepala Dinas Usaha Mikro Kecil dan Menengah DKI Jakarta, Adi Adiantara menuturkan, stok pangan beras saat ini sebanyak 513 ribu ton, sementara kebutuhan per hari sebesar 3.000 ton. Namun, kata dia, harus ada output dan input yang harus dijaga.
"Bagaimana input stok ini tetap terjaga. Yang kedua bagaimana suplai dari daerah untuk kebutuhan lain itu terjaga. Kita tahu di akhir musim ini, musim penghujan, jalur-jalur distribusi utama mungkin aman. Tapi jalur distribusi yang kecil ini harus kita jaga," ungkapnya.
Adi berharap, pemerintah pusat melalui kementerian, bisa menjaga koordinasi dengan pihak-pihak daerah lain untuk jalur distribusi. Sebab, ada tiga komoditi yang sangat berpengruh terhadap cuaca. Diantaranya yaitu, komoditi sayuran yang hanya satu hari, bawang tiga hari dan ada juga yang lebih dari satu minggu seperti kentang.
Menurutnya, hal yang perlu di jaga adalah komoditi yang lebih dari tiga hari seperti bawang karena walaupun bawang kelihatannya tidak berpengaruh, tapi ini akan memengaruhi harga pangan.
Dari pengalaman beberapa tahun terakhir, bahkan dari data 16 tahun belakangan ini, lanjut Adi, untuk Natal dan tahun baru kita komoditi relatif bisa terjaga denga pola menjaga jalur distribusi.
"Telur dan daging ayam, teman-teman Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Food Station, Dharma Jaya dan Bukit masih punya stok. Sementara kalau suplai cukup, saya pikir demand masih terjaga," katanya.
Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike meminta, Pemprov DKI benar-benar memantau dan mengawasi kenaikan harga pangan jelang libur Natal dan tahun baru. Sebab, pada tahun sebelumnya, kenaikan harga masih tetap terjadi pada saat libur Natal dan pergantian tahun.
"Meski naiknya tidak melebihi harga acuan, harga kebutuhan pokok tentunya membebankan kebutuhan hidup masyarakat," pungkasnya.
(mhd)