Marak Prostitusi, Polda Metro Akan Panggil Pengelola Apartemen Kalibata
Jum'at, 10 Agustus 2018 - 21:14 WIB
Marak Prostitusi, Polda Metro Akan Panggil Pengelola Apartemen Kalibata
A
A
A
JAKARTA - Polda Metro Jaya segera memanggil pengelola Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan, terkait banyaknya pelaku prostitusi yang menggunakan lokasi tersebut. Dalam hal ini, data yang dimiliki sudah ada lima kali pengungkapan kasus di lokasi tersebut.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Nico Afinta mengatakan, dalam waktu dekat ini penyidik segera memanggil pengelola apartemen kalibata City terkait kasus prostitusi yang memang marak di apartemen yang terletak dekat dengan TMP Kalibata tersebut. Menurut Nico, sejauh ini pengawasan memang sulit dilakukan mengingat penghuni yang memang jarang bersosialisasi.
Selain itu, banyak juga justru unit yang digunakan oleh pelaku prostitusi adalah hasil menyewa.“Jadi selain pengelola kami juga akan memanggil pemilik unit,” kata Nico pada wartawan Jumat (10/8/2018).
Dia menuturkan, pemiliknya nanti akan dimintai pertanggungjawaban dan guna mengetahui apakah pemilik tahu atau tidak unitnya digunakan untuk prostitusi. “Kan ada sewa bulanan, beda dengan sewa harian. Kalau pemilik sewakan harian ada indikasi dia melanggar peraturan. Ada indikasi dia mengetahui terhadap pelacuran ini bisa kena," tuturnya.( Baca: Prostitusi di Kalibata, Anak di Bawah Umur Jadi PSK dan Pelanggan )
Sejauh ini, pihaknya masih melakukan pendalaman apakah ada atau tidak keterlibatan pengelola Apartemen Kalibata City dalam kasus ini. Bila terbukti terlibat, pengelola pun akan ditindak."Kami tidak hanya menegur. Siapa yang salah kami proses," tegasnya.
Sejauh ini, sebanyak 17 unit apartemen yang digunakan untuk bisnis prostitusi di sana masih disegel polisi. Hal itu dilakukan karena polisi masih terus melakukan pengembangan kasus. "Kalau misal pemeriksaan sudah selesai, kami kembalikan. Karena kadang-kadang antara pemilik dan orang yang menyewa berbeda, sehingga proses penyegelan itu semata-mata dalam rangka penyelidikan," katanya.
Salah satu penghuni Andi mengakui selama ini tempat tinggalnya itu memang banyak kesan negatifnya. Selain banyaknya penggerebekan terhadap prostitusi banyak juga justru yang memang menjadi wanita simpanan. “Banyak informasi sih, saya juga tahu ada beberapa yang memang mereka simpanan,” ujarnya.
Menurutnya, walaupun ada perkumpulan tapi banyak juga yang jsutru tidak bergaul. Karena, hidup di lokasi tersebut kebanyakan masyarakatnya memang individualistis. “Kalau pengawasan memang sulit, walaupun ada satpam tapi percuma saja,” ucapnya.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Nico Afinta mengatakan, dalam waktu dekat ini penyidik segera memanggil pengelola apartemen kalibata City terkait kasus prostitusi yang memang marak di apartemen yang terletak dekat dengan TMP Kalibata tersebut. Menurut Nico, sejauh ini pengawasan memang sulit dilakukan mengingat penghuni yang memang jarang bersosialisasi.
Selain itu, banyak juga justru unit yang digunakan oleh pelaku prostitusi adalah hasil menyewa.“Jadi selain pengelola kami juga akan memanggil pemilik unit,” kata Nico pada wartawan Jumat (10/8/2018).
Dia menuturkan, pemiliknya nanti akan dimintai pertanggungjawaban dan guna mengetahui apakah pemilik tahu atau tidak unitnya digunakan untuk prostitusi. “Kan ada sewa bulanan, beda dengan sewa harian. Kalau pemilik sewakan harian ada indikasi dia melanggar peraturan. Ada indikasi dia mengetahui terhadap pelacuran ini bisa kena," tuturnya.( Baca: Prostitusi di Kalibata, Anak di Bawah Umur Jadi PSK dan Pelanggan )
Sejauh ini, pihaknya masih melakukan pendalaman apakah ada atau tidak keterlibatan pengelola Apartemen Kalibata City dalam kasus ini. Bila terbukti terlibat, pengelola pun akan ditindak."Kami tidak hanya menegur. Siapa yang salah kami proses," tegasnya.
Sejauh ini, sebanyak 17 unit apartemen yang digunakan untuk bisnis prostitusi di sana masih disegel polisi. Hal itu dilakukan karena polisi masih terus melakukan pengembangan kasus. "Kalau misal pemeriksaan sudah selesai, kami kembalikan. Karena kadang-kadang antara pemilik dan orang yang menyewa berbeda, sehingga proses penyegelan itu semata-mata dalam rangka penyelidikan," katanya.
Salah satu penghuni Andi mengakui selama ini tempat tinggalnya itu memang banyak kesan negatifnya. Selain banyaknya penggerebekan terhadap prostitusi banyak juga justru yang memang menjadi wanita simpanan. “Banyak informasi sih, saya juga tahu ada beberapa yang memang mereka simpanan,” ujarnya.
Menurutnya, walaupun ada perkumpulan tapi banyak juga yang jsutru tidak bergaul. Karena, hidup di lokasi tersebut kebanyakan masyarakatnya memang individualistis. “Kalau pengawasan memang sulit, walaupun ada satpam tapi percuma saja,” ucapnya.
(whb)